Cermin

Hidup memiliki segudang peristiwa untuk membangun seseorang. Entah kecil atau besar, peristiwa-peristiwa itu dapat menjembatani manusia menuju gerbang yang mendewasakan dirinya atau sebaliknya.

Sebagai contoh, ketika seseorang berjalan melintasi lampu kuning di sebuah perempatan, ia bisa ditegur orang lain karena dianggap bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

Teguran itu menjadi sebuah peristiwa di mana ia diingatkan agar tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan kehidupan. Akan tetapi tidak selamanya sebuah peristiwa – seperti ditegur – dipandang positif oleh kita, sehingga kita bersikap mengabaikan atau bahkan marah terhadapnya.

Selain peristiwa, hidup ini juga memperlihatkan berbagai gejala. Seperti peristiwa-peristiwa itu, gejala juga berfungsi menyadarkan kita akan keberadaan kita. Misalnya uban pada kepala, yang menandakan kita sudah mulai tua. Artinya kondisi fisik bisa saja melemah, atau beraneka makna penuaan lainnya.

Seperti halnya terhadap peristiwa hidup, gejala juga perlu disikapi. Bagaimana kita sebagai kristen menyikapinya? Kepada kita, Rasul Paulus memberi panduan, sebagaimana dituliskannya dalam 1 Korintus 10.23, “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi tidak semua berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi tidak segala sesuatu membangun.”

Sikap yang perlu kita tunjukkan sebagai respons terhadap peristiwa dan gejala itulah yang memperlihatkan kekristenan kita. Kita bisa saja memilih gusar dan marah ketika ditegur. Namun apa dampaknya? Apakah itu mendatangkan sesuatu yang membangun hidup? Demikian pula kita bisa saja kesal dan kecewa melihat uban demi uban muncul di kepala kita, seiring bertambahnya usia. Namun apakah keluh kesah bisa membuat rambut kita hitam semua dan kita muda kembali?

Sebagaimana cermin yang menjadi alat untuk melihat rupa kita, demikian pula peristiwa-peristiwa dan gejala kehidupan menolong kita. Ia menolong kita memberitahu keadaan kita. Tanpa cermin, mungkin kita tidak tahu betapa acak-acakannya rambut kita, atau muka yang kuyu akibat kurang tidur. Jika kita mengetahuinya, maka kita bisa mengambil tindakan yang perlu untuk memperbaikinya bukan? Misalnya mengambil sisir demi merapikan rambut kita. Atau mencuci muka dengan air hangat agar ia terlihat lebih segar.Tentu itu kita lakukan demi kebaikan kita bukan?

Cermin tidak otomatis membangun diri kita. Ia hanya dipakai sebagai alat mengetahui keberadaan kita. Kejadian sehari-hari yang lebih dekat dengan kita juga banyak. Informasi lewat medsos juga direkam agar bisa kita akses secara mudah. Hal-hal itu bisa jadi cermin kita menghadapi hidup. Bahkan yang lebih dekat, yaitu diri kita sendiri, semisal perut yang sakit, atau kepala yang pusing, bisa menjadi pemicu sikap kita. Tentu dengan berpadanan pada nasehat Paulus: Apakah itu membangun?

YNWA

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Cermin