Tumben
Tumben, pagi ini aku nyaman duduk di gereja.
Rasanya betah dan pikiran lega.
Tumben, tempat parkir tersedia
satpam tidak membentak mengumpat kata.
Beberapa warga gereja menyapa bak teman lama
padahal aku tidak kenal mereka.
Tumben, mobil bosku datang tiba-tiba
dengan tiga sekretaris kantorku juga
lengkap berseragam rok merah jingga
bosku senyum padahal biasanya buang muka.
Tumben, di pintu aku disambut pendeta
meski ia tidak berucap sepatah kata
jabat tangannya bikin aku merasa diterima
aku merasa berharga.
Tumben, bangku gereja bersih terawat
biasanya terasa lengket keringat
ada sampah kertas tisu dilipat
buku nyanyian kumal seperti bungkus ketupat.
Tumben, organis melagukan prelude lembut khidmat
kepalaku tertunduk di hadapan Sang Hadirat
jiwaku merasa terpikat
hatiku lalu mendekat.
Tumben, liturgi teduh dan koor berlagu patut ditiru
tidak ada band berdentum bak peluru
tidak ada tayangan LCD yang membuat kalbu terbelenggu
doa syafaat bersih dari bunyi musik yang mengganggu.
Tumben, khotbah hari ini bermutu dan bersubstansi
biasanya cuma menggurui dan menasihati
bermuluk hiburan dan janji
atau pakai neraka untuk menakuti.
Tumben, hari ini aku nyaman di gereja
kalau terus begini aku tiap Minggu datang setia.
Tiba-tiba, bunyi nyaring memecah telinga.
Aku terjaga! Terbangun dari tidur di gereja.
Ternyata semua itu cuma mimpi belaka
tapi agaknya bukan mimpi sia-sia
itu mimpi yang mendambakan perubahan citra,
Tumben, hari ini aku punya visi tentang gereja.
Disadur dari Buku Andar Ismael, seri Selamat Bergereja

Komentar Anda