Harta yang Menghidupkan Terletak Dalam Hati
Saat teduh
Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya
Nyanyian Umat
NKB 49 “Tuhan Yang Pegang”
- Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya ‘ku harapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.
O tiada ‘ku gelisah akan masa menjelang;
‘ku berjalan serta Yesus, maka hatiku tenang.
Banyak hal tak ‘ku fahami dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.
- Makin t’ranglah perjalanan, makin tinggi aku naik.
Dan bebanku makin ringan, makin nampaklah yang baik.
Di sanalah t’rang abadi, tiada tangis dan keluh;
Di neg’ri seb’rang pelangi, kita k’lak ‘kan bertemu.
- Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, mungkin langit ‘kan gelap.
tapi Dia yang berkasihan melindungi ‘ku tetap.
meski susah perjalanan, g’lombang dunia menderu.
Dipimpin-Nya ‘ku bertahan sampai akhir langkahku.
Bacaan I: Amsal 16.1-20
Pesan yang penting dalam perikop ini
Beragam nasehat yang diberikan orang bijak ditujukan demi ketentraman setiap orang. Tujuan utamanya bukanlah sekadar agar hidup bisa dijalani sampai akhir, melainkan agar dalam menjalaninya seseorang mengalami ketenangan batin dan kelegaan secara menyeluruh. Cobalah renungkan ayatnya satu demi satu, lalu resapi dan pikirkan kebaikannya terhadap diri kita.
Doa Pembuka
Dipimpin seorang anggota keluarga
Mazmur 119.41-48
Bacalah bagian ini dengan beberapa cara
- Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
- Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
- Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan
Bacaan II: Matius 19.16-22
Pesan melalui perikop
Hidup berdasarkan ajaran Yesus tidak menjamin kecukupan harta, apalagi berlebihan. Oleh karena itu patutlah kita bercermin jika ingin jadi orang kaya dengan cara mengikut Yesus. Hal itu yang disarikan dalam bacaan ini.
Hidup yang sesungguhnya dinikmati seseorang ketika hatinya dekat dengan Tuhan, bukan dengan harta.
Mari kita melihatnya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).
Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:
- Apa yang kita prioritaskan dalam hidup? Hal-hal jasmani atau hal lain?
Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:
- Carilah dalam hati Saudara, keinginan-keinginan dan perasaan yang terdalam yang dapat memuaskan hidup
Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:
Dalam kaitannya dengan kehidupan berkeluarga, apakah saya bersedia
– Memikirkan terlebih dahulu apa yang mendatangkan kedamaian, sebelum berkata dan bertindak?
– tetap setia kepada nilai-nilai hidup yang diajarkan Kristus di tengah situasi sulit, dan menjaga kebenaran-Nya bersama anggota keluarga?
Doa Bersama
Lihat jurnal doa keluarga
Nyanyian Umat
KJ 318 ”Berbahagia Tiap Rumah Tangga”
- Berbahagia tiap rumah tangga,
di mana Kaulah Tamu yang tetap:
dan merasakan tiap sukacita
tanpa Tuhannya tiadalah lengkap;
di mana hati girang menyambut-Mu
dan memandang-Mu dengan berseri;
tiap anggota menanti sabda-Mu
dan taat akan Firman yang Kaub’ri. - Berbahagia rumah yang sepakat
hidup sehati dalam kasih-Mu,
serta tekun mencari hingga dapat
damai kekal di dalam sinar-Mu;
di mana suka-duka ‘kan dibagi;
ikatan kasih semakin teguh;
di luar Tuhan tidak ada lagi
yang dapat memberi berkat penuh.

Komentar Anda