Kasih Setia Tuhan

Saat Teduh

 

Nyanyian Pembuka 

 

KUNYANYIKAN KASIH SETIA TUHAN

(PKJ 14)

 

Kunyanyikan kasih setia Tuhan selamanya, selamanya.

Kunyanyikan kasih setia Tuhan selamanya,

kunyanyikan s’lamanya.

Kututurkan tak jemu kasih setiaMu,

Tuhan; kututurkan tak jemu

kasih setiaMu turun temurun.

Kunyanyikan kasih setia Tuhan selamanya, selamanya.

Kunyanyikan kasih setia Tuhan selamanya,

kunyanyikan s’lamanya.

 

Pembacaan Kitab Mazmur 106 : 1-12.

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

 

Doa Pembuka dan Firman

(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)

Pembacaan Alkitab

Perjanjian Lama   : Kejadian 27: 1-29

Perjanjian Baru    : Roma 16: 1-16

 

Renungan 

    Firman Tuhan hari ini mengajak kita merenungkan tiga bacaan yang saling berkaitan: Mazmur 106:1-12, Kejadian 27:1-29, dan Roma 16:1-16. Ketiganya menyoroti tema yang sama, yaitu tentang kasih setia Tuhan yang tak pernah gagal, meskipun manusia sering jatuh dalam kelemahan dan dosa. Mazmur 106 membuka dengan seruan pujian: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Pemazmur mengingat bagaimana Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari Mesir, membelah laut, dan menuntun mereka melalui padang gurun. Namun ia juga jujur mengakui bahwa umat itu sering memberontak dan melupakan perbuatan Tuhan. Menariknya, pemazmur tetap memuji kasih setia Tuhan justru di tengah pengakuan akan dosa umat. Kasih setia Tuhan tidak bergantung pada kesetiaan manusia, melainkan pada karakter-Nya sendiri yang setia.

       Kejadian 27 menampilkan kisah yang jauh dari ideal. Yakub menipu ayahnya Ishak untuk mendapatkan berkat yang seharusnya menjadi milik Esau. Ini adalah kisah penuh tipu daya, persaingan, dan kelemahan keluarga. Namun, di balik kekacauan ini, Tuhan tetap bekerja. Berkat yang diberikan Ishak kepada Yakub, meski diperoleh dengan cara yang salah tetap menjadi sarana di mana rencana Tuhan digenapi. Ini bukan pembenaran atas dosa Yakub, melainkan bukti bahwa kasih setia Tuhan mampu mengubah bahkan kisah yang penuh kelemahan menjadi bagian dari rencana keselamatan-Nya.

       Roma 16:1-16 menutup renungan kita dengan gambaran komunitas yang berbeda. Paulus menyebut banyak nama: Febe, Priskila, Akwila, dan lainnya sebagai rekan kerja dalam pelayanan. Di sini kita melihat buah dari kasih setia Tuhan: sebuah komunitas yang saling melayani, saling menghormati, dan bekerja bersama untuk Injil. Di tengah dunia yang penuh tipu daya seperti kisah Yakub, Tuhan tetap membangun umat-Nya melalui orang-orang yang setia dan rendah hati.

      Apa yang dapat kita pelajari? Pertama, kita diundang untuk jujur mengakui kelemahan kita, seperti pemazmur. Kedua, kita diingatkan bahwa Tuhan tetap bekerja bahkan melalui kesalahan kita, tanpa membenarkan dosa kita. Ketiga, kita dipanggil untuk menjadi bagian dari komunitas yang saling menguatkan, seperti jemaat di Roma.

       Hari ini, mari kita berhenti sejenak dan mengingat kembali kasih setia Tuhan dalam hidup kita. Mungkin kita pernah jatuh, menipu, atau melupakan Tuhan. Namun kasih setia-Nya tetap ada, menuntun kita kembali. Seperti pemazmur, kita bisa berkata: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Amin.

 

Doa Syafaat dan Penutup

Berdoalah agar pemerintah dapat meningkatkan pelayanan pendidikan secara merata di berbagai daerah yang ada di Indonesia, sehingga para pelajar dapat menikmati pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh wilayah Indonesia.

 

Nyanyian Penutup

 

KASIH SETIAMU

(PKJ 109: 1-2)

 

Kasih setiaMu sungguh lebih baik,

lebih berharga dari hidupku.

Maka bibirku megahkan Dikau;

kasih setiaMu sungguh lebih baik.

Seumur hidup kupuji Engkau;

kunaikkan doa dalam namaMu.

Kasih setiaMu lebih berharga

dan lebih baik dari hidupku.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga