Hadir
Sebuah film keluarga berjudul “Ayah, Ini Arahnya Mau ke Mana, Ya?” bercerita tentang sepasang suami istri bersama kedua anak mereka yang beranjak dewasa. Seorang ayah yang pendiam, dan tidak punya sosok ayah sebagai contoh tentang “ayah” sehingga ia merasa takut mengambil peran sebagai seorang ayah bagi anak – anaknya. Karena itu sang ayah kehilangan sosok ayah yang patut dihargai. Apalagi dalam harapannya mendapat peran sang ayah, hadir seorang anak kecil – Damar – yang juga memanggil “Ayah”. Anak – anak makin curiga, dan marah.
Mereka kehilangan sosok “ayah” , tapi ayah mereka berperan bagi anak yang lain. Dalam kemarahan dan kebingungan itulah kemudian anak – anak bertanya “Ayah, Ini Arahnya Mau ke Mana, Ya?”. Sebuah tanya yang menunjukkan kebingungan seorang anak tentang arah bersama keluarga mereka.
Hadir. Itulah yang diharapkan oleh anak – anak atas sosok ayah mereka. Anak – anak tidak membutuhkan seorang ayah yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan seorang ayah yang hadir dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka. Sementara sang ayah masih bingung tentang peranan bagi anak – anaknya. Sang ayah begitu takut kalau – kalau ia salah mengambil peranan itu.
Sama seperti film “Ayah, Ini Arahnya Mau ke Mana, Ya?” , setiap anggota keluarga tidak perlu sempurna; seorang ayah yang sukses di pekerjaan dan di rumah, seorang ibu yang menjadi seorang ibu yang mengatasi segala urusan rumah tangga dan mendidik anak, anak – anak yang berprestasi. Sempurna yang seringkali dikejar oleh masing – masing anggota keluarga. Hal yang seringkali diusahakan oleh setiap orang dengan berbagai macam cara sehingga tidak hadir sebagai diri mereka.
Anggota keluarga yang hadir bagi anggota keluarga yang lain, itulah yang mesti diusahakan oleh setiap anggota keluarga. Menjadi keluarga yang saling menopang dan menolong, mampu berbagi dalam keterbatasan setiap orang.
Paulus dalam surat kepada jemaat di Efesus mengingatkan tentang “hadir” dalam kehidupan keluarga;
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. (Efesus 6 : 1 – 7).
Anak dan orang tua yang hadir (catatan: bapa karena waktu itu Patriakat, sekarang tentu menjadi ayah dan ibu). Hamba adalah bagian dari keluarga juga hadir dalam kehidupan keluarga itu dalam ketaatannya. Mulailah menyadari: anggota keluarga tidak menghendaki supaya anggota keluarga lain sebagai anggota keluarga yang sempurna. jadilah sebagai pasangan yang hadir untuk pasangan, jadilah seorang ayah yang hadir untuk anak (-anak)nya, jadilah ibu yang hadir untuk (-anak)nya, jadilah anak yang hadir untuk orang tua kita, dan dalam peran – peran yang lain dalam kehidupan keluarga.
Selamat menghayati hidup berkeluarga.
AW

Komentar Anda