Kuatkanlah & Teguhkanlah Hatimu

Saat Teduh

 

Nyanyian Umat

KJ 1 – Haleluya Pujilah

Haleluya! Pujilah Allah Yang Agung, Mahaesa!
Dalam Kristus kita kenal Allah Yang Hidup, Bapa kekal!

1. Langit, buana semesta patut memuji kuasaNya,
karna berkatNya tak henti, limpah kasihNya tak terperi.

Haleluya! Pujilah Allah Yang Agung, Mahaesa!
Dalam Kristus kita kenal Allah Yang Hidup, Bapa kekal!

2. Wahai dunia, soraklah! Angkat suaramu, nyanyilah!
Tabuhlah tifa dan gendang, iringi puji dalam tembang!

 

Doa Pembuka – Dipimpin seorang anggota keluarga

 

Pembacaan Mazmur = Mazmur 105: 1-11, 37-45
(Dibaca secara bergiliran oleh seluruh anggota keluarga)

 

Bacaan 1 = Yosua 1:1-11

 

Bacaan 2 = 1 Tesalonika 3:1-5

 

Renungan

Di dalam perjalanan iman, kita sering kali dihadapkan pada masa-masa transisi yang sulit, tantangan yang terlihat mustahil, atau bahkan penderitaan yang membuat kita merasa ingin menyerah. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa tetap berdiri teguh ketika keraguan dan ketakutan mulai merayap masuk ke dalam hati kita?

Mari kita mulai dengan melihat isi hati Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Saat jemaat tersebut menghadapi penderitaan dan kesengsaraan, Paulus merasa sangat khawatir bahwa iman mereka akan goyah oleh tipu daya si pencoba. Karena ia tidak tahan lagi menahan kekhawatirannya, Paulus mengutus Timotius, yang ia sebut sebagai kawan sekerja Allah—untuk secara khusus menguatkan dan menasihatkan mereka agar tetap teguh.

Tindakan Paulus ini menunjukkan sebuah realitas manusiawi yang sangat mendalam: dalam menghadapi tekanan dan ketidakpastian, iman kita rentan terguncang, dan kita sangat membutuhkan penguatan. Kebutuhan mutlak akan peneguhan hati inilah yang menjadi jembatan sempurna untuk kita melihat salah satu mandat paling epik yang pernah Tuhan berikan di Perjanjian Lama.

Pada zamannya, Yosua berada di titik nadir sejarah bangsa Israel. Pemimpin besar mereka, Musa, baru saja wafat. Kini, tongkat estafet kepemimpinan jatuh secara penuh ke tangannya. Ia harus memimpin bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan dan masuk ke Tanah Perjanjian yang dipenuhi bangsa-bangsa kuat dan kota-kota berbenteng. Secara manusiawi, sangat wajar jika Yosua merasa gentar.

Sangat menarik bahwa Yosua yang sejatinya adalah seorang prajurit tangguh dan perkasa sedari awal perjalanannya, harus diingatkan berkali-kali oleh Allah untuk “kuat dan berani”. Hal ini menyadarkan kita bahwa sesungguhnya ada garis yang sangat tipis antara iman dan ketakutan di dalam diri setiap orang, bahkan bagi orang yang terlihat paling berani sekalipun.

Lalu bagaimanakah Yosua, dan kita hari ini, bisa menguatkan dan meneguhkan hati? Kita bisa menemukan jawabannya dari perintah Allah kepada Yosua.

Tuhan berjanji, “Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yos. 1:5).

Tuhan memerintahkan Yosua untuk tidak menyimpang dari hukum Taurat dan merenungkannya siang dan malam (Yos. 1:8). Ketaatan pada firman-Nya adalah kompas yang menjamin keberhasilan langkah kita di tengah kegelapan.

Maka dari itu, jika saat ini Anda sedang merasa goyah dan kesulitan untuk menguatkan hati, lakukanlah apa yang diserukan oleh sang pemazmur. Mazmur 105 mengingatkan kita untuk selalu mengingat perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya.

Tanah yang akan dimasuki Yosua bukanlah tanah yang diberikan secara kebetulan, melainkan penggenapan dari ikatan perjanjian kekal Allah dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Pemazmur dengan indah merangkum bagaimana Allah membawa umat-Nya keluar dari Mesir dengan perak dan emas, menuntun mereka dengan tiang awan dan tiang api, membelah batu karang untuk memberi mereka air, dan akhirnya memberikan tanah bangsa-bangsa kepada mereka.

Mengingat jejak kesetiaan Tuhan di masa lalu adalah bahan bakar terbaik untuk menyulut keberanian kita di masa kini!

Apa pun “Sungai Yordan” yang harus Anda seberangi hari ini, entah itu pergumulan keluarga, transisi karier, sakit-penyakit, atau pelayanan yang terasa berat, jangan biarkan ketakutan mengambil alih. Ingatlah perbuatan-Nya yang ajaib di masa hidup Anda sebelumnya, pegang teguh firman-Nya siang dan malam, dan percayalah bahwa Ia yang menyertai Anda tidak akan pernah meninggalkan Anda.

Mari terus melangkah maju. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu!

Doa Bersama
(Dipimpin secara bergantian antara anggota keluarga)

Doakan agar setiap anggota keluarga tidak goyah di dalam tantangan kehidupan yang harus dijalani.

Doakan agar kerinduan untuk mengingat kebaikan Allah bisa muncul di dalam hati setiap anggota keluarga.

Doakan saudara-saudara seiman agar jemaat Allah dapat memelihara lingkungan sekitar yang telah dipercayakan Allah kepada mereka.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga