Senyum Ramah Si Penjual Telur
Anirah namanya. Lahir di Banjar tahun 1921. Ia tinggal di desa Karangsembung, kabupaten Cirebon. Parasnya tidak cantik. Perawakannya juga biasa-biasa saja. Sebagai seorang manusia, mungkin dirinya tidak memiliki banyak keunggulan yang dapat dibanggakan. Bahkan sekolah dasar pun ia tidak tamat. Sehari-harinya ia membuka warungnya yang sederhana, yang berisikan bahan kebutuhan pokok. Ada emping manis, ada beras, kacang, dan beraneka jenis makanan lainnya. Bukan hanya itu,ia juga menjual sarung, kopiah, sampai payung. Meski sederhana,warungnya dipenuhi beragam barang dagangan.
Di antara berbagai dagangannya, telurlah yang paling dikenal orang. Apa pasal? Sebab ia mempunyai ayam ternak yang jumlahnya ratusan ekor, yang telurnya diambil untuk dijual. Di desa itu, tidak ada orang lain yang memelihara ayam sebanyak itu. Di pengujung hidupnya, sekitar usia 70 tahun, ia memang tidak lagi menjual telur yang diambil dari kandang ayamnya, melainkan membeli telur yang dijual dari orang, yang kemudian dijualnya di warungnya.
Setiap hari berjualan membuatnya bertemu banyak model orang. Siapa pun yang dijumpainya, senantiasa disambutnya dengan senyum hangat. Baginya, setiap orang merupakan sesama yang layak dikasihi. Bukan sekadar disapa, tapi disentuh. Bukan sekadar dilayani, melainkan dijadikan teman.
Guru sekolah minggu saya mengajari saya sebuah lagu yang salah satu syair lagunya berbunyi,”dalam suka duka ‘ku kan tetap tersenyum”. Hal ini menjadi tampilan yang secara konsisten diperlihatkan oleh Anirah. Meski dagangannya diambil tanpa bayar, ia tetap tersenyum. Pernah ada seorang kenalan suaminya masuk warungnya dan meminta payung dagangannya dan juga beberapa barang lain yang dijualnya. Suaminya memerintahkannya untuk memberikannya. Tanpa keberatan sedikitpun Anirah mengambilkannya dan walau tidak dibayar sepeserpun, ia tetap senyum dan ikhlas memberikannya. Meski hari itu usahanya tak mendatangkan keuntungan, senyumnya tetap tersungging. Semua pelanggan dilayaninya dengan ramah, tanpa keluh kesah. Seakan hidup hanya berisikan hal-hal yang menyenangkan.
Meski bukan seorang yang tergolong religius, Anirah dipenuhi semangat berbagi dan belas kasihan terhadap yang lemah. Walau belum tentu setiap pesan dari mimbar gereja ia dengar dipahaminya, namun sepertinya ia menghayati apa yang diajarkan Yesus kepada umat Kristen. Yesus, sebagai sosok yang penuh keramahtamahan, mengajari murid-murid-Nya bersikap ramah kepada semua orang. Ajaran Yesus ini disampaikan kepada murid-murid (dan semua orang yang ingin menjadi pengikut-Nya). Bahasa Yunani yang dipakai untuk menyebut keramahtamahan adalah philoxenia, yang berasal dari dua kata, yakni philos (= kasih terhadap sahabat) dan xenos (= orang asing). Secara harafiah kata ini dapat diartikan “mengasihi orang asing”
Yesus mengajarkan orang agar hidup ramah. Keramahtamahan merupakan nilai yang tertanam dalam diri-Nya dan terpancar lewat perkataan dan perbuatan-Nya. Hal itu menegaskan bahwa Tuhan memang sosok yang ramah.Keramahan, membuat-Nya yang secara hakekat berada jauh dari manusia (transenden) bisa terasa dekat (imanen). Sebagai Tuhan yang ingin menyelamatkan manusia, hal ini menjadi amat penting. Sebab, bukankah untuk menyelamatkan seseorang, sang penyelamat perlu mendapatkan kepercayaan dari yang akan diselamatkannya? Misalnya saja, ada seorang yang hampir terjatuh ke jurang. Dalam situasi sudah di pinggir jurang, ia berpegangan pada sebatang ranting kecil yang tidak bisa menahan tubuhnya dalam waktu yang lama. Ada yang lewat situ dan melihatnya tergantung dan menawarkan bantuan. Agar bisa menariknya ke atas, bukankah ia perlu menjulurkan tangannya dan menjangkau tangan orang yang sudah berada di pinggir jurang? Atau setidaknya menggunakan alat bantu seperti tali agar bisa menarik orang itu ke atas, ke tempat yang aman dan selamat? Jika sikap ramah itu diperlihatkan sebagai sesuatu yang menempel pada perkataan atau perbuatan kita, maka bukan saja ia akan membuat orang lain percaya terhadapnya. Lebih dari itu, ia juga dapat menunjukkan kesaksian tentang Yesus yang memiliki nilai hidup seperti itu. Dalam Yohanes 13.35 ditulis,“dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.“ (Alkitab Terjemahan Baru 2, 2023). Saling mengasihi memiliki konotasi ramah terhadap orang lain. Jadi, sikap ramah merupakan salah satu alat bantu kita memberi kesaksian tentang Yesus. Manusia pada umumnya menyukai dan membutuhkan keramahtamahan. Itu sebabnya. dengan keramahan, sebuah pesan akan lebih mudah diterima oleh orang lain. Tentu ini hendaknya tidak diartikan bahwa kita bersikap ramah sebagai pencitraan, agar orang tertarik pada kita dengan maksud supaya mereka mendengarkan pesan yang ingin kita sampaikan. Keramahtamahan seyogyanya dinyatakan sebagai sesuatu yang menyatu dengan diri kita. Sebagai identitas. Sebagai tanda bahwa kita mengikuti Yesus dan gaya hidup-Nya.
Sepanjang hidup-Nya, Yesus juga menunjukkan keramahtamahan. Berbagai peristiwa membuktikan bahwa Yesus menyapa orang lain dengan lemah lembut. Dalam kisah Zakheus (Lukas 19.1-10), Yesus menyatakan bahwa Ia akan mampir di rumah Zakheus. Padahal orang banyak memusuhi dia karena dianggap memungut pajak lebih besar daripada yang seharusnya dibayar oleh mereka. Zakheus yang dipandang sebagai pendosa besar justru disambut Yesus dengan kehangatan. Zakheus, yang ditolak oleh banyak orang, malah diterima oleh Yesus. Bahkan kesalahan yang sulit diampuni oleh orang lain, oleh Yesus seakan tidak dipandang berat. Sebaliknya, Yesus memperlakukan Zakheus seperti seorang yang sangat ingin berdekatan dengannya. Dalam kisah lain, diceritakan Yesus yang menyapa anak-anak dengan ramah (Markus 10.13-16). Anak-anak, yang di zaman itu dipandang tidak penting dan lebih sering dianggap mengganggu orang dewasa, tanpa ragu disambut Yesus dengan pelukan yang erat. Yesus mau berdekatan dengan mereka. Dia mengatakan, “Biarlah anak-anak itu datang kepada-Ku …“ (ayat 14). Joas Adiprasetya, dalam bukunya Labirin Kehidupan – Spiritualitas Sehari-hari bagi Peziarah Iman, menceritakan kisah kelahiran Yesus sebagai tanda di mana keramahtamahan dimulai. Tulisnya,“…keramahtamahan itu berlangsung dalam sebuah ruang konkret.Bahkan, keramahtamahan adalah sebuah seni ‘mencipta ruang‘. … keramahtamahan bisa dan harus terjadi di manapun. Di mana Yesus ada, akan selalu tercipta ruang keramahtamahan.“ Ramah, bukan berarti kita harus selalu tersenyum kala berjumpa orang lain. Yang lebih dibutuhkan adalah sikap terbuka yang menyambut setiap orang – apapun status sosialnya, atau bagaimanapun relasinya dengan kita – secara tulus.
Anirah disukai orang karena sikapnya yang ramah. Itu juga membuatnya dikenal sebagai seorang yang pemurah, termasuk dalam hal mengampuni orang lain. Suaminya yang rajin baca buku sering meledek dan merendahkan dia. Tapi ia tak pernah membalas. Mungkin karena ia tidak dilatih untuk mendebat orang lain. Namun lebih dari itu, jiwanya terkesan dipenuhi kemurnian cinta kasih sehingga tidak membutuhkan syarat apapun untuk bersikap ramah terhadap orang lain. Walau hanya jadi orang sederhana, namun ia telah berperan menghadirkan sosok Kristus dan menjadi saksi yang memperkenalkan Dia kepada orang-orang yang dijumpainya di warung kecilnya itu. YNWA

Komentar Anda