Berani Dibentuk, Berani Bertanggungjawab
SAAT TEDUH
PUJIAN PEMBUKA
PKJ 289 – Keluarga Hidup Indah
Keluarga hidup indah
bila Tuhan di dalamnya.
Dengan kasih yang sempurna
Tuhan pimpin langkahnya.
Reff:
T’rima kasih padaMu, Tuhan,
Kau bimbing kami selamanya.
Segala hormat, puji dan syukur
kami panjatkan kepadaMu.
Di dunia banyak jalan;
jalan mana ‘kan ditempuh?
Jalan lurus hanya satu;
jalan Tuhan itulah.
PEMBACAAN KITAB Mazmur 25:1–9
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
DOA PEMBUKA DAN FIRMAN
PEMBACAAN ALKITAB
Yehezkiel 18:19–24; Markus 11:27–33
RENUNGAN
“BERANI DIBENTUK, BERANI BERTANGGUNGJAWAB”
Dalam kehidupan keluarga, tidak selalu mudah untuk mengakui bahwa kita salah. Kadang kita lebih cepat mencari alasan, menyalahkan keadaan, atau menunjuk kesalahan orang lain. Bahkan dalam hubungan yang dekat sekalipun, kita dapat berkata dalam hati, “Saya seperti ini karena dia,” atau, “Kalau dia tidak melakukan itu, saya juga tidak akan bereaksi seperti ini.”
Firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat kehidupan dengan cara yang berbeda. Tuhan memanggil setiap orang untuk memiliki kerendahan hati, bersedia diajar, dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri di hadapan Tuhan.
Mazmur 25:1–9 memperlihatkan sikap seorang yang datang kepada Tuhan dengan hati yang terbuka. Pemazmur berdoa, “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.” Ia tidak datang dengan keyakinan bahwa dirinya selalu benar. Ia justru mengakui bahwa ia membutuhkan Tuhan untuk menunjukkan jalan yang benar. Inilah sikap yang penting dalam keluarga.
Sering kali masalah menjadi besar bukan karena tidak ada jalan keluar, tetapi karena masing-masing merasa diri paling benar. Suami merasa dirinya benar, istri merasa dirinya benar, orang tua merasa selalu lebih tahu, anak merasa tidak pernah dipahami.
Firman Tuhan mengajarkan kita untuk terlebih dahulu berkata, “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu. Kalau ada yang salah dalam diriku, bentuklah aku.” Kerendahan hati seperti ini membuka jalan bagi perubahan.
Kita tidak dapat bertumbuh jika kita selalu merasa bahwa orang lainlah yang harus berubah terlebih dahulu. Kita tidak dapat mengalami pemulihan jika kita tidak pernah mau melihat diri sendiri.
Hal ini ditegaskan dalam Yehezkiel 18:19–24. Bangsa Israel pada waktu itu memiliki kecenderungan menyalahkan generasi sebelumnya atas keadaan mereka. Namun Tuhan menegaskan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.
Tuhan berkata bahwa orang benar yang berbalik dari kebenarannya dan melakukan kejahatan akan menanggung akibatnya. Sebaliknya, orang yang berbalik dari kejahatan dan hidup dalam kebenaran akan memperoleh kehidupan.
Pesannya sangat jelas: di hadapan Tuhan, setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya.
Kita memang dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan, masa lalu, dan pengalaman hidup. Tetapi Tuhan tidak membiarkan kita hidup selamanya sebagai korban keadaan.
Kita tetap dipanggil untuk mengambil keputusan.
Kita dapat memilih untuk terus menyimpan kebencian atau mulai belajar mengampuni.
Kita dapat memilih untuk terus berbicara kasar atau belajar mengendalikan perkataan.
Kita dapat memilih untuk mempertahankan ego atau belajar meminta maaf.
Kita dapat memilih untuk terus mengulangi pola yang salah atau mulai membangun pola kehidupan yang baru.
Dalam keluarga, ini berarti setiap orang perlu belajar berkata, “Aku bertanggung jawab atas sikapku sendiri.” Bukan, “Saya marah karena kamu.” Tetapi, “Saya memang terluka, tetapi saya tetap bertanggung jawab atas cara saya merespons.” Bukan, “Saya menjadi seperti ini karena keluarga saya dahulu.” Tetapi, “Masa lalu memang membentuk saya, tetapi bersama Tuhan saya dapat memilih jalan yang baru.” Tuhan memberi kesempatan untuk berubah.
Yehezkiel menunjukkan bahwa Tuhan tidak sedang mencari alasan untuk menghukum manusia. Tuhan justru menghendaki pertobatan. Tuhan membuka jalan bagi orang yang mau kembali kepada-Nya.
Karena itu tidak ada anggota keluarga yang harus terus-menerus dikurung oleh kesalahan masa lalu.
Jangan terus mengatakan kepada pasangan, “Kamu memang selalu begitu.”
Jangan terus berkata kepada anak, “Kamu tidak pernah berubah.”
Jangan memberi label kepada seseorang berdasarkan kegagalannya.
Jika Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat dan berubah, keluarga seharusnya juga menjadi tempat di mana seseorang diberi kesempatan untuk bertumbuh.
Namun dalam Markus 11:27–33, kita menemukan persoalan yang lain. Para imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua datang mempertanyakan kuasa Yesus. Mereka bertanya dari mana Yesus memperoleh kuasa untuk melakukan semua itu.
Yesus kemudian bertanya kepada mereka tentang baptisan Yohanes: apakah berasal dari surga atau dari manusia? Mereka tidak menjawab berdasarkan kebenaran. Mereka justru menghitung akibatnya.
Jika mereka berkata “dari surga,” Yesus akan bertanya mengapa mereka tidak percaya kepada Yohanes. Jika mereka berkata “dari manusia,” mereka takut kepada orang banyak. Akhirnya mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Sebenarnya persoalannya bukan karena mereka benar-benar tidak tahu. Persoalannya adalah mereka tidak mau mengambil sikap terhadap kebenaran.
Inilah peringatan bagi kita.
Ada saatnya kita mengetahui apa yang benar, tetapi tidak mau melakukannya karena takut pada konsekuensi.
Kita tahu seharusnya meminta maaf, tetapi gengsi menghalangi.
Kita tahu seharusnya berdamai, tetapi ego terlalu besar.
Kita tahu suatu kebiasaan harus dihentikan, tetapi kita tidak mau berubah.
Kita tahu ada keputusan yang benar di hadapan Tuhan, tetapi kita memilih aman dan nyaman.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa iman bukan hanya soal mengetahui apa yang benar. Iman membutuhkan keberanian untuk mengambil sikap terhadap kebenaran.
Karena itu ketiga bacaan ini saling melengkapi.
Mazmur 25 mengajar kita untuk memiliki hati yang mau diajar Tuhan.
Yehezkiel 18 mengajar kita untuk bertanggung jawab atas pilihan dan kehidupan kita sendiri.
Markus 11 mengingatkan kita untuk tidak menghindar ketika kebenaran menuntut suatu keputusan.
Bagi keluarga, pesannya menjadi sangat sederhana tetapi dalam:
Biarlah rumah kita menjadi tempat di mana setiap orang mau dibentuk Tuhan, berani mengakui kesalahan, dan bertanggung jawab untuk berubah. Kita tidak perlu menjadi keluarga yang sempurna.
Tetapi kita dapat menjadi keluarga yang terus bertumbuh.
Ketika salah, kita mengakuinya.
Ketika ditegur, kita belajar mendengarkan.
Ketika melukai, kita berani meminta maaf.
Ketika diingatkan Tuhan, kita tidak mengeraskan hati.
Dan ketika diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, kita tidak menyia-nyiakannya.
Mungkin hari ini ada sesuatu yang Tuhan ingin kita lihat dalam diri kita masing-masing.
Bukan pertama-tama, “Apa yang salah dengan pasangan saya?”
Bukan, “Apa yang salah dengan anak saya?”
Bukan, “Apa yang salah dengan orang tua saya?”
Tetapi mulailah dengan pertanyaan:
“Tuhan, apa yang ingin Engkau ubah dalam diriku?”
Doa seperti inilah yang dapat membawa keluarga kepada pemulihan.
Sebab keluarga bertumbuh bukan ketika semua orang menuntut orang lain berubah, tetapi ketika setiap orang bersedia berkata: “Tuhan, ajarlah aku jalan-Mu. Aku mau bertanggung jawab atas hidupku dan berjalan dalam kebenaran-Mu.
DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang saling terbuka dan percaya kepada Tuhan.
NYANYIAN PENUTUP
PKJ 289 – Keluarga Hidup Indah
Keluarga hidup indah,
bila Tuhan pemimpinnya.
Dalam suka, dalam duka
kita dalam tanganNya.
Reff:
T’rima kasih padaMu, Tuhan,
Kau bimbing kami selamanya.
Segala hormat, puji dan syukur
kami panjatkan kepadaMu.
Ya Roh Kudus, bimbing kami,
agar s’lalu bersamaMu.
Ajar kami, tolong kami
mewujudkan kasihMu.

Komentar Anda