Mengenali Kehadiran Tuhan

SAAT TEDUH

 

PUJIAN PEMBUKA

  1. 17 – Tuhan Allah Hadir

 

Tuhan Allah hadir pada saat ini. Hai sembah sujud disini.
Diam dengan hormat, tubuh serta jiwa, tunduklah menghadap Dia.
Marilah, umatNya, hatimu serahkan dalam kerendahan.

 

Tuhan Allah hadir, Yang dimuliakan dalam sorga siang – malam
“Suci, suci, suci” untuk selamanya dinyanyikan malak sorga.
Ya Allah, t’rimalah pujian jemaat beserta malaikat.

 

Kami menanggalkan hasrat sia – sia, keinginan manusia;
jiwa raga kami, hidup seluruhnya, Tuhan, kaulah yang empunya.
Dikaulah, Yang Esa, patut dimuliakan seberhana alam.

 

PEMBACAAN KITAB MAZMUR 85 : 8 – 13

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

 

DOA PEMBUKA DAN FIRMAN

PEMBACAAN ALKITAB 

1 Raj. 8:12-13, Mat. 16: 1-4

 

RENUNGAN

MENGENALI KEHADIRAN TUHAN

 

Dalam kehidupan, kita sering meminta tanda agar yakin bahwa Tuhan hadir dan bekerja. Kita berkata, “Tuhan, berikanlah tanda supaya aku percaya.” Namun, Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa persoalannya bukan karena Tuhan tidak memberikan tanda, melainkan karena hati kita sering tidak peka mengenali kehadiran-Nya.

 

  1. MENDENGAR suara Tuhan

Pemazmur berkata: “Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya?” (Mazmur 85:9). Iman dimulai dari kesediaan untuk mendengar. Tuhan berbicara melalui Firman-Nya, melalui doa, melalui persekutuan, bahkan melalui keadaan hidup yang sedang kita alami.

Suara Tuhan membawa damai, kasih, kesetiaan dan kebenaran. Namun, damai yang Tuhan berikan bukan selalu berarti semua persoalan langsung selesai. Damai Tuhan adalah keyakinan bahwa di tengah persoalan, kita tidak berjalan sendirian. Karena itu, jangan hanya meminta Tuhan berbicara sesuai keinginan kita. Belajarlah diam, mendengar dan membuka hati terhadap kehendak-Nya.

 

  1. MENYADARI kehadiran Tuhan

Ketika tabut perjanjian dibawa masuk ke dalam Bait Allah, awan memenuhi rumah Tuhan. Para imam tidak dapat melaksanakan tugas karena kemuliaan Tuhan memenuhi tempat itu.

Salomo berkata: “TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman.” (1 Raja-raja 8:12)

Kehadiran Tuhan digambarkan melalui awan dan kekelaman. Ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak selalu hadir melalui keadaan yang terang, mudah dan menyenangkan.

Kadang-kadang Tuhan hadir di tengah “awan” kehidupan—ketika jalan belum jelas, ketika doa belum terjawab, dan ketika kita belum memahami rencana-Nya.

Walaupun kita tidak dapat melihat seluruh jalan, kita dapat percaya bahwa kemuliaan Tuhan tetap memenuhi kehidupan kita. Tuhan tidak meninggalkan kita hanya karena keadaan sedang gelap.

 

  1. MENGENALI tanda Tuhan

Orang Farisi dan Saduki meminta Yesus memperlihatkan tanda dari surga. Mereka dapat membaca tanda-tanda cuaca, tetapi tidak mampu mengenali karya Allah yang sedang hadir di hadapan mereka melalui Yesus Kristus. Yesus berkata bahwa kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Yunus. Tanda Yunus menunjuk kepada kematian dan kebangkitan Kristus.

Tanda terbesar kasih Allah bukanlah kehidupan tanpa masalah, keberhasilan tanpa kegagalan, atau mujizat sesuai permintaan kita. Tanda terbesar kasih Allah adalah Kristus yang mati dan bangkit bagi keselamatan kita. Kita tidak perlu terus-menerus menuntut tanda baru. Salib dan kebangkitan Kristus sudah cukup menjadi dasar bahwa Allah mengasihi, menyertai dan menyelamatkan kita.

 

Hari ini Tuhan mengajak kita:

MENDENGAR suara-Nya dengan hati yang terbuka.
MENYADARI kehadiran-Nya, bahkan ketika hidup diliputi awan.
MENGENALI Kristus sebagai tanda terbesar kasih dan keselamatan Allah.

Jangan sampai kita pandai membaca keadaan dunia, tetapi gagal mengenali pekerjaan Tuhan. Jangan hanya mencari tanda-tanda ajaib, tetapi abaikan Firman, kasih, kebenaran dan damai sejahtera yang Tuhan hadirkan setiap hari. Ketika hati mau mendengar, iman akan melihat bahwa Tuhan selalu hadir, selalu bekerja dan selalu menuntun langkah kita.

 

DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang saling mendukung dalam suka dan duka.

 

NYANYIAN PENUTUP

  1. 17 – Tuhan Allah Hadir

 

Raja yang mulia, biarlah hambaMu mengagungkan selalu,
hingga aku ini sungguh beribadat sama seperti malaikat,
dan benar mendengar firmanMu, ya Tuhan, agar kulakukan!

 

Kau bagai udara sumber kehidupan dan tempat gerak semua.
Laut tak terhingga, buatlah diriku layak menyelami Dikau:
Kau penuh dalamku, aku didalamMu: Kau kerinduanku!

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga