Pegang dan Berlakukanlah Firman

Saat teduh

Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya

 

Nyanyian Umat          

PKJ 37 “Bila Kurenung Dosaku“

 

Bila kurenung dosaku pada-Mu, Tuhan,
yang berulang kulakukan di hadapan-Mu

Kasih sayang-Mu perlindunganku.
Di bawah naungan sayap-Mu damai hatiku.
Kasih sayang-Mu pengharapanku.
Usapan kasih setia-Mu s’lalu kurindu.

 

Rasa angkuh dan sombongku masih menggoda,
iri hati dan benciku kadang menjelma.

 

Bacaan I: Amsal 11.23-30

Pesan yang penting dalam perikop ini

Nasehat pada amsal ini mengingatkan kita bahwa hidup dilandaskan pada hubungan yang baik dengan Allah, bukan atas dasar kekayaan atau kekuatan manusia. Hidup perlu dijalani dengan memusatkan perhatian pada nilai-nilai keilahian, bukan keduniawian.

 

Doa Pembuka

Dipimpin seorang anggota keluarga

 

Mazmur 92

Bacalah bagian ini dengan beberapa cara

  1. Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
  2. Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
  3. Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan

 

Bacaan II: Matius 13.10-17

Pesan melalui perikop 

 

Pengajaran Yesus kepada para murid dalam bentuk perumpamaan sebetulnya ingin menegaskan sikap hati manusia kala mendengar suara Tuhan. Ada 2 kategori atau golongan yang mewakili respons manusia terhadap suara Tuhan, yakni:

  1. Mengeraskan hati dan tidak mau menerima apa yang disampaikan; dan
  2. Membuka hati dan siap mengerjakan apa yang diajarkan

Bagi yang menerima perkataan Yesus dan ingin memperbaiki dirinya, maka perumpamaan menjadi sarana atau media yang memudahkannya mengerti makna firman Tuhan. Namun sebaliknya, bagi yang mengeraskan hati, maka perumpamaan menjadikannya sulit memahami apa yang diajarkan Tuhan.

 

Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).

Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:

  • Apakah selama ini kita mengejar pemahaman tentang firman hanya untuk diketahui semata?
  • Apakah kita mengalami kesulitan memahami firman Tuhan, dalam berbagai cara yang disampaikan kepada kita? Jika ya, kira-kira apa yang menyebabkannya?

 

Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:

  • Apa yang dirasakan oleh hati kita ketika mendengar firman? Biasa-biasa saja? Bergelora dan bersemangat? Gelisah, dan karena itu, ingin bisa menjawabnya sehingga jadi tenang?

Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:

  • Apakah kita sudah menjadi pelaku firman? Ataukah kita hanya merasa cukup memahaminya saja dan berbangga karenanya?

Doa Bersama

Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:

  • Supaya pelayan Tuhan bisa membagi waktunya untuk keluarga, pekerjaan, dan pelayanan secara bijak dan optimal

 

Nyanyian Umat

NKB 116 ”Siapa yang Berpegang”

 

Siapa yang berpegang pada sabda Tuhan
dan setia mematuhinya,
hidupnya mulia dalam cah’ya baka
bersekutu dengan Tuhannya.

Percayalah dan pegang sabda-Nya:
hidupmu dalam Yesus sungguh bahagia!

 

O betapa senang hidup dalam terang
beserta Tuhan di jalan-Nya,
jika mau mendengar serta patuh benar
dan tetap berpegang pada-Nya.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga