Paidjo Comes Back

Hai…hai…hai…

Pembaca cermin yang setia,

Minggu ini kisah Paidjo kembali menyapa kita.

Semoga kisah kali ini tetap dapat memberi kita pencerahan dan pelajaran moral yang berharga, ya.

Jadi begini kisahnya …

Hari Minggu kemarin, di tengah kesibukannya, Paidjo menyempatkan diri untuk tetap beribadah di gereja. Sebagai orang beriman yang taat, setia, baik hati, dan penuh tanggung jawab, ia memang berusaha menjaga kebiasaan itu. Kali ini, ia tidak pergi ke gerejanya sendiri melainkan ke gereja tetangga yang terletak di kampung sebelah.

Ini kali pertama ia tidak beribadah di gereja sendiri. Maklum Paidjo tergolong orang yang unik. Tetapi sekalipun ia unik, ia termasuk tipe manusia yang memiliki kesetiaan yang tinggi. Buktinya kalau ia sudah nyaman di satu tempat maka dengan tidak mudah untuk berpindah ke tempat lain.

Kalau kali ini dia pergi ke gereja lain, itu karena alasan ingin mendapatkan penyegaran. Ia jenuh dengan model ibadah yang dilakukan di gerejanya, ia jenuh dengan khotbah-khotbah yang disampaikan pendetanya; ia ingin mendapatkan suasana dan sesuatu yang baru.

“Kalau kita ada dalam kejenuhan, sejenak menikmati rumput tetangga nggak apa apa kan? Masa sih kalau kita lagi bosen nggak boleh pergi ke gereja lain? Kita kan butuh penyegaran… Pasti bolehlah… ini kan nggak dosa…” begitulah pergulatan sengit yang terjadi dalam batin Paidjo.

Namun, sesengit apa pun pergulatan itu, Paidjo akhirnya berhasil memantapkan diri untuk pergi juga ke sana. Ia berkata dalam hatinya,“Tuhan kan tidak hanya ada di gereja kita saja… Ia ada di mana-mana, termasuk di gereja tetangga. Kalau kita pergi ke sana pasti kita juga akan berjumpa dengan Dia di sana.

Nah, menariknya di sini. Namanya pergi ke rumah tetangga, maka apa yang terjadi di rumah tetangga itu pastilah tidak sama dengan apa yang biasanya terjadi dan dilakukan di rumah kita sendiri. Termasuk cara beribadah, alur liturgi, warna musik yang digunakan, dan tema khotbah yang disajikan.

Minggu kemarin, bertepatan pendeta yang berkhotbah di gereja itu sedang membicarakan persoalan yang menyangkut isu sosial yang akhir-akhir ini sedang dihadapi di kampung itu. Ketika mendengar khotbah itu, Paidjo berkata dalam hatinya,

“Ini khotbah apa sih? Ngapain juga pendeta berkhotbah seperti ini? Ini kan bukan balai pertemuan warga, kenapa dia ngomong seperti itu di sini?” Batinnya terus bergejolak sepanjang khotbah disampaikan. Dia merasa tidak nyaman dengan khotbah itu.

Setelah ibadah selesai. Paidjo meminta waktu untuk bertemu dengan pendeta. Setelah memperkenalkan dirinya, Paidjo berkata,“Maaf ya pendeta, saya mau tanya. Jujur, saya tidak nyaman mendengar khotbah tadi. Kenapa pendeta menyampaikan khotbah yang seperti itu dalam ibadah?”

Mendengar ungkapan dan pertanyaan yang disampaikan Paidjo, pendeta itu menjawab, “Baik, terima kasih atas bapak sudah mencermati khotbah saya hari ini. Itu tandanya bahwa bapak peduli dengan isi khotbah yang disampaikan dalam ibadah. Wajar, kalau bapak menjadi tidak nyaman ketika mendengarnya. Memang khotbah hari ini merupakan khotbah yang tidak biasa, sebab saat ini kampung kami juga sedang menghadapi permasalahan yang tidak biasa.

Paidjo mengangguk-anggukkan kepalanya untuk memberi tanda bahwa ia mengerti alasan yang disampaikan oleh pendeta itu. Padahal dia belum sepenuhnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Kemudian pendeta itu melanjutkan perkataannya,“Kampung kami saat ini sedang mengalami keresahan yang luar biasa. Keresahan itu dipicu oleh situasi di mana ada banyak ketidakadilan terjadi, perusakan alam terus dilakukan, bencana di mana-mana, banyak pencuri dan perampok yang terus melakukan kejahatannya, tetapi pengurus kampung seakan-akan tidak peduli dengan itu semua.

“Mereka malah sibuk merayakan ulang tahun ketua kampung, membagi-bagi posisi jabatan pengurus kampung, mengurus soal pembagian jatah makan yang sebenarnya tidak terlalu tepat sasaran, soal toko kampung kami yang sebenarnya tidak jelas keuntungannya buat siapa, mereka menekan warga kampung untuk terus membayar iuran dengan dalih kondisi kas kampung semakin menipis.

“Sedihnya, ketika warga kampung menyampaikan masukan agar pengurus kampung lebih sadar dengan keresahan warga, yang terjadi semua itu dianggap sebagai angin lalu. Pengurus kampung tetap saja tidak peduli dan menutup telinga terhadap suara warga.

Setelah mengucapkan kalimat yang panjang itu, pendeta berhenti sejenak sambil menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras seakan-akan hendak mengungkapkan sesuatu yang berat. Lalu ia melanjutkan perkataannya, “Berangkat dari keprihatinan inilah, saya menyampaikan khotbah seperti itu. Saya melakukan ini karena saya cinta sama kampung saya. Saya tidak ingin kampung kami menjadi kampung yang tidak damai dan tidak nyaman bagi warganya yang tinggal di sini.

“Karena itu, melalui khotbah ini saya memberi masukan dan mengingatkan pengurus kampung agar lebih memberi perhatian pada keresahan warganya dengan baik. Saya ingin mengingatkan agar pengurus kampung melakukan tugasnya sebagai pelayan warga yang baik. Begitu pak Paidjo.

“Ooooo…. ternyata begitu ya… Jadi pendeta tidak sedang mempengaruhi warga gereja untuk membenci pengurus kampung ya?” tanya Paidjo.

“Tidaklah pak, saya tidak bermaksud ke sana. Saya cinta sama pengurus dan warga kampung di sini.Jawab si pendeta. Mendengar penjelasan yang demikian, Paidjo menanggapi dengan berkata, “Wahhhh… kalau begitu maafkan saya ya pendeta. Saya pikir tadi pendeta sedang mencoba mempengaruhi kami untuk benci pada pengurus kampung sini. Maaf ya pendeta.

“Nggak apa apa, pak. Jangan sungkan buat bertanya langsung ke saya ya pak. Kalau di kemudian hari bapak mendengar khotbah saya dan bapak merasa kurang jelas, bapak bisa langsung menemui saya seperti ini. Pasti saya akan memberikan penjelasan sesuai yang saya mengerti dan pahami.Kata sang pendeta.

“Baik pendeta. Ehhh… tapi saya kan ke sini cuma hari ini saja pendeta. Saya kan warga gereja sebelah. Jadi mungkin besok-besok saya tidak lagi ke sini, karena saya sudah punya gereja. Saya pasti kembali ke gereja saya dong.Sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Pendeta pun hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Paidjo tersebut.

#BapakePaidjoKembali

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Cermin