Tentang Penghakiman
Saat Teduh
Nyanyian Pembuka
MARI SEMUA, KINI BERNYANYI
(PKJ 21: 1, 5)
Mari semua, kini bernyanyilah,
Pujilah Tuhan, agungkan rahmatNya!
Dengan syukur menghadap Dia,
Sumber anugerah yang setia,
Sumber anugerah yang setia.
Mari semua, kini bernyanyilah,
Dialah Tuhan, agungkan rahmatNya!
Sampai kekal tetaplah Dia
Sumber anugerah yang setia,
Sumber anugerah yang setia.
Pembacaan Kitab Mazmur 18: 1-3, 20-32
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
Doa Pembuka dan Firman
(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)
Pembacaan Alkitab
Perjanjian Lama : 1 Samuel 7: 3-13
Perjanjian Baru : Roma 2: 1-11
Renungan
“Ih… kenapa dia sekarang begitu ya? Pasti hal ini terjadi karena akibat dari perbuatannya yang jarang kelihatan di gereja. Kalau orang tidak pernah pergi persekutuan, ya pasti begitu. Tidak punya kasih. Tidak bisa mengampuni. Tidak mau peduli dengan orang lain. Makanya sekarang dia jadi kayak gitu. Jutek. Mudah tersinggung. Suka marah tanpa alasan. Padahal, kan dulu dia ga kayak gitu? Waktu dia masih aktif melayani, dia itu orangnya sabar, hatinya peduli sama perasaan orang lain, dan tidak suka mendendam. Sekarang, semenjak tidak lagi melayani, dia berubah.” Begitulah kira-kira ungkapan penghakiman yang disampaikan oleh seseorang tentang temannya dalam satu gereja yang sudah jarang pergi gereja dan sedang menghadapi pergumulan dalam hidupnya. Penghakiman adalah sesuatu yang terkadang muncul dalam hati seseorang dan berbuah dalam perkataan yang belum tentu benar tentang orang lain itu. Bisa jadi perubahan sikap itu muncul bukan karena ia jarang ke gereja, melainkan karena beratnya beban yang harus ditanggungnya. Kadang, bagi seseorang, beratnya beban kehidupan yang harus dipikulnya membuat hatinya mudah sensi dan peka berlebihan. Ini bukan karena dia tidak lagi melayani atau karena sudah jarang bersekutu di gereja. Ini soal pikiran dan hati yang sedang penuh dengan beban. Penghakiman tidak akan menolong mereka untuk kembali ke komunitas, melainkan makin menjauhkan mereka dari komunitas. Karena itulah, Paulus memperingatkan dengan keras tentang penghakiman dalam suratnya kepada jemaat di Roma.
Paulus berkata, “Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.” (Roma 2: 1). Melalui perkataan ini, Paulus hendak menegur kepada setiap anak-anak Tuhan yang di dalam kehidupan ini suka menghakimi orang lain dengan begitu mudahnya. Bukan Paulus membenci mereka tetapi Paulus justru ingin mereka menyadari akan kesalahan mereka itu. Bagi Paulus, penghakiman bukanlah hak kita manusia, melainkan hak Allah yang mengerti dengan benar apa yang sesungguhnya terjadi dalam diri seseorang. Di mata Paulus, apa yang kita ucapkan tentang orang lain sebagai bentuk penghakiman, sejatinya itu juga merupakan cerminan dari apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita sebagai manusia. Karena itu, kita tidak layak untuk menempatkan diri kita sebagai hakim bagi orang lain. Sebab, kita sama-sama manusia yang tidak luput dari kesalahan dalam kehidupan ini. Ia mengajak anak-anak Tuhan untuk mempercayakan penghakiman itu kepada Allah. Sebab, Allah mengetahui dengan pasti apa yang diperlukan oleh orang-orang yang di dalam kehidupan ini terlihat melakukan hal-hal yang menurut kita tidak benar.
Paulus dalam Roma 2: 1-11 menguraikan bahwa penghakiman Allah, bukanlah penghakiman yang didasarkan pada amarah yang membabi buta. Penghakiman Allah selalu diawali dengan kesempatan untuk orang tersebut menyadari perbuatannya yang salah dan memberi ruang pertobatan atau kesempatan untuk memperbaiki sebelum Ia menjatuhkan penghukuman-Nya. Allah adalah Pribadi yang tidak semena-mena dan tidak asal menghukum. Ia adalah Pribadi yang adil dan penuh kasih, yang selalu merindukan umat-Nya untuk terhindar dari penghukuman. Karena itu, kesempatan untuk memperbaiki diri selalu diberikan kepada setiap orang yang melakukan kesalahan dalam kehidupannya. Hal ini adalah bentuk keadilan Allah yang dinyatakan dengan penuh kasih kepada umat-Nya.
Jika umat merespon dan memanfaatkan kesempatan yang Allah berikan itu dengan baik dan berbalik dari kesalahannya kepada Allah, maka Allah tidak akan menjatuhkan hukuman atas mereka. Sebagaimana yang dilakukan-Nya kepada orang-orang Israel pada zaman Samuel yang dicatat dalam 1 Samuel 7: 3-13. Bacaan kita dalam kitab ini menceritakan bagaimana Allah memberi kesempatan kepada Israel untuk menyadari kesalahan mereka dan berbalik kepada-Nya, dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan mereka yang tidak benar itu. Ketika umat Israel memanfaatkan kesempatan itu dengan baik, maka Allah menyelamatkan mereka dari serangan orang-orang Filistin atas mereka.
Demikian jugalah yang sebenarnya Allah lakukan dalam kehidupan umat-Nya pada masa kini. Sekalipun umat-Nya melakukan sesuatu yang salah, Allah selalu memberikan kesempatan bagi umat untuk bertobat dan berbalik kepada-Nya. Ia tidak serta merta menjatuhkan hukuman kepada umat-Nya. Kecuali jika umat tidak memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Bukankah apa yang dilakukan Allah ini merupakan sebuah bentuk keadilan yang dilandasi kasih? Yang salah tidak langsung dihukum melainkan diberi kesempatan untuk bertobat, tapi kalau kesempatan itu tidak dimanfaatkan maka risiko akan ditanggung oleh umat itu sendiri. Oleh karena itu, marilah kita percayakan penghakiman itu hanya kepada Allah. Jangan kepada diri kita yang terkadang dikuasai oleh amarah dan belum tentu bisa bersikap adil dalam kehidupan ini. Amin.
Doa Syafaat dan Penutup
Berdoalah agar pemerintah dapat selalu meningkatkan kapasitas pendidikan dasar di berbagai pelosok negeri ini.
Nyanyian Penutup
TUHANKU BILA HATI KAWANKU
(KJ 467: 1-2)
Tuhanku, bila hati kawanku
Terluka oleh tingkah ujarku,
Dan kehendakku jadi panduku,
Ampunilah.
Jikalau tuturku tak semena
Dan aku tolak orang berkesah,
Pikiran dan tuturku bercela,
Ampunilah.

Komentar Anda