Jangan Biarkan Hati Terlalu Penuh
SAAT TEDUH
PUJIAN PEMBUKA
KJ 402 – Kuperlukan Juruslamat
Kuperlukan Jurus’lamat, agar jangan ‘ku sesat;
s’lalu harus kurasakan bahwa Tuhanku dekat.
Reff:
Maka jiwaku tenang, takkan takut dan enggan;
Bila Tuhanku membimbing, ‘ku di malam pun tent’ram.
Kuperlukan Jurus’lamat, kar’na imanku lemah.
HiburanNya menguatkan; sungguh tiada bandingnya.
Maka jiwaku tenang, takkan takut dan enggan;
Bila Tuhanku membimbing, ‘ku di malam pun tent’ram.
PEMBACAAN KITAB Mazmur 145:1–8
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
DOA PEMBUKA DAN FIRMAN
PEMBACAAN ALKITAB
Zefanya 2:13–15; Matius 19:23–30
RENUNGAN
“JANGAN BIARKAN HATI TERLALU PENUH”
Dalam kehidupan keluarga, kita sering menginginkan banyak hal yang baik: rumah yang nyaman, pekerjaan yang mapan, kesehatan, pendidikan yang baik untuk anak-anak, dan masa depan yang terjamin. Semua itu tidak salah. Namun Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa ada bahaya ketika hati kita terlalu penuh dengan rasa aman, kekayaan, kenyamanan, atau keberhasilan, sampai tidak lagi sungguh-sungguh bergantung kepada Tuhan.
Mazmur 145:1–8 membuka perenungan kita dengan pengakuan yang sangat indah tentang siapa Tuhan. Pemazmur berkata bahwa Tuhan itu besar dan sangat terpuji, kebesaran-Nya tidak terduga. Dari generasi ke generasi, karya Tuhan diceritakan. Tuhan penuh kasih karunia dan rahmat, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Pemazmur tidak memusatkan perhatian pada apa yang dimilikinya, tetapi pada siapa Tuhan yang ia sembah.
Inilah dasar kehidupan keluarga Kristen. Kita dapat memiliki banyak hal, tetapi semuanya adalah anugerah. Kita dapat merencanakan masa depan, tetapi Tuhanlah yang memegang kehidupan. Kita dapat bekerja keras, tetapi Tuhanlah sumber kekuatan. Karena itu keluarga perlu terus belajar berkata, “Tuhanlah yang terutama dalam rumah ini.”
Kesadaran ini menjadi semakin kuat ketika kita membaca Zefanya 2:13–15. Nabi Zefanya berbicara tentang Niniwe, kota besar yang pada masanya begitu kuat dan merasa sangat aman. Kota itu berkata dalam hatinya, “Hanya ada aku dan tidak ada yang lain!”
Ucapan ini menunjukkan sebuah kesombongan yang berbahaya.
Niniwe merasa dirinya kuat, aman, dan tidak membutuhkan siapa pun. Namun kekuatan yang dibanggakan ternyata tidak kekal. Kota yang besar dapat menjadi sunyi. Kejayaan dapat berakhir. Apa yang dianggap tidak tergoyahkan ternyata dapat runtuh.
Firman ini menjadi peringatan bagi setiap keluarga: jangan membangun rasa aman hanya pada apa yang kita miliki. Rumah dapat berubah. Pekerjaan dapat berubah. Keadaan ekonomi dapat berubah. Kesehatan dapat berubah. Rencana yang sudah disusun dengan baik pun dapat berubah.
Jika hidup kita hanya bergantung pada semuanya itu, kita mudah menjadi takut ketika keadaan berubah.
Tetapi jika hati kita berakar pada Tuhan, kita memiliki pegangan yang tidak berubah.
Dalam Matius 19:23–30, Tuhan Yesus melanjutkan peringatan ini ketika Ia berkata bahwa sukar bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Persoalannya bukan pada kekayaan itu sendiri. Persoalannya adalah ketika kekayaan mengambil tempat Tuhan dalam hati manusia.
Seseorang dapat memiliki harta tanpa diperbudak oleh harta. Tetapi seseorang juga dapat tidak memiliki banyak harta, namun hatinya tetap dikuasai oleh keinginan untuk memiliki. Karena itu yang Tuhan lihat bukan hanya isi rumah kita, tetapi isi hati kita.
Apakah Tuhan masih menjadi yang terutama?
Apakah kita lebih percaya pada tabungan daripada kepada pemeliharaan Tuhan?
Apakah kesibukan mencari keberhasilan membuat kita kehilangan waktu untuk keluarga dan Tuhan?
Apakah kita mendidik anak-anak hanya supaya menjadi sukses, atau juga supaya mereka mengenal Tuhan, memiliki belas kasih, kejujuran, dan hati yang takut akan Tuhan?
Para murid kemudian bertanya kepada Yesus, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus menjawab, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”
Kalimat ini membawa pengharapan.
Keselamatan bukan hasil kekuatan kita. Hidup yang benar juga bukan semata-mata hasil kemampuan kita. Kita membutuhkan anugerah Tuhan.
Keluarga kita tidak menjadi keluarga yang kuat hanya karena kita pandai mengatur semuanya. Kita membutuhkan Tuhan yang membentuk hati, menolong kita melepaskan keterikatan, dan mengajar kita menempatkan segala sesuatu pada tempat yang benar.
Petrus kemudian berkata bahwa mereka telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus. Tuhan Yesus menjawab bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena mengikuti Dia tidak sia-sia.
Ini mengingatkan kita bahwa mengikuti Kristus kadang menuntut pilihan.
Ada waktunya kita harus memilih antara ambisi dan kebersamaan keluarga.
Ada waktunya kita harus memilih antara keuntungan dan kejujuran.
Ada waktunya kita harus memilih antara gengsi dan kesederhanaan.
Ada waktunya kita harus memilih antara keinginan pribadi dan kehendak Tuhan.
Dan justru di situlah iman keluarga diuji.
Ketiga bacaan hari ini membawa kita pada satu pesan: jangan biarkan hati kita dipenuhi oleh hal-hal yang membuat kita merasa tidak membutuhkan Tuhan.
Belajarlah dari pemazmur untuk terus memuji dan mengingat kebaikan Tuhan.
Belajarlah dari kejatuhan Niniwe bahwa kekuatan dan kemapanan manusia tidak kekal.
Dan dengarkanlah Tuhan Yesus yang mengingatkan bahwa segala sesuatu harus ditempatkan di bawah kehendak Allah. Sebagai keluarga, kita boleh memiliki cita-cita. Kita boleh bekerja keras. Kita boleh menabung dan merencanakan masa depan. Tetapi jangan sampai semuanya itu mengambil tempat Tuhan.
Biarlah anak-anak melihat bahwa orang tua bukan hanya berkata, “Kita harus sukses,” tetapi juga berkata, “Kita harus tetap setia kepada Tuhan.”
Biarlah rumah kita bukan hanya dipenuhi barang, tetapi dipenuhi ucapan syukur.
Bukan hanya dipenuhi kesibukan, tetapi juga dipenuhi doa.
Bukan hanya mengejar keberhasilan, tetapi juga belajar berbagi.
Bukan hanya memikirkan apa yang kita miliki, tetapi juga bertanya bagaimana semua yang Tuhan percayakan dapat dipakai menjadi berkat. Sebab pada akhirnya, kekayaan terbesar sebuah keluarga bukanlah berapa banyak yang dimiliki, tetapi apakah Tuhan tetap menjadi pusat kehidupan keluarga itu.
Kiranya kita dapat berkata bersama: “Tuhan, apa pun yang kami miliki adalah pemberian-Mu. Jangan biarkan hati kami melekat kepada berkat lebih daripada kepada Sang Pemberi Berkat. Ajarlah kami hidup dengan rendah hati, bersyukur, dan tetap menjadikan Engkau yang terutama.”
DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang saling terbuka dan percaya kepada Tuhan.
NYANYIAN PENUTUP
KJ 402 – Kuperlukan Juruslamat
Kuperlukan Jurus’lamat dalam langkah juangku;
siang malam, suka duka dengan Tuhan kutempuh.
Reff:
Maka jiwaku tenang, takkan takut dan enggan;
Bila Tuhanku membimbing, ‘ku di malam pun tent’ram.
Kuperlukan Jurus’lamat, agar ‘ku dibimbingNya
melintasi arus Yordan ke Neg’ri Bahagia.

Komentar Anda