Mengikut Panggilan Tuhan, Walau Beda Dengan Pemikiran Kita
Saat teduh
Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya
Nyanyian Umat
NKB 126 “Tuhan Memanggilmu“
Tuhan memanggilmu, hai dengarlah:
“Apa pun yang terbaik, ya b’rikanlah!”
Dan jangan ‘kau kejar hormat semu,
muliakan saja Yesus, Tuhanmu.
Tiap karya diberkati-Nya,
namun yang terbaik diminta-Nya.
Walaupun tak besar talentamu,
b’ri yang terbaik kepada Tuhanmu.
Sanjungan dunia jauhkanlah
dan jangan ‘kau dengar godaannya.
Layani Tuhanmu dalam jerih
dalam hidupmu yang t’lah ‘kau beri.
Bacaan I: Yunus 2.1-10
Pesan yang penting dalam perikop ini
Yunus melarikan diri dari perintah Allah, yang memintanya pergi ke Niniwe. Dia diutus ke sana untuk menasehatkan umat agar kembali ke jalan Tuhan. Karena menurut Yunus umat di Niniwe terlalu bebal – mengacu pada ketidaktaatan mereka pada himbauan nabi yang sebelumnya diutus ke sana, padahal nabi itu punya reputasi yang lebih hebat ketimbang dirinya – maka ia menganggap perintah Allah itu sia-sia belaka. Jadi dia memilih pergi ke Damsyik. Namun di tengah jalan kapalnya kandas. Lalu dia ditelan ikan paus. Pasal ini memuat perenungan Yunus di perut ikan paus tersebut. Di situ ia berdoa dan akhirnya menyadari kesalahannya, yang menentang kehendak Tuhan. Perenungannya mengantarkannya pada kesimpulan bahwa Tuhan berdaulat penuh terhadap kehidupan, dan kebenaran-Nya tak tersanggah. Dalam kemutlakan kebenaran Allah, manusia diajak menemukan jalan yang dapat menuntunnya pada keselamatan. Akhirnya Yunus sadar dan kembali menurut pada Allah.
Doa Pembuka
Dipimpin seorang anggota keluarga
Mazmur 114
Bacalah bagian ini dengan beberapa cara
- Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
- Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
- Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan
Bacaan II: Matius 12.38-42
Pesan melalui perikop
Sikap apatis terhadap kemesiasan Yesus sudah mendarah daging dalam diri orang-orang Farisi, dan itu terlihat dalam setiap ucapan mereka. Tentang hal ini Yesus menyebut mereka angkatan yang jahat dan tidak setia, karena senantiasa mempertanyakan kemesiasan-Nya tanpa mau berubah menjadi percaya. Ketika diminta menunjukkan tanda, Yesus hanya mau menunjuk pada “tanda Yunus” yang tiga hari berada di perut ikan paus sampai akhirnya keluar dari situ. Tiga hari itu menunjuk pada kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya.
Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).
Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:
- Kita sering mengatakan percaya kepada Yesus, tapi mempertanyakan kebenaran ajaran-Nya. Benarkah demikian?
Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:
- Apakah kita sering menganggap perintah Tuhan itu aneh dan sia-sia? Kita lebih mendengarkan asumsi dan persepsi kita sendiri sehingga merasa yang disuruh Tuhan hanya akan menuai kegagalan?
Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:
- Apakah kita mau setia pada Tuhan Yesus? Bagaimana kita menunjukkan kesetiaan kita kepada-Nya?
Doa Bersama
Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:
- Agar setiap orang belajar memahami dirinya dipanggil Tuhan melaksanakan karya dalam hidup demi kebaikan, sesuai rencana Tuhan yang mulia
Nyanyian Umat
KJ 376 ”Ikut Dikau Saja Tuhan”
Ikut Dikau saja Tuhan,
jalan damai bagiku;
Aku s’lamat dan sentosa
hanya oleh darah-Mu.
Aku ingin ikut Dikau
dan mengabdi pada-Mu:
dalam Dikau, Jurus’lamat,
‘ku bahagia penuh!
Ikut dan menyangkal diri,
aku buang yang fana,
hanya turut kehendak-Mu
dan pada-Mu berserah.

Komentar Anda