Berlari-lari ke Tujuan

NYANYIAN PEMBUKA
KJ 445 – Harap Akan Tuhan
Syair: Harre, meine Seele, Friedrich Rader (1815 – 1872),
Terjemahan: Yamuger, 1983,
Lagu: Henri Abraham Cesar Malan, 1827
 
Harap akan Tuhan, hai jiwaku!
Dia perlindungan dalam susahmu.
Jangan resah, tabah berserah,
kar’na habis malam pagi merekah.
Dalam derita dan kemelut
Tuhan yang setia, Penolongmu!
 
Harap akan Tuhan, hai jiwaku!
Dia perlindungan dalam susahmu.
Walau sendu, hatimu remuk,
Tuhan mengatasi tiap kemelut.
Ya Tuhan, tolong ‘ku yang lemah:
setiaMu kokoh selamanya!

 

DOA PEMBUKA

BACAAN ALKITAB      

FILIPI 3:13-4:1

 

RENUNGAN

Ketika seseorang mengikuti lomba lari marathon dan mendekati garis finish nafasnya mungkin terengah-engah, otot kaki terasa panas dan menengang, namun pandangan matanya tetap terkunci lurus ke satu titik: garis finis. Bagi seorang pelari apa yang ada di belakangnya – entah tanjakan curam yang sudah ia lalui atau langkah-langkah lambat di kilometer awal – tidak lagi relevan. Seluruh konsentrasi, sisa tenaga dan fokus hatinya tertuju pada apa yang ada di depan. Hidup juga demikian. Ketika seseorang memiliki tujuan yang jelas, meskipun ia telah melewati berbagai peristiwa hidup yang penuh liku dan pelik, ia tetap akan fokus pada tujuan dengan teguh.

Paulus menuliskan sikap hidup yang sangat mendasar (ay. 13-14) “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Melupakan di sini bukan berarti kita amnesia spiritual atau menghapus ingatan masa lalu secara paksa. Melupakan berarti memilih untuk tidak lagi membiarkan masa lalu memegang kendali atas hidup kita. Seperti kegagalan atau dosa masa lalu: rasa bersalah, penyesalan, atau kepahitan yang terus merintangi hidup kita. Atau keberhasilan masa lalu: pencapaian, pujian atau status yang membuat kita puas diri dan berhenti bertumbuh dan sombong.

Paulus mengajarkan bahwa seorang pelari Kristiani tidak bisa maju jika pandangannya terus menoleh ke belakang. Setelah melupakan apa yang dibelakang, langkah berikutnya adalah “mengarahkan diri” pada tujuan yang bermakna – yaitu kesempurnaan hidup di dalam Kristus. Paulus juga mengingatkan bahwa kita adalah warga kerajaan Surga, maka kita tidak hidup tanpa arah, melainkan warga kerajaan Allah yang sedang dalam perjalanan pulang. Oleh karena itu, Paulus menasihati untuk “berdirilah teguh dalam Tuhan”.

Di era hidup yang menawarkan serba cepat dan terus bergerak, mengejar target, dan beradaptasi dengan perubahan. Di tengah marahon hidup sehari-hari, tidak jarang kita merasa lelah mental dan spiritual. Kita mudah terdistraksi oleh riuhnya media sosial, terbebani oleh kesalahan atau kegagalan masa lalu atau kecemasan akan ketidakpastian amsa depan. Mari lepaskan beban masa lalu dan mengarahkan pandangan kepada Kristus sumber hidup kita. Pengharapan di dalam Kristus membuat kita semangat menjalani hidup. Dengan tidak sekedar menjalani saja namun memiliki Tuhan yaitu hdiup seperti Kristus. Maka berlarilah dengan tetap teguh dan setia hingga suatu saat kita mencapai garis finis kita serta menerima mahkota kehidupan. Amin.

 

DOA SYAFAAT

  • Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
  • Mendoakan saudara kita di Flores NTT yang sedang mengalami bencana gempa, Kalimantan yang masih mengalami kebakaran hutan.  

 

NYANYIAN PENUTUP
NKB 188 – TIAP LANGKAHKU
Syair dan lagu: Each Step I Take; Elmo Mercer,
Terjemahan: K. P. Nugroho
 
Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
dan tangan kasihNya memimpinku.
Di tengah badai dunia menakutkan,
hatiku tetap tenang teduh.
Refrein:
Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin
ke tempat tinggi ‘ku dihantarnNya,
hingga sekali nanti aku tiba
di rumah Bapa sorga yang baka.
 
Di waktu imanku mulai goyah
dan bila jalanku hampir sesat,
‘ku pandang Tuhanku, Penebus dosa,
‘ku teguh sebab Dia dekat. Refrein:

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga