Benar Atau Tidak Benar? Semoga Kita Berhikmat

Saat teduh

Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya

 

Nyanyian Umat          

NKB 3 “Terpujilah Allah“

 

Terpujilah Allah, hikmat-Nya besar,
begitu kasih-Nya ‘tuk dunia cemar,
sehingga dib’rilah Putra-Nya Kudus
mengangkat manusia serta menebus.

Pujilah, pujilah! Buatlah dunia bergemar,
bergemar mendengar suara-Nya.
Dapatkanlah Allah demi Putra-Nya,
b’ri puji pada-Nya sebab hikmat-Nya.

 

Dan darah Anak-Nyalah yang menebus
mereka yang yakin ‘kan janji kudus;
dosanya betapapun juga keji,
dihapus oleh-Nya, dibasuh bersih.

 

 

Bacaan I: Amsal 3.13-18

Pesan yang penting dalam perikop ini

Hikmat melebihi apapun di dunia. Dengannya kita bisa menghadapi berbagai situasi kehidupan dan mendapatkan solusi yang menentramkan. Mau hikmat atau kekayaan?

 

Doa Pembuka

Dipimpin seorang anggota keluarga

 

Mazmur 102.1-17

Bacalah bagian ini dengan beberapa cara

  1. Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
  2. Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
  3. Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan

 

Bacaan II: Yohanes 8.31-38

Pesan melalui perikop 

 

Yesus bicara tentang kebenaran yang memerdekakan. Jika seseorang hidup dalam kebenaran-Nya, maka ia akan bebas. Bukan bebas yang sementara dan palsu, melainkan bebas yang sesungguhnya, yakni keadaan tidak terikat. Kebenaran yang dimaksud Yesus adalah diri-Nya sendiri; jika seseorang mengikut-Nya, maka ia menerima kemampuan menyikapi gejala kehidupan dengan bijak. Artinya ia tidak takut melakukan kesalahan, karena diajari bagaimana hidup secara benar dan menjauhi kesalahan. Ia melakukan sesuatu bukan karena takut dihukum, tapi, sama seperti Yesus, karena menyadari yang dilakukannya akan mendatangkan kebaikan.

Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).

Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:

  • Siapkah kita melakukan hal-hal benar? Atau kita masih ingin mencoba melakukan hal-hal yang menyenangkan hati betapapun hal itu kita ketahui salah dan merusak?

 

Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:

  • Kebebasan membuat kita sanggup melakukan banyak hal; namun jika kita tidak terhubung dengan Yesus, kita tidak tahu apa yang perlu kita lakukan. Maukah kita terus berusaha menghubungkan diri dengan Yesus?

 

Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:

  • Apakah saya hanya “percaya”, atau sungguh tinggal dalam firman?
  • Dalam hal apa saya masih merasa bebas, tetapi sebenarnya terikat dosa?
  • Apakah hidup saya mencerminkan anak Allah atau masih seperti hamba?

 

Doa Bersama

Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:

  • Agar kita boleh menyerahkan diri dipimpin kebenaran dalam setiap langkah kita

 

Nyanyian Umat

NKB 84 ”Kub’rikan Bagimu, Tubuhku, Darahku”

 

Di mana-mana, setiap kerja
‘kan ‘ku lakukan demi nama-Nya.
Rela menanggung sengsara pedih,
‘ku ikut Yesus, ‘ku pikul salib.

 

Ya Yesus, ‘Kau kurbankan darah-Mu bagiku;
‘ku b’ri masa depanku dan hidup bagi-Mu.
Hatiku ‘ku serahkan menjadi takhta-Mu.
Kuminta, kuasailah… seluruh hidupku.

 

Memuji Yesus dengan hidupku
mau berkenan pada Dia penuh,
ikut mencari yang hilang sesat,
bawa pada-Nya yang susah penat.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga