Saat Teduh
Nyanyian Umat
PKJ 138 – SETIAMU, TUHANKU, TIADA BERTARA
SetiaMu, Tuhanku, tiada bertara,
di kala suka, di saat gelap.
KasihMu, Allahku, tidak berubah,
Kaulah Pelindung abadi, tetap.
Refrein:
SetiaMu, Tuhanku, mengharu hatiku,
setiap pagi bertambah jelas.
Yang kuperlukan tetap Kau berikan,
sehingga akupun puas lelas.
Musim bertanam dan musim tuaian,
surya, rembulan di langit cerah,
bersama alam memuji, bersaksi
tentang setiaMu tak bercela.
Doa Pembuka – Dipimpin seorang anggota keluarga
Pembacaan Mazmur = Mazmur 138
(Dibaca secara bergiliran oleh seluruh anggota keluarga)
Bacaan 1 = Yehezkiel 28:11-19
(Dibaca secara bergiliran oleh seluruh anggota keluarga)
Bacaan 2 = 1 Kor. 6:1-11
(Dibaca oleh salah satu anggota keluarga)
Renungan
Kejatuhan umat manusia berawal dari satu akar yang sama: kesombongan. Yehezkiel 28 menunjukkan gambaran tentang sosok yang diciptakan begitu sempurna dan penuh hikmat, namun akhirnya hancur karena hatinya menjadi sombong. Kesombongan menggeser Tuhan dari takhta-Nya dan menjadikan diri sendiri di atas. Ketika kita mulai merasa mandiri, mengandalkan pencapaian sendiri, dan merasa lebih hebat dari orang lain, kita sedang berjalan menuju kebinasaan yang sama.
Dampak destruktif dari kesombongan ini nyata, bahkan di tengah komunitas orang percaya. Dalam 1 Korintus 6, kita melihat bagaimana keegoisan membuat orang Kristen saling menuntut, mencurangi, dan menyakiti saudara seimannya. Demi mempertahankan hak, materi, dan ego, mereka rela merusak kesaksian Kristus di hadapan dunia. Sikap mementingkan diri sendiri ini adalah ciri dari manusia lama. Alkitab dengan tegas mengingatkan kita akan kenyataan masa lalu: “Dan beberapa orang di antara kamu dahulu demikianlah.”
Namun, di situlah letak anugerah Allah yang mengubahkan. Kita telah dibenarkan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan oleh Roh Allah. Identitas baru ini menuntut sikap hati yang berbeda. Kita tidak perlu lagi bersusah payah membela gengsi, membalas dendam, atau memegahkan diri di hadapan manusia.
Mazmur 138 memberikan jawaban tentang bagaimana kita seharusnya hidup merespons anugerah tersebut. Meskipun Tuhan itu Mahatinggi dan Mahamulia, Ia justru mendekat dan memperhatikan orang yang rendah hati, tetapi Ia mengenal orang yang sombong dari jauh. Ibadah dan pujian yang sejati hanya bisa lahir dari hati yang menyadari kebergantungan kepada Allah.
Kita diajak untuk menanggalkan kesombongan dan beristirahat di dalam pemeliharaan Tuhan. Kita tidak perlu lagi memaksakan kehendak kita sendiri, karena seperti deklarasi Daud, “Tuhan akan menyelesaikannya bagiku” (Mzm. 138:8). Allah sendirilah yang akan menyempurnakan pekerjaan baik yang telah Ia mulai di dalam hidup kita.
Mari periksa hati kita, adakah kesombongan yang masih bertahta? Adakah keegoisan yang membuat kita sulit mengampuni atau justru merugikan sesama? Tanggalkanlah itu. Kembalilah pada sikap yang rendah hati. Ingatlah selalu bahwa segala kebaikan yang ada pada kita saat ini adalah hasil dari kasih karunia-Nya yang membenarkan kita. Biarlah Tuhan yang memegang kendali penuh atas hidup kita.
Doa Bersama
(Dipimpin secara bergantian antara anggota keluarga)
Doakan agar komunitas kristen yaitu Gereja bisa memberikan kesempatan bagi generasi muda berkreasi.
Doakan agar setiap anggota gereja mau meninggalkan kesombongan di dalam melayani Tuhan.

Komentar Anda