Sisa yang Setia
NYANYIAN PEMBUKA
PKJ 138 – SETIAMU, TUHANKU, TIADA BERTARA
Syair: Great Is Thy Faithfulness, Thomas O, Chisholm, 1923,
Terjemahan: E. L. Pohan, +/- 1976/Yamuger, 1982,
Lagu: William M. Runyan, 1923
SetiaMu, Tuhanku, tiada bertara,
di kala suka, di saat gelap.
KasihMu, Allahku, tidak berubah,
Kaulah Pelindung abadi, tetap.
Refrein:
SetiaMu, Tuhanku, mengharu hatiku,
setiap pagi bertambah jelas.
Yang kuperlukan tetap Kau berikan,
sehingga akupun puas lelas *).
Musim bertanam dan musim tuaian,
surya, rembulan di langit cerah,
bersama alam memuji, bersaksi
tentang setiaMu tak bercela.
DOA PEMBUKA
BACAAN ALKITAB
ZEFANYA 3:1-13
RENUNGAN
Setia itu tidak mudah, karena ini adalah komitmen dan konsistensi. Kesetiaan sering menuntut harga yang mahal, apalagi jika kita hidup di tengah dunia yang menormalisasi jalan pintas dan kompromi. Ada kalanya memilih untuk tetap jujur, taat dan berpegang teguh pada kebenaran justru membuat seseorang tampak tertinggal, merugi dan jalan yang sepi tanpa banyak membela. Kesetiaan bukanlah sekadar kata manis; ia adalah ujian daya tahan yang sering kali menguras energi dan melelahkan. Realitas yang berat inilah yang dihadapi oleh segelintir umat Tuhan di Yerusalem pada masa pelayanan nabi Zefanya. Ketika seluruh struktur masyarakat dan para pemimpin kota tersebut perlahan-lahan membusuk dalam ketidaksetiaan, Tuhan justru sedang mencari dan mempersiapkan mereka yang berani memilih jalan yang sulit: menjadi sisa yang tetap setia.
Konteks pada saat itu adalah potret umat yang memberontak dan cemar. Zefanya menyoroti para pemimpin, hakim, nabi, dan imam – mereka yang seharusnya menjadi penjaga gawang moral dan spiritual – justru menyalahgunakan kekuasaan demi keuntungan pribadi. Mereka menjadi tegar tengkuk dan menolak didikan Tuhan. Namun, penghakiman Tuhan bukan membinakan namun api yang memurnikan. Tuhan menyiapkan rencana untuk menyingkirkan orang-orang yang congkak dari tengah bangsa itu. Sebagai gantinya Tuhan memelihara sebuah komunitas yang disebut sebagai sisa Israel.
Menariknya, sisa umat ini tidak ditandai oleh kekuatan militer, kekayaan. Karakteristik utama mereka adalah rendah hati, lemah lembut dan berlindung pada nama Tuhan. Mereka membuang segala bentuk kecurangan dan lidah penipu. Karena integritas dan kebergantungan penuh inilah, Tuhan menjanjikan keamaan sejati di mana mereka dapat berbaring dengan tenang.
Di era saat ini, godaan untuk melepaskan kesetiaan dan mengikuti arus mayoritas sangatlah besar. Menjadi bagian dari “sisa yang setia” adalah panggilan untuk hidup dalam kerendahan hati dan integritas yang tak tergoyahkan. Mari mengkalibrasi ulang hati kita. Terus setia mungkin terasa melelahkan, membuat kita berjalan sendiri dan seolah tidak membuahkan hasil. Namun tetaplah bertahan dan mempertahankan apa yang benar serta baik. Tetaplah setia karena Tuhan menolong kita. Amin.
DOA SYAFAAT
- Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
- Gereja yang memberdayakan jemaat dan masyarakat.
- Peperangan dan konflik antar bangsa segera berakhir serta terwujud damai sejahtera
NYANYIAN PENUTUP
NKB 207 – TAAT, SETIA, BERTEKAD YANG BULAT
Syair: True-Hearted, Whole-Hearted; Frances Ridley Havergal,
Terjemahan: E. L. Pohan,
Lagu: George C. Stebbins
Taat, setia, bertekad yang bulat,
itulah janji Tuhan padamu.
Di bawah panji yang mulia berdaulat,
kami ‘kan angkat perang bagimu.
Refrein:
Angkat semboyan, jangan diamkan!
Tiup serunai dan maju terus!
Angkat semboyan, jangan diamkan!
Kristuslah Raja serta Penebus!
Taat, setia, teguh bersekutu
dengan Engkau, ya Pemimpin besar.
Kar’na penuh kasih sayang padaMu
kami sedikit pun tidak gentar.

Komentar Anda