House or Home?

• “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” (Yosua 24:15) •

Sebuah house adalah bangunan. Ada dinding, atap, pintu, kamar, dan berbagai fasilitas. Tetapi sebuah home lebih dari sekadar bangunan. Home adalah tempat di mana seseorang merasa diterima, dikasihi, didengar, diampuni, dan dapat bertumbuh bersama.
Kita bisa memiliki house yang indah, tetapi belum tentu memiliki home yang hangat. Sebaliknya, sebuah rumah yang sederhana dapat menjadi home yang penuh damai karena di dalamnya ada kasih, komunikasi, pengampunan, dan Tuhan yang menjadi pusat kehidupan keluarga.Yosua berkata,“Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Keputusan Yosua bukan hanya soal pergi beribadah, tetapi tentang menentukan siapa yang menjadi pusat kehidupan keluarganya. Ia ingin rumahnya menjadi tempat di mana Tuhan dihormati dan kehendak-Nya dilakukan.

Ada tiga hal yang dapat mengubah HOUSE menjadi HOME:
1.HOME adalah tempat kasih dihidupi.
Kasih bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam perhatian, waktu, kesediaan mendengar, dan kepedulian. Rumah menjadi hangat ketika anggota keluarga tahu: “Di sini aku dikasihi.”

2.HOME adalah tempat pengampunan diberikan.

Tidak ada keluarga tanpa kesalahan dan konflik. Yang membuat keluarga tetap kuat bukan karena tidak pernah terluka, tetapi karena bersedia meminta maaf dan memberi pengampunan. Jangan biarkan ego lebih besar daripada kasih.

3.HOME adalah tempat Tuhan menjadi pusat.

Rumah Kristen bukan sekadar rumah yang memiliki Alkitab atau simbol Kristen. Rumah Kristen adalah rumah di mana nilai-nilai Kristus nyata: doa, kasih, kejujuran, kerendahan hati, kesetiaan, dan pelayanan.

Kita mungkin sibuk memperindah house: memperbaiki ruangan, membeli perabot, menambah fasilitas. Tetapi jangan sampai kita lupa membangun home.
Pertanyaannya bukan hanya: “Seberapa bagus rumah kita?” Tetapi: “Seberapa nyaman keluarga kita hidup di dalamnya?” Bukan hanya: “Apa yang ada di rumah kita?” Tetapi: “Siapa yang menjadi pusat rumah kita?”

A house is built with bricks, but a home is built with love. Rumah dibangun dengan batu dan semen, tetapi home dibangun dengan kasih, pengampunan, kebersamaan, dan kehadiran Tuhan.

(mfnt_01102026)

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Cermin