Pengampunan

Saat Teduh

 

Nyanyian Pembuka 

 

Mengampuni

(Pop Rohani)

 

Ketika hatiku t’lah disakiti

Ajarku memberi

Hati mengampuni

Ketika hidupku t’lah dihakimi

Ajarku memberi

Hati mengasihi

Refrein:

    Ampuni bila kami

    tak mampu mengampuni yang

    bersalah kepada kami

    Seperti hati Bapa mengampuni

    mengasihi tiada pamrih

 

Pembacaan Mazmur 119: 105-112

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

 

Doa Pembuka dan Firman

(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)

 

Pembacaan Alkitab

Perjanjian Lama   : 2 Raja-Raja 22: 3-20

Perjanjian Baru    : Roma 11: 2-10

 

Renungan 

   “Pengampunan” secara psikologis bisa diartikan sebagai tindakan sukarela yang dilakukan seseorang untuk melepaskan kemarahan, kebencian, atau pembalasan kepada seseorang yang telah menyakiti hatinya. Untuk dapat memberikan pengampunan kepada orang yang bersalah kepada kita, dibutuhkan kebesaran hati, kedewasaan dan kerelaan diri. Sebab, mengampuni berarti menyadari bahwa sekalipun kita terluka, namun kita tidak ingin tinggal dalam luka itu. Bagi sebagian besar orang, mengampuni adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Apalagi jika luka yang ditimbulkan begitu dalam. Semakin kita terluka, semakin kita sulit mengampuni. Karena itu, memperoleh pengampunan dari orang yang kita lukai bukanlah perkara yang mudah dan sederhana. Tidak sedikit orang yang bersalah telah berusaha memperoleh pengampunan dari orang lain, namun gagal.

    Jika manusia begitu sulit untuk memberikan pengampunan kepada orang lain yang bersalah kepadanya, tidak demikian dengan Allah kita. Allah adalah Pribadi yang penuh kasih dan terbuka untuk memberikan pengampunan kepada setiap orang yang mau meminta pengampunan dari-Nya. Hal inilah yang digambarkan dalam kitab 2 Raja-Raja 22: 3-20. Bacaan pertama kita hari ini memberikan penjelasan bahwa karena ketidaksetiaan bangsa Israel di masa lalu, Allah marah kepada mereka. Allah hendak mendatangkan malapetaka atas bangsa itu. Berita ini diketahui oleh oleh Yosia, raja Yehuda pada masa itu. Ia mengetahui berita itu pada waktu kitab Taurat telah ditemukan kembali. Safan, seorang panitera raja, membacakan kitab itu di hadapan Yosia. Segera sesudah raja mendengar perkataan kitab Taurat itu, dikoyakkanyalah pakaiannya sebagai simbol penyesalan dan merendahkan diri. 

    Raja kemudian memerintahkan agar beberapa orang untuk pergi meminta petunjuk Allah bagi mereka. Menariknya, ketika mereka mendatangi nabiah yang bernama Hulda, nabiah itu dipakai Allah untuk memberitakan kepada mereka apa yang akan dilakukan Allah terhadap bangsa Israel. Dalam berita yang disampaikan nabiah itu, Allah memberi pengecualian kepada raja Yehuda yang telah menunjukkan penyesalan dan merendahkan diri di hadapan Allah waktu mendengar berita hukuman yang akan dilakukan Allah. Dalam hal ini, kita melihat bagaimana Allah telah memberikan pengampunan kepada raja Yehuda.

    Demikian jugalah yang diberitakan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Dalam Roma 11: 2-10 Paulus memberitakan bagaimana Allah telah mengampuni orang-orang yang bersalah kepada-Nya, karena mereka bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Jika Israel tidak mendapatkan pengampunan dari Allah, hal itu bukan karena Allah benci dan dendam kepada mereka, melainkan karena mereka keras kepala dan tegar tengkuk. Mereka tidak merasa bersalah, mereka tidak menjalani pertobatan dan kembali ke jalan yang benar. 

    Belajar dari dua bacaan ini, maka kita diingatkan bahwa Allah kita adalah Allah yang penuh kasih dan bersedia mengampuni orang yang bersalah. Ia menghargai keberanian umat-Nya untuk menyadari kesalahannya dan menjalani hidup dalam pertobatan. Ia tidak selalu tinggal dalam kemarahan-Nya karena kesalahan yang diperbuat umat-Nya. Sikap yang seperti inilah yang sebenarnya juga diharapkan ada dalam kehidupan kita. Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa manusia punya kelemahan. Terkadang manusia melakukan hal-hal yang melukai hati dan merugikan sesamanya. Ada kalanya, orang lain yang berada dalam posisi itu, adakalanya kita yang ada dalam posisi itu. 

    Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita memberikan pengampunan kepada mereka yang telah merugikan atau menyakiti kita. Sebagaimana kita rindu diampuni, tentulah mereka juga rindu untuk diampuni. Percayalah, pengampunan tidak hanya akan berdampak bagi mereka, tetapi juga akan memberi dampak yang positif bagi diri kita. Dengan mengampuni, kita tidak lagi hidup dalam kebencian dan kemarahan. Hati kita akan lebih tenang dan damai. Oleh karena itu, marilah kita belajar mengampuni. Tuhan memberkati. Amin.

 

Doa Syafaat dan Penutup

Berdoalah agar pemerintah tergerak untuk membangun infrastruktur pendidikan secara merata di berbagai daerah di Indonesia.

 

Nyanyian Penutup

 

Mengampuni, Mengampuni

(Pop Rohani)

 

Mengampuni, mengampuni lebih sungguh.

Mengampuni, mengampuni lebih sungguh.

Tuhan lebih dulu mengampuni kepadaku.

Mengampuni, mengampuni lebih.

 

Mengasihi, mengasihi lebih sungguh.

Mengasihi, mengasihi lebih sungguh.

Tuhan lebih dulu mengasihi kepadaku.

Mengasihi, mengasihi lebih sungguh.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga