Hati-hati Menghujat Roh Kudus, Bahaya!
Saat teduh
Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya
Nyanyian Umat
“Lingkupiku”
dinyanyikan 2x
Lingkupiku dengan sayap-Mu
Naungiku dalam kuasa-Mu
Di saat badai bergelora
Ku akan terbang bersama-Mu
Bapa Kau raja atas semesta
Ku tenang sbab Kau Allahku
Bacaan I: Yeremia 17.5–18
Pesan yang penting dalam perikop ini
Berkat dan kehidupan sejati diperoleh ketika seseorang menaruh kepercayaan penuh kepada Tuhan, bukan kepada kekuatan manusia, karena Tuhan mengenal hati manusia dan menjadi sumber keselamatan bagi mereka yang berharap kepada-Nya
Doa Pembuka
Dipimpin seorang anggota keluarga
Mazmur 17
Bacalah bagian ini dengan beberapa cara
- Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
- Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
- Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan
Bacaan II: Matius 12.22-32
Pesan melalui perikop
Yesus bekerja dengan kuasa Roh Allah untuk menghadirkan Kerajaan Allah, sehingga setiap orang harus menerima-Nya dan tidak menolak atau menghujat karya Roh Kudus.
Menghujat Roh Kudus atau karya-Nya bukan berarti kita tidak percaya kepada Yesus alias beragama non-kristen. Menghujat Roh Kudus artinya kita tidak percaya ada kebenaran yang hakiki atau mutlak dalam Tuhan. Hal ini membuat kita tidak berorientasi pada kebenaran, melainkan pada diri sendiri, menjadikan diri sebagai pusat dari segala sesuatu. Ini sangat berbahaya!
Mari kita melihatnya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).
Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:
- Seberapa seringkah kita berinteraksi dengan Tuhan?
- Apakah kita takut akan Tuhan, dalam arti kita menganggap ketentuan atau ajaran-Nya harus kita jadikan sebagai pegangan yang mengikat hidup kita?
Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:
- Apa yang kita rasakan tentang peraturan Tuhan? Layak diikuti dan dipatuhikah? Atau hanya mengada-ada saja? – bandingkan dengan dasatitah (Keluaran 20.1-17)
Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:
- Maukah kita menuruti dan melakukan apa yang diajarkan dan diperintahkan Tuhan?
- Dari skala 1-10, seberapa kuat keinginan memberlakukan perintah (firman) Tuhan itu ada dalam pikiran dan perasaan kita?
Doa Bersama
Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa sebagai berikut:
- Setiap pelayan Tuhan kiranya dipenuhi hikmat dalam melayani, bukan sekadar ingin terlibat dalam kegiatan pelayanan
Nyanyian Umat
”Persembahan Hati”
Siapa yang berpegang pada sabda Tuhan
dan setia mematuhinya,
hidupnya mulia dalam cah’ya baka
bersekutu dengan Tuhannya.
Percayalah dan pegang sabda-Nya:
hidupmu dalam Yesus sungguh bahagia!
Kasih-Nya yang kekal takkan kita kenal
sebelum pada-Nya berserah.
Hidup bahagia disediakan-Nya
bagi yang berpegang pada-Nya.

Komentar Anda