Luka Dibalik Jubah
Smiling Depression adalah kondisi di mana seseorang terlihat gembira, namun sebenarnya memendam depresi dan pergumulan yang berat dalam batinnya. Berbagai lembaga kesehatan mental menyoroti fenomena ini. Banyak orang yang bergumul dengan kesehatan mental justru adalah mereka yang terlihat “paling baik-baik saja” Di era media sosial saat ini, memoles citra diri yang sempurna di dunia digital justru berbanding lurus dengan tingkat depresi di dunia nyata. Kita sering tertipu oleh apa yang tampak dari luar. Kita melihat senyuman, kesuksesan, dan pencapaian tanpa tahu ada lupa apa di baliknya.
Kisah Yusuf dalam Kejadian 37:1-28 adalah satu potret disfungsi keluarga di dalam Alkitab. Yakub sebagai ayah pilih kasih secara terang-terangan. Ia mengulangi keslaahan orangtuanya dulu. Yusuf memperlihatkan jubah indah dan menceritakan mimpi-mimpi besar tanpa ada empati pada saudara-saudaranya. Lalu saudara-saudara Yusuf merasa iri yang tidak terkendali dan berujung pada kekerasan. di sinilah ironi itu terjadi. Jubah yang indah, mimpi yang besar justru menjadi pemicu kebencian yang sangat mematikan di dalam keluarga. Di balik keindahan ada keluarga yang hancur. Di balik jubah itu ada Yusuf yang harus mengalami pengkhianatan paling menyakitkan dari saudara sendiri. Ada ironi lainnya, setelah Yusuf dibuang ke sumur, semua saudaranya duduk untuk makan bersama. Mungkin sambil bercanda, tenang dan sepuluh saudara ini terlihat rukun. Ya kadang memang demikian, manusia bisa bahagia di atas luka dan derita orang lain.
Kisah keluarga Yakub ini mengajak kita untuk bercermin pada realitas kehidupan hari ini. Apa “jubah indah” yang sedang kita pakai hari ini? Jabatan, gaya hidup flexing, foto- foto di medsos yang tampak harmonis, atau pelayanan yang sibuk di gereja? Mungkin tidak sedikit orang yang memakai jubah ini untuk menutupi rasa tidak aman (insecure) atau luka yang sedang kita alami. Kita memaksa diri untuk tampil indah namun sebenarnya sedang menghadapi banyak masalah. Di balik keindahan itu ada air mata, ada kerapuhan atau luka yang tersembunyi. Kita perlu jujur dengan diri kita sendiri. Di sisi lain, berhenti untuk merasa iri dengan melihat “jubah” orang lain: keberhasilan, prestasi atau kegembiraan. Kita hanya perlu bersyukur dengan apa yang ada pada kita sebagai berkat dari Tuhan yang dipercayakan untuk dikelola.
Ketika di dalam sumur yang gelap Yusuf tidak lagi bersama “jubah” yang indah, namun derita dan luka. Namun Tuhan tidak meninggalkannya dan terus menyertai Yusuf. Identitas sejati tidak terletak pada apa yang dipakai melainkan pada siapa yang menyertai hidup kita. Amin.
@garam_sekucupnya

Komentar Anda