Yesus di Hati; Rindukah Kita?

Saat teduh

Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya

 

Nyanyian Umat          

NKB 87 “Junjungan yang Kupilih“

 

Junjungan yang ‘ku pilih: Yesusku Penebus.
Yang bangkit dari mati, berkuasa seterus.
Kendati banyak orang mengejek, mencela,
‘ku ikut suara-Nya, lembut mesra.

Benar, benarlah hidup Yesusku.
Bersamaku di jalanku, suara-Nya ‘ku dengar.
Benar, benarlah hidup Yesusku.
Di mana Dia ‘ku dengar? Di dalam hatiku!

 

Di mana, kapan saja Kasih-Nya pun jelas.
Di saat ‘ku gelisah dihibur ‘ku lekas.
Di hujan, angin ribut, dipimpin langkahku,
‘ku yakin, kami nanti ‘kan bertemu.

 

Bacaan I: Hosea 14.1-9

Pesan yang penting dalam perikop ini

Ajakan bertobat menjadi hal yang tak jera-jeranya diulang dalam pesan Alkitab, termasuk bagian ini. Secara teknis, pertobatan itu berawal dan berdasar pada hati yang sedih akibat perbuatan yang dilakukan. Bukan dijalani hanya lewat ritual – seperti pengakuan dosa yang diucapkan dalam ibadah Minggu – tanpa kesungguhan untuk meninggalkan perbuatan salahnya. Kata-kata tulus merupakan hal penting yang juga melandasi pertobatan ini.

Israel diajak bertobat dengan cara meninggalkan kebergantungan pada bangsa-bangsa asing, dan kembali kepada Allah yang selama ini mereka kenal dan junjung. Juga meninggalkan tentara berkuda – kekuatan militer yang melambangkan kekuatan manusia – serta tidak lagi menyembah berhala, yang merupakan kekejian bagi Allah. Intinya, pertobatan adalah paket yang berisi pengakuan dosa, pembalikan kepercayaan, serta kembali mengikut jalan Tuhan.

Bagi yang bertobat, Tuhan berjanji akan memulihkan mereka, menyejukkan hati mereka bagai embun di pagi hari, menghadirkan keindahan dalam hidup, serta membuat hidup mereka mendatangkan dampak positif bagi orang lain.

 

Doa Pembuka

Dipimpin seorang anggota keluarga

 

Mazmur 40.1-8

Bacalah bagian ini dengan beberapa cara

  1. Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
  2. Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
  3. Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan

 

Bacaan II: Matius 12.1-8

Pesan melalui perikop 

 

Hukum tentang Sabat dibuat dalam rangka mengatur masa istirahat (dari waktu kerja) dan ibadah kepada Tuhan (supaya ada hubungan yang tetap terjaga dengan Tuhan). Akan tetapi oleh orang-orang Farisi, hukum itu dibuat lebih terperinci, yang akhirnya malah membuat semua aktivitas digolongkan sebagai “pekerjaan”. Ini membuat setiap orang seakan ‘terkunci’ pada hari Sabat, sehingga tidak boleh melakukan apapun.

Perdebatan antara Yesus dengan orang-orang Farisi ini sebetulnya terjadi di ranah tafsir tentang hukum mengenai Sabat. Bagi orang-orang Farisi, di hari Sabat orang tidak boleh melakukan apapun. Padahal bagi Yesus, hidup harus tetap berjalan, dan manusia tetap bisa beraktivitas – bukan sama sekali tidak boleh melakukan kegiatan.

 

Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).

Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:

  • Apakah selama ini kita suka berdebat (berbantah) dengan Tuhan? Kalau ya, biasanya mengenai apa saja?
  • Aturan-aturan hidup seperti apa yang kita yakini benar menurut pikiran kita? Apakah itu selaras dengan kehendak Tuhan?  

Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:

  • Seberapa seringkah kita bertobat? Seminggu sekali? Seminggu dua kali? Atau lebih? Apa yang kita rasakan dalam hati ketika bertobat?

 

Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:

  • Adakah rencana kita membarui diri setelah bertobat? Dalam hal apa saja?
  • Jika kita memiliki aturan atau kaidah yang selama ini kita pegang dalam menjalani hidup, relakah kita menggesernya demi pemahaman yang lebih benar (dan baik – bagi kehidupan)?

 

Doa Bersama

Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:

  • Umat menghargai karya Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus
  • Umat tergerak berpartisipasi dalam karya keselamatan yang diinisiasi Allah Tritunggal
  • Umat mau melayani dengan modal hikmat Tuhan

 

Nyanyian Umat

PKJ 239 ”Perubahan Besar”

 

Perubahan besar di kehidupanku

sejak Yesus di hatiku

Di jiwaku bersinar terang yang cerlang

sejak Yesus di hatiku

 

Sejak Yesus di hatiku; sejak Yesus di hatiku

Jiwaku bergemar bagai ombak besar:

Sejak Yesus di hatiku

 

Aku tobat, kembali ke jalan benar

sejak Yesus di hatiku

dan dosaku dihapus, jiwaku segar

sejak Yesus di hatiku

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga