Waktunya

Selamat pagi.
Setiap orang pernah gagal.
Yang berhasilpun demikian namun dia tidak meratapi, ia bangkit dan menang.
Sebuah kapal yang cukup besar digeletakkan di tepian sungai. Diam, entah sudah berapa lama. Tak ada tanda-tanda untuk dipakai untuk berlayar, mencari ikan. Diam, dan terlihat dingin.
Di sepanjang sungai menuju TPI Karang Song, Indramayu, ada banyak kapal di sisi kanan dan kiri. Ada yang bersandar untuk dibersihkan. Namun juga ada yang di dalam sungai atau di tepiannya yang hanya berdiam, ditumbuhi tanaman merambat atau berada di dasar sungai karena sudah karam dimakan usia.
Kapal-kapal nelayan yang masih aktif dengan cekatan dibersihkan supaya pada waktunya dipakai melaut lagi. Kapal yang rusak, dan lama tak melaut, hanya diam, tanpa daya, dan lapuk dimakan waktu, usia, dan air garam. Padahal jika menengok kembali ke belakang, betapa merekapun berjasa membawa berton-ton ikan atau hasil laut lainnya untuk dibawa pulang, memberi rejeki bagi keluarga masing.
Waktulah yang akhirnya menjadi penentu. Kapan sebuah kapal masih siap untuk melaut, dan mereka yang harus ditark ke tepian dan dibiarkan lapuk dimaka waktu.
Setiap orang punya waktunya sendiri. Ada waktunya untuk menepi. Namun harus diingat: menepi buka berarti berhenti.
Menepi mestilah tetap berarti.



Komentar Anda