Kebijaksanaan dan Pengetahuan
NYANYIAN PEMBUKA
PKJ 277 – SEKALIPUN DIRIKU DAPAT BERKATA-KATA
Syair dan lagu: Arnoldus Isaak Apituley, 1999, berdasarkan 1 Korintus 13:1-3
Sekalipun diriku dapat berkata-kata
dengan semua bahasa,
bahasa manusia dan bahasa malaikat,
ataupun yang lainnya,
tapi jika aku tak mempunyai kasih,
aku serupa gong yang menggema
dan canang yang gemerincing.
Sekalipun diriku memiliki karunia,
karunia bernubuat,
sekalipun diriku punya iman sempurna
untuk pindahkan gunung,
tapi jika aku tak mempunyai kasih,
tiada berguna lagi diriku,
tiada berguna diriku.
DOA PEMBUKA
BACAAN ALKITAB
MAZMUR 119:65-72
RENUNGAN
Kita hidup di era di mana informasi begitu mudah didapatkan sehingga pengetahuan juga mudah diakses. Dengan layar ponsel kita bisa mengumpulkan fakta tentang hampir semua hal – mulai dari resep masakan hingga teori fisika kuantum. Namun informasi yang melimpah tidak selalu berbanding lurus dengan hidup yang bijaksana. Pengetahuan sekadar memberi tahu kita bagaimana cara membangun sebuah jembatan, tetapi kebijaksanaanlah yang mengajarkan kita kapan harus membangun jembatan dan kapan harus membangun batas. Pertanyaannya, di manakah kita bisa menemukan kebijaksanaan sejati yang mengubah hidup?
Dalam Mazmur 119:65-72, Pemazmur membagikan sebuah rahasia mendalam tentang bagaimana ia memperoleh kebijaksanaan dari Tuhan. Menariknya, ruang belajar yang dipakai Tuhan untuk mengajarnya tidak selalu tempat yang nyaman, melainkan kadang ruang penderitaan. Ay. 67 “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.” Kemudian ditambahkan di ay. 71 “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Rasa sakit, kesulitan dan kegagalan seringkali jadi guru terbaik yang Tuhan izinkan hadir dalam hidup kita. Ketika segalanya berjalan mulus, manusia cenderung mengandalkan pengetahuannya sendiri dan perlahan menyimpang dari jalan Tuhan. Namun, penderitaan meruntuhkan kesombongan itu dan mengkalibrasi ulang hati dan memaksa kita untuk kembali bersandar pada kebijaksanaan Ilahi.
Mungkin kita kadang mengeluh dan bertanya mengapa Tuhan mengizinkan masa-masa sulit terjadi. Melalui kacamata pemazmur, kita diajak untuk melihat bahwa masa-masa sulit itu adalah proses edukasi bagi iman dan batin. Di titik ini pengetahuan kita tentang Tuhan berubah menjadi kebijaksanaan. Kita tidak algi sekadar tahu bahwa Tuhan itu baik, namun kita mengalami dan menjadi bijak karenanya. Proses pembentukan ini pada akhirnya akan mengubah sistem nilai kita. ay. 72 “Taurat yang Kau sampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.” Pemazmur sampai pada kesimpulan bahwa Firman dan hikmat Tuhan jauh lebih berharga daripada keping emas dan perak. Kebijaksanaan memampukan kita membedakan mana yang fana dan mana yang bernilai kekal.
Kebijaksanaan sejati hanya dibentuk oleh Firman Tuhan dan ditempa melalui realita pengalaman hidup. Ketika kita merendahkan hati untuk terus belajar dari Firman Tuhan, kita akan menemukan bahwa hikmat Tuhan jauh melampaui harta di dunia. Mari jalani hari ini bukan hanya dengan kepala yang penuh pengetahuan namun juga hati yang kaya akan kebijaksanaan. Amin.
DOA SYAFAAT
- Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
- Mendoakan saudara kita di Flores NTT yang sedang mengalami bencana gempa; Kalimatan yang sedang kebakaran hutan, dan beberapa wilayah ayng terdampak erupsi gunung berapi.
NYANYIAN PENUTUP
PKJ 255 – FIRMANMU KUPEGANG SELALU
Syair dan lagu: Arnoldus Isaak Apituley, 1998
FirmanMu kupegang selalu,
saat duka saat senang.
Jalan hidup yang akan datang
tangan Tuhan yang memegang.
Pencobaan menghimpit aku
dan menjadi keluhanku,
firmanMu kupegang selalu,
sayapMu tempat berteduh.
FirmanMu, Tuhan, kupegang s’lalu.
Hilanglah keraguanku!
Bila hatiku rasa susah,
padaMu aku berserah,
firmanMu kupegang selalu,
maka amanlah jiwaku.

Komentar Anda