Bagian Kita

Saat Teduh

 

Nyanyian Pembuka 

 

Marilah Kita Siapkan Hati Kita

(PKJ 22: 1-2)

 

Marilah kita siapkan hati kita

menghadap Allah, Tuhan semesta alam,

kar’na besarlah perbuatan tanganNya.

Muliakan Allah dengan puji-pujian.

Refrein:

Mari bernyanyi memuji Maha kuasa,

puji kasihNya sekarang dan s’lamanya.

Bersorak-sorailah, hai seluruh dunia,

mazmurkanlah kemuliaan namaNya.

Keajaiban serta perbuatanNya

sungguh benar dan besar tak terucapkan.

 

Pembacaan Kitab Mazmur 92

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

 

Doa Pembuka dan Firman

(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)

 

Pembacaan Alkitab

Perjanjian Lama   : Imamat 26:3-20

Perjanjian Baru    : 1 Tesalonika 4:1-8

 

Renungan 

    Dalam berbagai bentuk ikatan perjanjian selalu ada dua sisi yang perlu diperhatikan, yaitu antara hak dan kewajiban atau antara apa yang akan aku terima dan yang harus aku berikan. Memperhatikan keduanya secara seimbang menjadi tanggung jawab dari pihak-pihak yang mengikatkan diri dalam perjanjian tersebut. Ketika salah satunya diabaikan atau tidak diindahkan, maka jalannya perjanjian pasti akan terganggu. Misalnya saja dalam perjanjian pernikahan. Baik suami maupun istri adalah dua pribadi yang secara sadar mengikatkan diri masing-masing dalam satu perjanjian bersama. Masing-masing memiliki hak dan kewajibannya satu dengan yang lain. Jika yang satu dituntut untuk selalu setia, maka pihak yang lain juga dituntut untuk menunjukkan komitmen yang sama. Kita mempunyai hak untuk dikasihi oleh pasangan kita, namun juga sekaligus memiliki tanggung jawab untuk mengasihi pasangan kita. Kita berhak untuk menuntut kesetiaan pasangan kita, namun kita sendiri juga harus menunjukkan dan membuktikan kesetiaan kita pada pasangan kita. Ketika hanya satu sisi kita perhatikan sementara sisi yang lain kita abaikan, maka relasi kita dalam perjanjian tersebut pasti akan terganggu dan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Demikian jugalah dalam ikatan perjanjian kita dengan Allah.

     Sebagaimana selama ini kita hayati dan imani. Allah telah membuka diri-Nya untuk mengingat perjanjian dengan kita sebagai umat-Nya. Perjanjian itu menempatkan Allah sebagai pihak yang bersedia untuk memperhatikan apa yang menjadi tanggung jawab-Nya bagi kehidupan umat-Nya. Ada banyak janji yang telah dinyatakan-Nya kepada umat yang bersedia untuk merespons tawaran perjanjian itu. Salah satunya adalah janji untuk memberkati kehidupan umat-Nya. Namun demikian, bukan berarti umat bebas dari tanggung jawabnya terhadap Allah. Di dalam perjanjian itu, Allah pun memiliki harapan yang perlu diperhatikan oleh umat-Nya. Tanggung jawab umat adalah memenuhi apa yang menjadi harapan Allah tersebut. Dalam bacaan kita hari ini, diungkapkan kepada kita apa yang menjadi tanggung jawab umat terhadap perjanjian yang telah diikat dengan Allah.  Imamat 26:3-20 mengungkapkan tentang tanggung jawab untuk hidup seturut dengan ketetapan-ketetapan yang telah dibuat Allah untuk diperhatikan dan dipatuhi oleh umat-Nya. Allah menyatakan bahwa ketika umat bersedia untuk hidup dalam ketetapan-ketetapan itu, maka berkat Allah akan menjadi bagian yang dialaminya dalam kehidupan. Namun sebaliknya, ketika umat memilih untuk tidak mengindahkan ketetapan Allah tersebut dalam hidup mereka, maka umat akan mengalami hidup yang tidak menyenangkan. Imamat menggambarkan bahwa ‘kutuk’ akan menjadi bagian yang dialami oleh umat yang tidak hidup dalam ketetapan-ketetapan Allah. 

     Jika kitab Imamat 26:3-20 menekankan tuntutan untuk hidup dalam ketetapan Allah, maka  firman Tuhan dalam 1 Tes 4:1-8 melengkapinya dengan tuntutan kesetiaan dalam melakukan apa yang baik. Sebagai pribadi-pribadi yang telah diikat dalam perjanjian Allah, umat dipanggil untuk menunjukkan kesetiaannya dalam melakukan apa yang baik di tengah kehidupannya. Wujud kesetiaan kepada Tuhan harus dinyatakan lewat tanggung jawab untuk tetap berbuat baik di sepanjang kehidupan umat. Firman Tuhan berkata, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu, siapa yang menolak ini, bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kita.” (1 Tes. 4:7-8)

     Berdasarkan uraian firman Tuhan di atas, maka kita diingatkan akan apa yang menjadikan tanggung jawab kita sebagai umat Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita perhatikan cara hidup kita masing-masing. Apakah selama ini kita telah berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi tanggung jawab kita tersebut? Ingatlah bahwa dalam hidup ini, kita telah menjadi bagian dari umat yang mengikatkan diri kita dalam perjanjian dengan Tuhan. Sekarang, belajarlah untuk memenuhi apa yang menjadikan bagian tanggung jawab kita dengan baik. Tuhan memberkati kita. Amin.

 

Doa Syafaat dan Penutup

Berdoalah agar pemerintah memberi perhatian pada peningkatan kapasitas pendidikan dasar.

 

Nyanyian Penutup

 

Wahai Anakku, Janganlah Kaulupakan

(PKJ 283: 1, 4)

 

Wahai anakku, janganlah kaulupakan ajaranku

dan biarkanlah hatimu mengamalkan perintahku;

panjang umurmu, juga lanjut usia,

damai sejaht’ra ditambahkan padamu.

Wahai anakku, janganlah kaulupakan ajaranku

dan biarkanlah hatimu mengamalkan perintahku;

Kasih dan kesetiaan janganlah meninggalkanmu,

kalungkan pada lehermu, tuliskan pada hatimu,

maka kau dapat penghargaan

dan kasih di mata Allah dan di mata manusia.

Kasih dan kesetiaan janganlah meninggalkanmu,

kalungkan pada lehermu, tuliskan pada hatimu.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga