Di Balik Perpisahan, Ada Nilai Hidup yang Mulia

Saat teduh

Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya

 

Nyanyian Umat          

NKB 49 “Tuhan Yang Pegang“

 

Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya ‘ku harapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.
O tiada ‘ku gelisah akan masa menjelang;
‘ku berjalan serta Yesus, maka hatiku tenang.

Banyak hal tak ‘ku fahami dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.

 

Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, mungkin langit ‘kan gelap.
tapi Dia yang berkasihan melindungi ‘ku tetap.
meski susah perjalanan, g’lombang dunia menderu.
Dipimpin-Nya ‘ku bertahan sampai akhir langkahku.

 

 

Bacaan I: Ulangan 31.1-13

Pesan yang penting dalam perikop ini

Dalam sejarah umat Allah, suksesi atau penerusan jabatan kepemimpinan merupakan hal yang lumrah. Setelah Musa meninggal di usia 120 tahun, Yosua sudah disiapkan sebagai penggantinya. Tentu ada berbagai upaya yang dilakukan demi menyesuaikan diri menghadapi kendala dan pergumulan dengan umat yang dipimpin. Yosua disertai Allah dalam upaya meneruskan kepemimpinan yang sebelumnya diemban oleh Musa. Manusia sebagai pemimpin kerap berganti, namun hal itu tak perlu dirisaukan sebab ada Allah yang mengawal kepemimpinan itu dari waktu ke waktu.  

 

Doa Pembuka

Dipimpin seorang anggota keluarga

 

Mazmur 93

Bacalah bagian ini dengan beberapa cara

  1. Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
  2. Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
  3. Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan

 

Bacaan II: Yohanes 16.16-24

Pesan melalui perikop 

 

Ini merupakan perikop yang membicarakan perpisahan Yesus dengan murid-murid-Nya. Para murid bersedih. Mereka diliputi ketakutan. Mereka juga berkecil hati karena merasa Yesus kalah terhadap manusia. Namun sebenarnya kematian yang akan dihadapi Yesus memperlihatkan kemenangan terhadap nilai-nilai yang selama ini terlihat di dunia, di antaranya: keserakahan, kesilapan, ketidaksetiaan, kemunafikan, dan berbagai sifat lainnya yang menggambarkan hal-hal negatif. Yesus mati demi menunjukkan cinta kasih yang meliputi kerelaan berkorban, kerinduan mengalah, keberanian mengambil resiko atas nama kebaikan, kepedulian, dan berbagai hal menyejukkan lain yang bisa menghidupkan kehidupan. Di situlah sesungguhnya dukacita para murid – ketika disadari – akan menjadi sukacita, dan waktunya tidak hanya terjadi pada satu momen tertentu saja, melainkan selamanya.  

Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).

Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:

  • Sadarkah kita bahwa sesungguhnya di balik hal yang terlihat menyedihkan bisa terkandung nilai yang mulia dan luhur?

Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:

  • Jika melihat pilihan Yesus yang meninggalkan murid-Nya dan menyongsong kematian, apakah kita sedih atau gembira?

Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:

  • Bersediakah kita memilih hal yang membuat kita menderita namun di balik itu ada upaya memperjuangkan hal yang lebih indah dan sifatnya abadi?

 

Doa Bersama

Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:

  • Agar pelayan mengenali sifat pelayanannya dan tetap bersedia memberi diri seutuhnya, dengan berbagai konsekuensi yang harus dihadapinya

 

Nyanyian Umat

NKB 85 ”Kar’na Kasih-Nya”

 

Mengapa Yesus turun dari sorga,

masuk dunia g’lap penuh cela;
berdoa dan bergumul dalam taman,

cawan pahit pun dit’rima-Nya?
Mengapa Yesus menderita, didera,

dan mahkota duri pun dipakai-Nya?
Mengapa Yesus mati bagi saya?

Kasih-Nya, ya kar’na kasih-Nya.

 

Mengapa Yesus mau pegang tanganku,

bila ‘ku di jalan tersesat?
Mengapa Yesus b’ri ‘ku kekuatan,

bila jiwaku mulai penat?
Mengapa Yesus mau menanggung dosaku,

b’ri ‘ku damai serta sukacita-Nya?
Mengapa Dia mau melindungiku?

Kasih-Nya, ya kar’na kasih-Nya.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga