Hikmat yang Berakar dalam Firman dan Nyata dalam Kasih

Saat Teduh

 

Nyanyian Umat

PKJ 138 – SETIAMU, TUHANKU, TIADA BERTARA

SetiaMu, Tuhanku, tiada bertara,
di kala suka, di saat gelap.
KasihMu, Allahku, tidak berubah,
Kaulah Pelindung abadi, tetap.

Refrein:
SetiaMu, Tuhanku, mengharu hatiku,
setiap pagi bertambah jelas.
Yang kuperlukan tetap Kau berikan,
sehingga akupun puas lelas. 

Musim bertanam dan musim tuaian,
surya, rembulan di langit cerah,
bersama alam memuji, bersaksi
tentang setiaMu tak bercela.

 

Doa Pembuka – Dipimpin seorang anggota keluarga

Pembacaan Mazmur = Mazmur 119: 121-128
(Dibaca secara bergiliran oleh seluruh anggota keluarga)

Bacaan 1 = 1 Raja-raja 3:16-28
(Dibaca secara bergiliran oleh seluruh anggota keluarga)

Bacaan 2 = Yakobus 3:12-18
(Dibaca oleh salah satu anggota keluarga)

 

Renungan

Di tengah dunia yang sering kali meremehkan kebenaran dan menganggap hukum Allah tidak lagi relevan, kita dipanggil untuk memiliki hikmat yang berakar kuat pada Firman Tuhan. Mazmur mengingatkan kita bahwa hikmat sejati dimulai dari rasa cinta yang mendalam terhadap perintah-perintah Allah, memandangnya jauh lebih berharga daripada emas murni.

Ketika iman kita didasarkan pada ketetapan Tuhan yang sempurna dan tidak pernah salah, hati kita dibentuk untuk mencintai keadilan serta membenci setiap jalan dusta. Hikmat bukanlah sekadar kepintaran intelektual, melainkan penyerahan diri seorang hamba yang mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya jaminan dan pembela di tengah tantangan zaman.

Hikmat yang berasal dari Tuhan tersebut bukanlah teori abstrak, melainkan sebuah “hikmat yang hidup” yang diuji dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Dalam 1 Raja-raja 3:16-28, Raja Salomo menunjukkan bahwa hikmat sejati memampukan kita untuk mendengarkan dengan saksama, menguji kedalaman hati, dan berani mengambil keputusan yang benar di tengah dilema yang rumit.

Lebih dari itu, penghakiman Salomo menyingkapkan bahwa hikmat sejati selalu berkaitan erat dengan kasih yang berkorban, seperti teladan ibu sejati yang rela mengalah dan kehilangan haknya demi menyelamatkan nyawa anak yang dicintainya.

Kasih yang berkorban dan kerendahan hati inilah yang membedakan hikmat Allah dari ambisi duniawi yang penuh dosa. Sesuai dengan pesan Yakobus 3:12-18, hikmat yang datang dari atas adalah hikmat yang murni, pendamai, peramah, dan khususnya mau mengalah demi kebaikan bersama. Orang yang hidup dalam hikmat surgawi tidak terjebak dalam kemunafikan atau sikap memandang bulu, melainkan senantiasa memancarkan belas kasihan. Mereka menjadi pembawa damai yang menaburkan benih kebenaran di tengah lingkungan yang rapuh.

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa dengan kekuatan sendiri, kita sering kali gagal menghidupi standar hikmat surgawi yang mulia ini. Karena itu, pandangan kita harus senantiasa tertuju kepada Yesus Kristus, Sang Hikmat Allah yang sejati, yang telah menjadi Jaminan sempurna bagi kita dan merendahkan diri-Nya hingga mati di salib atas dasar kasih yang mengorbankan diri. Ketika kita tinggal di dalam Kristus, Dia tidak hanya mengampuni kelemahan kita, tetapi Roh-Nya juga memampukan kita untuk menghidupi iman serta hikmat yang nyata, memancarkan damai sejahtera bagi kemuliaan nama-Nya.

 

Doa Bersama
(Dipimpin secara bergantian antara anggota keluarga)

Doakan agar setiap anggota keluarga dapat mengandalkan Hikmat dari Allah untuk menjaga berkat yang telah diberikan di dalam kehidupan sehari-hari.

Doakan agar jemaat Tuhan dan masyarakat sekitar agar sadar untuk memelihara bumi yang telah diberikan Allah, seperti dimulai dengan membuang sampah pada tempatnya.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga