Pintar Vs Hikmat

NYANYIAN PEMBUKA
KJ 405 – KAULAH, YA TUHAN, SURYA HIDUPKU
Syair: Be Thou My Vision, Eleanor H. Hull, 1912, berdasarkan nyanyian Irlandia abad ke-8,
Terjemahan: Yamuger, 1980,
Lagu: Tradisional Irlandia
 
Kaulah, ya Tuhan, Surya hidupku;
asal Kau ada, yang lain tak perlu.
Siang dan malam Engkau kukenang;
di hadiratMu jiwaku tenang!
 
Kaulah Hikmatku, Firman hidupku;
Kau besertaku dan ‘ku sertaMu.
Engkau Bapaku, aku anakMu;
denganMu, Tuhan, ‘ku satu penuh.

 

DOA PEMBUKA

BACAAN ALKITAB      

1 RAJA-RAJA 4:29-34

 

RENUNGAN

Kalau ditanya apa beda pintar dengan hikmat? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan ini: Pintar adalah mengetahui bahwa tomat secara botani adalah buah; sedangkan berhikmat adalah memilih untuk tidak memasukkan tomat ke dalam salad buah. Contoh lain: orang pintar bisa menemukan celah dalam aturan perusahaan, atau hukum untuk meraup keuntungan maksimal. Sedangkan orang berhikmat juga menyadari ada celah tersebut, namun memilih untuk tidak memanfaatkannya. Ia tahu hal tersebut akan merugikan orang lain dan integritas di hadapan Tuhan lebih penting dari keuntungan materi.

Di era digital dan AI menjadi pintar tidak pernah semudah saat ini. Kita punya mesin pencari, kecerdasan buatan, dan lautan data yang bisa menjawab semua pertanyaan dalam hitungan detik. Namun apakah di tengah informasi yang melimpah ini otomatis menjadi berhikmat? Belum tentu dan seringkali tidak. Kita bisa mengetahui banyak hal namun apakah bisa mengambil keputusan yang tepat? Kepintaran bisa diunduh dan dihafal, namun hikmat harus dihidupi. Karena hikmat adalah kemampuan hati dan pikiran untuk memakai pengetahuan itu secara benar, adil dan bijaksana.

Dalam 1 Raja-raja 4:29-34 tentang kisah Raja Salomo yang ditunjukkan memiliki kepintaran luar biasa. Ia menggubah 3000 amsal dan 1005 nyanyian. Ia juga ahli botani, dan zoologi kuno yang mampu mengurai tentang segala jenis pohon dan hewan. Namun yang menarik adalah bahwa pondasi yang paling utama adalah bahwa Allah memberikan hikmat dan pengertian yang amat besar kepada Salomo. Kita melihat bahwa Allah memberikan hikmat dan keluasan hati. Pengetahuan salomo tidak menjadikannnya sombong atau tumpul secara nurani. Ia menggunakan kapasitas diri untuk memerintah dengan adil, menyelesaikan konflik dan memberikan jalan keluar. Kepintarannya dituntun oleh hikmat dari Allah.

Kepintaran tanpa hikmat bisa menjadi hal yang merusak. Tidak sedikit orang pintar jatuh dan hancur karena tidak berhikmat dalam mengontrol ambisi, emosi dan kata-kata. Hikmat bersumber dari relasi yang erat dengan Tuhan yang berdampak pada penguasaan diri dan manfaat bagi sesama. Maka kepintaran bukan menjadi senjata yang menghancurkan kehidupan, namun dengan tuntunan hikmat Tuhan, setiap orang beriman akan memberi kehidupan – menghadirkan shalom.

Kepintaran bisa membantu mendapatkan pekerjaan yang baik, namun hikmat yang memampukan kita membangun kehidupan lebih baik. Kepintaran membuat kita diakui oleh manusia, tapi berhikmat membuat hidup kita berkenan di hadapan Tuhan.

Selamat berhikmat. Amin.

 

DOA SYAFAAT

  • Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
  • Gereja yang memberdayakan jemaat dan masyarakat.  
  • Peperangan dan konflik antar bangsa segera berakhir serta terwujud damai sejahtera
     

NYANYIAN PENUTUP
NKB 177 – ‘KU CARI SUATU PANJI
Syair dan lagu: A Flag to Follow; John W. Peterson,
Terjemahan: Tim Nyanyian GKI,
Hak Cipta: Singspiration, Inc.
 
‘Ku cari suatu panji ‘kan ‘ku iring tetap,
dan pandu yang berani, takutku ‘kan lenyap.
‘Ku cari kesempatan mencoba dayaku,
yang dapat memuaskan dahaga jiwaku.
Refrein:
Di dalam Yesus Tuhan ‘ku mendapatkannya;
tetaplah ‘ku berjalan t’rus di bawah panjiNya.
 
‘Ku cari jawab pasti, penawar raguku;
dan suluh yang memandu setiap langkahku.
‘Ku cari tutur hikmat, yang kuasanya besar
supaya makna hidup tersingkaplah benar.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga