Bosan, Jenuh atau Apalah Namanya
Begitulah adanya perjalanan hidup yang sedang kita alami di tengah dunia ini. Sekali waktu perjalanannya terasa begitu menyenangkan dan membahagiakan. Kita berhadapan dengan hal-hal baru yang memberi semangat tersendiri dalam hidup, mengalami perjumpaan dengan orang-orang yang membawa inspirasi bagi kita, dan melakukan hal-hal yang membuat kita merasa terberkati dalam hidup. Namun semua itu barulah satu sisi dari realitas kehidupan yang kita alami. Sebab, di sisi lain, ada wajah kehidupan yang kadang terasa begitu menjenuhkan dan membosankan. Apalagi jika yang kita alami setiap hari ritmenya begitu-begitu saja. Bangun pagi, berangkat kerja, menyelesaikan tugas-tugas rutin di kantor, pulang dari kantor, lalu tidur lagi. Mungkin awalnya kita bisa menikmatinya dengan sukacita, namun tak jarang dengan berjalannya waktu, hal itu menjadi sebuah rutinitas yang membawa kita pada kebosanan dan kejenuhan.
Tapi, memang begitulah fakta kehidupan manusia di dunia ini. Pada zaman dahulu orang menyebutnya dengan istilah “Cakra Manggilingan”. Istilah ini menggambarkan bahwa siklus kehidupan manusia yang terus berdinamika, layaknya seperti sebuah roda yang terus berputar dan bergerak maju ke depan.
Kadang di atas (senang/sukses), kadang di bawah (sedih/susah), namun akan selalu menghadapi perubahan zaman yang silih berganti.
Dalam konteks kehidupan yang demikian itu, satu bagian firman Tuhan yang menguatkan kita terdapat dalam 2 Korintus 4:16, “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari hari ke hari.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa kebosanan sejatinya adalah serangan terhadap perasaan, fisik, dan emosi kita. Namun, justru di sanalah sisi batiniah kita diperbaharui. Jika rutinitas membuat lahiriah kita lelah, maka batiniah kita justru memiliki kesempatan emas untuk bertumbuh dalam pengenalan akan kasih karunia yang segar setiap pagi. Rutinitas bukanlah kutukan, melainkan tempat di mana kasih karunia bekerja secara diam-diam. Coba bayangkan bangsa Israel di padang gurun. Setiap pagi mereka harus memungut manna. Jika mereka berpikir logis, pasti ada keluhan: “Manna lagi? Bosan!” Namun, manna adalah bukti kesetiaan Tuhan yang baru setiap hari. Demikian pula hidup kita.
Mungkin jika kita hanya berfokus pada alur yang rutin, kita bisa saja menjadi jenuh dan bosan. Namun, jika kita berfokus pada apa yang sedang Tuhan berikan untuk kita hayati bersama Dia, maka hal lain akan terasa berbeda dalam hidup kita. Jadi masalahnya bukan pada kegiatan yang monoton, melainkan pada hati yang seperti apa yang menyertai setiap aktivitas keseharian kita. Pertanyaannya, apakah kita cukup peka untuk melihat jejak Tuhan di balik tumpukan tugas-tugas kita, di balik senyuman rekan sekerja kita, atau bahkan di balik kemacetan jalan yang kita lalui setiap hari?
Kejenuhan datang ketika kita hidup hanya untuk hal-hal yang tampak oleh mata. Ketika kita kehilangan makna di balik aktivitas, maka pekerjaan menjadi beban dan waktu menjadi musuh. Karena itu, firman Tuhan mengajak kita memusatkan pandangan pada hal-hal yang tidak kelihatan (2 Korintus 4:18). Jika tujuan kita bekerja hanya untuk upah atau pengakuan manusia, kita pasti jenuh. Tetapi jika kita bekerja sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan dan pelayanan bagi sesama, maka setiap hal yang kita lakukan dalam pekerjaan kita akan semakin bermakna.
Maka, jangan biarkan kebosanan mematikan semangat kita. Justru gunakan rasa jenuh itu sebagai cermin untuk memeriksa hati.
Mungkin kita terlalu mencintai dunia sehingga kecewa ketika dunia terasa biasa saja. Mari belajar bersyukur dalam segala keadaan, karena kasih setia Tuhan tidak pernah habis, bahkan di hari yang paling “begitu-begitu saja” sekalipun. Ingatlah bahwa setiap pagi adalah kesempatan baru untuk mengalami pembaharuan dari Roh Kudus.
Ketika roda kehidupan terus berputar naik turun, biarlah iman kita tetap tegak berdiri di atas batu karang, yaitu Yesus Kristus. Sebab, di dalam Dia, tidak ada satu hari pun yang sia-sia. Semua indah pada waktu-Nya, termasuk hari ini yang sedang kita jalani.
@deonata

Komentar Anda