Misi Yang Perlu Dituntaskan
Naiknya Yesus ke surga merupakan sebuah peristiwa sejarah yang tak boleh dilupakan. Namun bukan hanya sekadar diingat dalam memori di kepala kita, melainkan juga sebagai sebuah penanda yang mengingatkan kita tentang panggilan kita selaku murid-Nya.
Peristiwa itu meninggalkan catatan tentang hidup manusia yang tak henti-hentinya menomorsatukan dirinya – dan juga berbagai keinginan serta kepentingan yang menyertainya – dan lupa bahwa Yesus dan pemuliaan-Nya merupakan yang terutama perlu kita prioritaskan.
Melalui catatan dalam Alkitab, kita diingatkan pada pertanyaan para murid yang mengharapkan Yesus tetap memulihkan kondisi Israel, yang artinya pemahaman mereka tentang kemesiasan Yesus tidak berubah dari sebelum-sebelumnya, yakni agar Yesus bisa membebaskan mereka dari kekuasaan pemerintahan Romawi. Pertanyaan itu direspons Yesus dengan sebuah informasi yaitu tentang waktu dan masanya, itu bukan urusan para murid (sebab mereka tidak mengerti makna pemulihan Allah secara menyeluruh) dan sanggahan, yakni tugas para murid bukanlah mempersoalkan apa yang harus Allah lakukan bagi mereka, sebab Allah sudah pasti tahu apa yang harus dilakukan-Nya terhadap ciptaan (yang berdosa). Sebaliknya, Yesus memberitahukan bahwa para murid harus melanjutkan karya-Nya selama berada di dunia. Berbagai keteladanan hidup sudah dicontohkan Yesus di hadapan para murid. Sekarang, dengan pergi-Nya ke surga, para murid mesti mulai beraksi.
Aksi yang diharapkan – berupa pemenuhan misi Allah – tentu bukanlah hal mudah. Misi itu merupakan janji yang disampaikan Allah berupa penyelamatan dunia dengan segala isinya. Agar dapat mewujudkannya, diperlukan 1) kepastian tentang apa yang harus dikerjakan; 2) keberanian mengerjakannya. Supaya bisa melakukannya, maka ada upaya yang harus
dilakukan oleh manusia, yakni mengorbankan kepentingan diri dan melawan ego yang menggodanya agar tidak peduli terhadap kehidupan.
Aksi melawan ego, sebagaimana dicontohkan Yesus – dicatat dalam Filipi 2.5-8 – merupakan bagian yang diharapkan muncul dari kita sebagai murid dan pengikut Yesus. Tentu di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur hidup seperti rela berkorban, mementingkan orang lain dibanding diri sendiri, memperhatikan orang yang membutuhkan pertolongan, mau menyediakan waktu untuk berbagi dengan yang lain, dan banyak lagi.
Yesus menyadari upaya melawan ego merupakan hal yang tak mudah dilakukan, bahkan mustahil. Oleh sebab itulah Ia mengirim Roh Kudus, agar dapat membantu manusia menghadapi egonya – termasuk menghadapi godaan Iblis – dan memperjuangkan kehidupan serta nilai-nilai baik di dalamnya. Kita patut mensyukuri kemurahan hati Yesus, yang tidak
meninggalkan kita sendirian menghadapi kesulitan ini. Dengan demikian, upaya menuntaskan misi yang diamanatkan kepada kita tetap dapat dikerjakan.
Bagaimana caranya? Mari kita baca panduannya dalam Alkitab!
YNWA

Komentar Anda