Ketika Manusia Gagal, Allah Tetap Setia
NYANYIAN PEMBUKA
PKJ 138 – SETIAMU, TUHANKU, TIADA BERTARA
Syair: Great Is Thy Faithfulness, Thomas O, Chisholm, 1923,
Terjemahan: E. L. Pohan, +/- 1976/Yamuger, 1982,
Lagu: William M. Runyan, 1923
SetiaMu, Tuhanku, tiada bertara,
di kala suka, di saat gelap.
KasihMu, Allahku, tidak berubah,
Kaulah Pelindung abadi, tetap.
Refrein:
SetiaMu, Tuhanku, mengharu hatiku,
setiap pagi bertambah jelas.
Yang kuperlukan tetap Kau berikan,
sehingga akupun puas lelas *).
Musim bertanam dan musim tuaian,
surya, rembulan di langit cerah,
bersama alam memuji, bersaksi
tentang setiaMu tak bercela.
DOA PEMBUKA
BACAAN ALKITAB
ROMA 3:1-8
RENUNGAN
Bukankah setiap orang pernah gagal? Betapa tidak mudahnya menghadapi kegagalan. Apalagi untuk sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Seperti: pekerjaan, anak atau pernikahan. Betapa kecewa dan sakit. Bagaimana penilaian orang lain, bagaimana kelanjutan hidup, namun yang lebih sulit adalah menghakimi diri sendiri, apakah Tuhan masih mau mengampuni? Pertanyaan ini akan terus menghantui.
Paulus mengerti pertanyaan ini. Kegagalan tidak membuat Tuhan berpaling pada umat. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, Ia setia menyambut kita untuk mendapatkan kesempatan kembali. Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma menyampaikan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan namun mereka gagal total. Mereka tidak setia, melanggar hukum dan memberontak. Lalu Paulus mengajukan pertanyaan retoris yang tajam “Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah?” Jawabnya “sekali-kali tidak!”.
Kita belajar bahwa kesetiaan Allah adalah karakter-Nya bukan reaksi. Ia setia bukan karena kita berbuat baik, tapi karena Ia benar dan penuh kasih. Ketika kita gagal, esensi Allah tidak berubah jadi jahat namun menunjukkan kebaikan-Nya. Ini adalah kasih karunia Tuhan. Namun kasih karunia ini bukan untuk sengaja berbuat dosa – melainkan sebuah kepastian bahwa kasih-Nya selalu lebih besar daripada ruang kegagalan kita. oleh karena itu, respon kita adalah pertobatan dan pembaharuan hidup.
Kalau kamu dan saya gagal, jangan tenggelam mennghakimi diri tapi sambutlah kesetiaan Allah. Ketika ia memberikan kesempatan kembali, pakailah untuk hidup yang lebih baik. Kasih-Nya menjadi jangkar keselamatan yang tidak boleh disia-siakan. Amin.
DOA SYAFAAT
- Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
- Gereja peduli pada kesehatan masyarakat.
- Peperangan dan konflik antar bangsa segera berakhir serta terwujud damai sejahtera
NYANYIAN PENUTUP
HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN
Pdt. Wilhelmus Latumahina
Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan bri
Hidup ini harus jadi berkat
Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti
Ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat

Komentar Anda