Kemarahan di Bawah Pohon Jarak

Kita semua pernah marah. Emosi ini lazimnya muncul saat kita lelah, rencana berantakan, atau ketika diperlakukan tidak adil. Namun dari semua ekspresi emosi kemarahan, ada satu bentuk yang paling ironis sekaligus berbahaya: marah justru karena Allah bermurah hati. Kok bisa? Ini yang terjadi pada Yunus yang juga bisa menjangkiti manusia pada saat ini. Ketika berhadapan dengan kasih karunia Allah yang tak terbatas, manusia justru bisa menjadi lawan.

Dalam kitab Yunus, Niniwe – Ibu kota Kerajaan Asyur yang terkenal kejam dan jahat baru saja mengalami pertobatan masal. Dari raja, rakyat hingga ternak merendahkan diri dan bertobat kepada Allah. Merespon hal itu, Allah mengurungkan niat-Nya untuk menghukum mereka. Secara logika manusia, seorang pelayan Tuhan seharusnya bersukacita melihat keberhasilan pelayanannya. Namun reaksi Yunus sungguh mengejutkan: ia sangat marah dan memprotes Allah. Mengapa marah? Yunus bukan seseorang yang tidak mengenal Allah, melainkan justru karena sangat mengenal sifat Allah. Ps. 4:2-3 Yunus berkata “Ya TUHAN, bukankah hal ini telah kukatakan, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebab nya aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal atas malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Sekarang, ya TUHAN, ambillah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati daripada hidup.” Yunus sudah tahu bahwa Allah akan bermurah hati dan mengampuni mereka. Itulah yang tidak bisa diterima. Bagi Yunus, Niniwe adalah musuh bangsa yang kejam, mereka layak dihukum binasa, bukan diampuni. Ia menuntut kasih karunia bagi diri sendiri, namun mengharapkan kehancuran bagi musuh.

Allah tidak membalas dengan marah, melainkan sebuah pelajaran yang menohok keegoisannya. Allah menumbuhkan pohon jarak untuk menaungi Yunus, dan Yunus “sangat bersukacita”. Keesokan harinya Allah mendatangkan ulat yang membuat pohon itu layu, dan mengirim angin timur yang panas menyengat. Yunus di bawah pohon jarak itu kembali marah hingga meminta mati. Yunus menangisi sebuah pohon yang umurnya hanya semalam karena pohon tersebut menguntungkannya, sementara ia sama sekali tidak peduli pada 120.000 manusia yang hidup dalam kegelapan. Lalu kisah ini ditutup dengan cara unik. Tidak ada narasi penutup, melainkan pertanyaan retoris dari Allah “Layakkah engkau marah?”.

Pertanyaan yang sama menembus relung hati kita. Pernahkah kita bersikap seperti Yunus? Kepahitan yang usdah berakar begitu dalam sehingga memilih mati daripada memaafkan, lebih memilih berpegang pada kesombongan daripada merangkul belas kasihan. Kita menunjukkan kemarahan di bawah “pohon jarak” kita masing-masing. Marah di tengah kenyamanan, rasa aman, dan hak yang dianggap mutlak. Manusia bisa menggugat Allah karena Ia bermurah hati, merasa bahwa saya benar, saya saleh, saya lebih baik dari orang lain lalu berhak untuk menghakimi mereka dan menganggap mereka lebih baik hancur dan mati. Betapapun kita pernah terluka, menerima perlakuan buruk yang sangat keji, ketika Tuhan sudah bermurah hati mengampuni – apakah kita layak menggugat Allah? Mari memeriksa diri kembali hati kita. Kiranya rahmat Tuhan yang telah juga bermurah hati menyelamatkan kita kini melembutkan hati kita – agar mampu memandang sesama bukan dengan kacamata penghakiman melainkan belas kasihan dari Allah. Marah jangan berlebihan, benci jangan berlebihan, kecewa jangan berlebihan, secukupnya saja supaya kita pun menerima kemurahan hati-Nya dan “pohon jarak” tidak diambil dari kita. Amin.

@garam_secukupnya

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Cermin