Menjaga Diri di Tengah Krisis

NYANYIAN PEMBUKA
PKJ 285 – BILA BADAI HIDUP MENERPAMU
Syair dan lagu: Bonar Gultom (Gorga), 1972, Yesaya 54:10
 
Bila badai hidup menerpamu
dan cobaan pun datang mengganggu,
hanya satu janji harapanmu;
ya, janji Tuhanmu, pegang teguh.
Biar gunung-gunung pun beranjak,
serta bukit-bukit pun bergoncang,
kasih dan setia dari Tuhan
‘kan melindungimu, tetap teguh.
Pegang selalu janji Tuhan,
jangan lepaskan,
walau siang atau malam;
enyahlah takut atau bimbang:
Tuhanlah pemilik hidupmu, hidupmu.
Biar gunung-gunung pun beranjak,
serta bukit-bukit pun bergoncang,
kasih dan setia dari Tuhan
‘kan melindungimu, tetap teduh.

https://www.youtube.com/watch?v=Fohozmh1jKM&list=RDFohozmh1jKM&start_radio=1

 

DOA PEMBUKA

BACAAN ALKITAB      

IBRANI 13:1-16

 

RENUNGAN

Krisis selalu ada di setiap perjalanan hidup. Ia datang seperti badai yang bisa menelanjangi karakter asli manusia. Ketika rasa aman kita terusik, apa insting alami manusia? Melindungi diri, menarik diri untuk keamanan pribadi. Bukankah ini wajar? Namun di tengah situasi krisis ini bagaimana kita sebagai orang beriman menjaga diri agar tidak kehilangan jati diri Kristen kita?

Jemaat mula-mula menghadapi krisis – berupa penganiayaan, tekanan sosial dan ancaman kehilangan banyak hal. Penulis surat Ibrani menyampaikan nasihat untuk menjaga diri namun tidak untuk keselamatan diri sendiri dan egois. Umat diajak untuk tetap memelihara kasih persaudaraan, memberi tumpangan dan meningat orang-orang yang terpenjara (karena iman). Lebih dalam lagi, ada dua area krusial yang paling rentan goyah saat krisis: pernikahan dan keuangan. Mengapa demikian? Karena saat krisis terjadi, kesetiaan sering kali dikorbankan. Ketika ekonomi mengancam, manusia cenderung menjadi hamba uang. Uamt diajarkan untuk mencukupkan dengan apa yang ada – tidak memiliki gaya hidup berlebiha.

Apa yang bisa membuat kita bertahan? Firman Tuhan memberikan jangkar yang kuat “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Ini adalah jaminan. Menjaga diri di tengah krisis bukan berarti kita membangun benteng egois yang tinggi namun mengakar kuat pada janji pemeliharaan Allah. Ketika kita tahu bahwa Allah adalah penolong, kita tidak perlu takut pada apa yang dapat dilakukan manusia atau situasi kepada kita. Karena pertolongan Tuhan membuat kita menjadi umat yang berhikmat untuk bisa menghadapi krisis demi krisis.

Di tengah krisis, iman menolong kita untuk memiliki gaya hidup alternatif. Kita tetap menjaga kekudusan pernikahan ketika lingkungan menganggap ketidaksetiaan sebagai hal yang bisa. Kita menjaga hati dari cinta uang dengan tetap belajar memberi dan berbagi – bahkan ketika lumbung kita sendiri sedang diuji. Menjaga diri agar altar iman kita kepada Tuhan tetap baik – hidup penuh rasa syukur dan perbuatan baik tidak padam oleh badai.

 

DOA SYAFAAT

  • Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
  • Terlibat dalam pemberdayaan di tengah masyarakat.
  • Peperangan dan konflik antar bangsa segera berakhir serta terwujud damai sejahtera
     

NYANYIAN PENUTUP

NKB 188 – TIAP LANGKAHKU
Syair dan lagu: Each Step I Take; Elmo Mercer,
Terjemahan: K. P. Nugroho
 
Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
dan tangan kasihNya memimpinku.
Di tengah badai dunia menakutkan,
hatiku tetap tenang teduh.
Refrein:
Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin
ke tempat tinggi ‘ku dihantarnNya,
hingga sekali nanti aku tiba
di rumah Bapa sorga yang baka.
 
Di waktu imanku mulai goyah
dan bila jalanku hampir sesat,
‘ku pandang Tuhanku, Penebus dosa,
‘ku teguh sebab Dia dekat.
 
Di dalam Tuhan saja harapanku,
sebab di tanganNya sejahtera;
DibukaNya Yerusalem yang baru,
kota Allah suci mulia.
 
https://www.youtube.com/watch?v=4j6VgPdbXPc&list=RD4j6VgPdbXPc&start_radio=1

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga