Yesus, Tuhan yang Berbelarasa
Saat teduh
Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya
Nyanyian Umat
KJ 292 – Tabuh Gendang”
Tabuh gendang! Sambil menari
nyanyikan lagu yang merdu!
Bunyikanlah gambus, kecapi:
mari memuji Allahmu!
Karya besar yang agung
benar t’lah dilakukanNya
terhadap umat-Nya!
Israel pun atas berkat-Nya
riang gembira bermazmur.
Ikut serta kita percaya
dan kepada-Nya bersyukur:
“Tuhanlah baik, kasih-Nya ajaib
kekal selamanya;
terpuji nama-Nya!”
Bacaan I: Keluaraan 16.2–15; 31-35
Pesan yang penting dalam perikop ini
Keluaran 16 menceritakan kisah setelah bangsa Israel keluar dari Mesir dan menyeberangi Laut Teberau. Mereka sedang berjalan di padang gurun menuju Tanah Perjanjian. Dalam perjalanan, mereka menghadapi kekurangan makanan dan mulai bersungut-sungut terhadap Musa dan Harun. Keluh kesah mereka didengar Allah. Apa yang terjadi kemudian? Allah tidak berdiam. Ia melakukan hal ajaib di tengah kegalauan dan keletihlesuan manusia. Ia tetap menunjukkan kasih karunia-Nya dengan menyediakan manna dan puyuh. Bagian ini menekankan pentingnya iman, ketaatan, dan ketergantungan sehari-hari kepada Tuhan.
Doa Pembuka
Dipimpin seorang anggota keluarga
Mazmur 78.1-8, 17-29
Bacalah bagian ini dengan beberapa cara
- Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
- Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
- Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan
Bacaan II: Matius 15.32-39
Pesan melalui perikop
Kisah ini sangat dikenal dalam lingkungan pembaca Alkitab.
Orang banyak yang kelaparan setelah mengikuti Yesus dan melihat berbagai hal yang dilakukan-Nya, masih rindu mendengarkan suara dan pengajaran Yesus.
Dalam situasi itu, hal pertama yang muncul sebagai kesaksian tentang sifat Yesus adalah berbelarasa. Ia berhenti sejenak dari pengajaran yang disampaikannya, dan menyapa mereka dengan bahasa manusia yang amat wajar dan lazim. Tanpa banyak tanya, Yesus memahami apa yang dialami orang-orang itu. Oleh karenanya satu tanya Yesus yang penting dan esensial terhadap situasi itu adalah “Ada berapa roti dan ikan yang tersedia di sini?”
Hal ini menjelaskan bahwa pelayanan tidak hanya semata-mata menyangkut kebutuhan rohani, melainkan juga memperhatikan kebutuhan fisik.
Setelah mengetahui jumlah sumber daya yang tersedia, Yesus menunjukkan belarasa-Nya dengan menghadirkan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan orang banyak. Bahkan lebih dari cukup, sebab setelah semua orang makan dan kenyang, masih ada sisa yang banyak jumlahnya.
Hal ini menyimpulkan bahwa manusia terbatas; namun jika yang terbatas diserahkan dalam tangan Tuhan, maka ia bisa memenuhi kebutuhan.
Yesus juga memakai para murid sebagai perpanjangan tangan-Nya dalam mengumpulkan sumber makanan, yang akhirnya menjadikan semua orang tercukupi.
Hal ini menggambarkan bahwa betapapun Tuhan sanggup menghadirkan segala pemecahan masalah, Ia tetap mau memakai manusia ikut serta dalam karya-Nya.
Mari kita melihatnya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).
Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:
- Apakah kita, sering khawatir pada hidup yang terbatas ini? Misalnya, ketika kita kekurangan uang untuk membeli kebutuhan pokok? Atau kekurangan tenaga/semangat menghadapi persoalan hidup?
- Apa yang kita lakukan di saat-saat seperti itu? Berkeluh kesah? Menyalahkan Tuhan? Marah-marah?
- Apakah kekhawatiran kita menyelesaikan masalah?
Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:
- Apakah kita percaya Tuhan berada di pihak kita, membela kita, dan bisa membantu kita menyelesaikan persoalan kita?
- Apakah kita merasa kuasa Tuhan berpengaruh dalam proses menghadapi permasalahan hidup kita?
Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:
- Apakah seperti Yesus, kita mau berbelarasa atau berbelas kasihan pada orang yang sedang mengalami kesusahan?
Doa Bersama
Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa sebagai berikut:
- Doakan pertobatan setiap orang, yang dengan tulus hati ingin berubah dan menjadi pengikut-Nya
- Doakan setiap pribadi yang ingin melayani orang lain, dalam kerinduan menghadirkan kasih Tuhan bagi sesama
- Doakan gereja Tuhan agar senantiasa hidup dalam semangat menjalankan misi Allah, berbagi kasih dan memperlihatkan kehadiran-Nya dalam pergumulan serta keluh kesah manusia
Nyanyian Umat
NKB 21 – Ku Diberikan Kidung Baru
Ku diberikan kidung baru
oleh Yesus Tuhanku:
irama lagu paling mulia,
kidung kasih yang merdu
Hatiku bersukacitalah,
bersukacitalah, bersukacitalah.
Hatiku bersukacitalah
di dalam Yesus, Tuhanku.
‘Ku mengasihi Tuhan Yesus
yang tersalib bagiku;
segala dosaku dihapus-Nya,
hingga baru kidungku.
- Tiap talentamu pasti ada artinya
bila mencerminkan kasih-Nya.
Barang yang kecil pun sungguh ada gunanya.
Jadilah suluh dunia!
Wahai insan, datanglah! Mari sambut kasih-Nya
ingat akan janji-Nya: Kasih besar!
Yesus t’lah memanggilmu, simak suara-Nya merdu
dan serahkan hatimu, Kasih besar!

Komentar Anda