Hamba yang Mendengar

NYANYIAN PEMBUKA
KJ 454 – INDAHNYA SAAT YANG TEDUH
Syair: Sweet Hour of Prayer, William Walford, 1842,
Terjemahan: Yamuger, 1982,
Lagu: William Batchelder Bradbury, 1859
 
Indahnya saat yang teduh
menghadap takhta Bapaku:
kunaikkan doa padaNya,
sehingga hatiku lega.
Di waktu bimbang dan gentar,
jiwaku aman dan segar;
‘ku bebas dari seteru
di dalam saat yang teduh.
 
Indahnya saat yang teduh
dengan bahagia penuh.
Betapa rindu hatiku
kepada saat doaku.
Bersama orang yang kudus
kucari wajah Penebus;
dengan gembira dan teguh
kunanti saat yang teduh.

 

DOA PEMBUKA

BACAAN ALKITAB      

1 SAMUEL 3:1-9

 

RENUNGAN

Bayangkan Saudara ada di sebuah ruangan di mana ada banyak suara bising. Dalam situasi tersebut, suara yang paling keras akan mendominasi sementara suara lembut akan terabaikan. Kita tinggal di dunia dengan banyak suara bising. Setiap hari telinga dan pikiran kita dibombardir oleh banyak suara. Riuh jalanan dan transportasi, hiruk pikur di tempat kerja, gaduhnya media sosial, juga suara resah dalam hati oleh banyak masalah yang sedang dialami. Di tengah banyaknya “suara” ini, kita perlu bertanya pada diri sendiri “Apakah saya masih bisa mengenali dan mendengar suara Tuhan?”

Pada zaman Samuel, firman Tuhan jarang – penglihatan-penglihatanpun tidak sering. Kelangkaan ini bukan karena Tuhan berhenti berbicara, melainkan karena umat-Nya telah kehilangan kepekaan untuk mendengar. Di tengah keheningan malam itu, Tuhan memanggil Samuel. Menariknya, Ia memanggil Samuel sampai tiga kali, dan tiga kali pula samuel salah mengira itu adalah suara Imam Eli. Mengapa? Karena Samuel masih muda dan belum akrab dengna suara Tuhan. Namun, Imam Eli menunjukkan kearifan kepada Samuel tentang Tuhan yang berbicara dan bagaimana menanggapinya: “berbicaralah Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Sikap seorang mengambil posisi siap sedia, merendahkan hati dan mengarahkan seluruh fokus kepada sang Tuhan.

Bagi kita yang hidup di tengah hiruk pikuk dan suara bising perkotaan serta tuntutan hidup, Firman Tuhan hari ini menjadi undangan hangat untuk kita. Tuhan masih berbicara hari ini. Tuhan memanggil dan berbicara dengan suara yang lembut untuk kita sambut, bukan menghindar. Tuhan berbicara dalam keheningan, melalui firman yang tiba-tiba menegur, melalui seseorang yang mengampaikan semangat dan kekuatan. Menjadi hamba yang mendengar berarti kita perlu peka pada setiap suara yang bisa membawa kita pada Tuhan dan panggilan-Nya. Mendengar adalah langkah awal dari ketaatan. Tanpa mendengar kita tidak pernah bisa melayani dan mengikut Tuhan dengan benar. Ketika Tuhan menyapa hati kita, biarlah respon kita “hamba mendengar dan siap melakukannya Tuhan.” Amin.

 

DOA SYAFAAT

  • Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
  • Kondisi ekonomi semakin lebih baik
  • Peperangan dan konflik antar bangsa segera berakhir serta terwujud damai sejahtera
     

NYANYIAN PENUTUP
KJ 033 – SUARAMU KUDENGAR
Syair dan lagu: I Hear Thy Welcome Voice/I Am Coming Lord, Lewis Hartsough, 1872
Terjemahan: Yamuger, 1978
 
SuaraMu kudengar memanggil diriku,
supaya ‘ku di Golgota dibasuh darahMu!
Refrain:
Aku datanglah, Tuhan, padaMu;
dalam darahMu kudus sucikan diriku.
 
Kendati ‘ku lemah, tenaga Kauberi;
Kauhapus aib dosaku, hidupku pun bersih.
Kaupanggil diriku, supaya kukenal
iman, harapan yang teguh, dan kasihMu kekal.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga