Lakukan Saja, Jangan Diseleksi

Saat Teduh

 

Nyanyian Pembuka 

 

PERINTAH BARU

(PKJ 275)

 

Perintah baru Kuberi padamu,

Agar di antara kamu saling mengasihi

Sama seperti Aku mengasihimu,

Sehingga orang akan tahu engkau murid-Ku,

Jikalau saling mengasihi.

Sehingga orang akan tahu engkau murid-Ku,

Jikalau saling mengasihi.

 

Pembacaan Kitab Mazmur 119:41-48

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

 

Doa Pembuka dan Firman

(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)

Pembacaan Alkitab

Perjanjian Lama   : Ulangan 6:1-9, 20-25

Perjanjian Baru    : Yakobus 2:8-13

 

Renungan 

    Seleksi adalah sebuah upaya untuk memilah dan menyaring segala sesuatu sesuai dengan apa yang telah kita tetapkan sebelumnya. Dalam situasi tertentu, seleksi sangat dibutuhkan agar kita bisa terhindar dari sesuatu yang tidak tepat, tidak layak, atau yang membahayakan kehidupan. Hal ini pada dasarnya bukanlah sesuatu yang buruk, sebab dengan melakukan seleksi, sejatinya kita sedang berupaya untuk memperoleh sesuatu yang terbaik, yang unggul, dan berguna bagi kita. Namun, semua kembali pada apa yang kita seleksi dan tujuan apa yang kita mau capai darinya.

     Di dalam kehidupan ini, terkadang tanpa kita sadari, kita menerapkan hal itu justru pada sesuatu yang tidak seharusnya kita seleksi. Misalnya berkait dengan firman Tuhan atau hukum Tuhan. Betapa sering kita masih menjumpai kenyataan bagaimana anak-anak Tuhan justru melakukan seleksi terhadap apa yang Tuhan ajarkan kepadanya. Tujuannya supaya dirinya tidak menjadi terbebani dengan sesuatu yang dianggap berat dan sulit. Hal itulah yang juga terjadi dalam kehidupan umat Tuhan di masa lalu. Surat Yakobus 2:8-13 memberikan gambaran kepada kita tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan umat yang menjadi sasaran surat ini. 

     Melalui apa yang disampaikan oleh Yakobus dalam suratnya ini menunjukkan bagaimana cara mereka hidup sebagai umat Tuhan di tengah komunitas mereka. Praktik kehidupan yang mereka tampilkan bukanlah praktik kehidupan yang sejalan dengan apa yang Tuhan kehendaki. Mereka melakukan seleksi ketika mereka menerapkan kasih persaudaraan dalam komunitas mereka. Sikap mereka terhadap orang lain ditentukan dari penilaian mereka terhadap orang itu. Sebuah penilaian yang didasarkan pada kepemilikan, bukan berangkat dari kasih persaudaraan. Ketika ada seorang yang bergabung dan dia orang yang kaya, maka mereka menghormati orang tersebut sedemikian rupa dan memberi tempat yang layak baginya. Sementara ketika yang datang adalah seorang yang tidak punya atau orang miskin, maka penerimaan yang mereka tunjukkan adalah penerimaan yang ala kadarnya. Mereka membuat pembedaan dalam menyikapi orang kaya dan orang miskin. Orang yang kaya harus dihormati, orang yang miskin biarkan saja. Orang yang berkuasa diberi tempat terdepan, yang masyarakat biasa di tempatkan di belakang. (Yak. 2:2-4) Bukankah pola tindakan yang seperti ini masih juga banyak kita jumpai dalam kehidupan kita sekarang ini? Membedakan orang berdasarkan kepemilikan dan kekayaan. 

    Yakobus menegur sikap yang seperti ini. Bagi Yakobus, persoalan ini bukan semata-mata soal sikap yang kita tampilkan di muka, melainkan ini soal pemahaman yang mendasari kita dalam bersikap. Kadang kala kita berpikir bahwa yang penting saya sudah mengasihi. Kalaupun kadang kasih saya kepada orang lain, saya bedakan berdasarkan penilaian saya termasuk penilaian yang didasarkan pada kepemilikan, maka itu bukan sebuah kesalahan atau dosa. Kita memegang hukum kasih kepada sesama, tetapi kita membuat pembedaan sesuai dengan selera kita dan itu bukan . Yokobus menegur cara pandang yang seperti itu. Ia mengatakan, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (Yak. 2:10) 

    Dalam hal ini, Yakobus hendak mengingatkan bahwa tidak seharusnya kita melakukan seleksi terhadap setiap perintah Tuhan dalam kehidupan kita. Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengasihi, bukan berarti Ia membiarkan kita untuk berzinah, membunuh, mengucapkan saksi dusta, dan sebagaimana. Semua perintah yang Tuhan ajarkan itu merupakan satu kesatuan yang saling mendukung. Mengabaikan yang satu berarti merusak yang lain. Ketika Tuhan meminta kita untuk mengasihi sesama, maka pada saat yang sama Tuhan juga meminta kita untuk menjaga diri agar kita tidak menyakiti orang lain, tidak menutup jalan kehidupannya, tidak mengkhianati orang lain, dan tetap jujur kepada mereka. Tidak ada yang boleh diseleksi berdasarkan keinginan dan kemauan kita sendiri. Sebab, sebagaimana dikatakan dalam kitab Ulangan 6:1-9, 20-25 bahwa semua ketetapan atau perintah Tuhan itu bertujuan untuk membuat kehidupan kita menjadi kehidupan yang lebih baik, sehingga kita bisa hidup dalam damai dan sejahtera. Amin.

 

Mengisi Jurnal Keluarga

(setelah merenungkan firman Tuhan, keluarga diberi kesempatan untuk mengisi jurnal keluarga)

 

Nyanyian Penutup

 

DAMAI DI DUNIA

(PKJ 267)

 

Damai di dunia dan kitalah dutanya.

Damai sejahtera, amalkanlah maknanya,

Allah, Bapa kita, kita anak-Nya,

Rukun bersaudara penuh bahagia.

Damai di dunia dan inilah saatnya.

Ucapkan ikrarmu, jalankan perintahNya,

Setiap kata dan karya kita memujiNya.

Damai di dunia, kini dan selamnya.

Kini dan selamanya.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga