Rendah Hati, Perlu Bukti Nyata

Saat teduh

Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya

 

Nyanyian Umat          

NKB 87 “Junjungan yang Kupilih“

Junjungan yang ‘ku pilih: Yesusku Penebus.
Yang bangkit dari mati, berkuasa seterus.
Kendati banyak orang mengejek, mencela,
‘ku ikut suara-Nya, lembut mesra.

Benar, benarlah hidup Yesusku.
Bersamaku di jalanku, suaraNya ‘ku dengar.
Benar, benarlah hidup Yesusku.
Di mana Dia ‘ku dengar? Di dalam hatiku!

 

Menyanyilah umat-Nya, memuji Tuhanmu!
Nyanyikanlah: Haleluya, agungkan Rajamu.
Harapan bagi orang yang mau mencari-Nya,
sebab Yesusmu hidup selamanya.

 

 

Bacaan I: Yeremia 13.1-11

Pesan yang penting dalam perikop ini

Cerita pada perikop ini melambangkan hubungan antara manusia dengan Allah. Lambang yang dipakai adalah ikat pinggang lenan yang diikatkan pada pinggang Yeremia. Awalnya ikat pinggang itu kokoh dan utuh, namun lama kelamaan jadi lapuk dan rapuh, seperti hubungan antara umat Israel dengan Tuhannya. Mengapa itu bisa terjadi?

Jawabnya, karena kerusakan rohani dan penyembahan berhala.

 

Doa Pembuka

Dipimpin seorang anggota keluarga

 

Mazmur 131

Bacalah bagian ini dengan beberapa cara

  1. Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
  2. Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
  3. Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan

 

Bacaan II: Yohanes 13.1-17

Pesan melalui perikop 

Bagian ini menceritakan peristiwa Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya pada malam sebelum penyaliban-Nya. Tindakan ini menjadi salah satu pengajaran paling kuat tentang kasih dan kerendahan hati dalam Alkitab.

Yesus mengajar bukan hanya dengan kata. Ia menjiwai pengajaran-Nya dengan tindakan, sehingga dapat dilihat oleh orang lain dan ditiru oleh mereka. Kerendahan hati bukan hanya konsep yang tertera di atas kertas dan berbentuk teori, melainkan praktek nyata yang mewujud dalam hati orang-orang yang melihat perbuatan seseorang dan mendapati kesan positif terhadapnya.

Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).

Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:

  • Apakah hal-hal baik yang kita pahami hanya ada di atas kertas atau di pikiran kita semata?
  • Apakah kita mengerti bahwa konsep tentang segala sesuatu, khususnya mengenai hal-hal baik, lebih diterima orang lain ketika ia diwujudkan dalam perbuatan, ketimbang hanya diajarkan lewat mulut dan suara?  

 

Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:

  • Jika kita diminta menilai orang lain, apa yang pertama kali menjadi penentu penilaian kita terhadapnya?
  • Apa yang membuat Saudara bisa menjadi seorang yang rendah hati?

 

Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:

  • Belajar dari teladan Yesus, bagaimana kita menunjukkan sikap sebagai seorang yang mau melayani orang lain? Dari mana kita mulai? Jika sudah mulai, bagaimana mempertahankan kualitas pelayanan kita?

 

Doa Bersama

Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:

  • Umat memahami pelayanan dilandaskan pada syukur kepada Allah
  • Umat bersyukur karena menyadari segala kebaikan Allah yang ia terima dan bersedia menyalurkannya kepada orang lain

 

Nyanyian Umat

”Melayani Lebih Sungguh”

Melayani, melayani lebih sungguh (2x)

Tuhan lebih dulu telah melayani daku

Melayani, melayani lebih sungguh

 

–       bisa dinyanyikan beberapa kali –

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga