Amnesia Rohani
Saat Teduh
Nyanyian Umat
PKJ 014 – Kunyanyikan Kasih Setia Tuhan
Kunyanyikan kasih setia Tuhan
selamanya, selamanya.
Kunyanyikan kasih setia Tuhan
selamanya, kunyanyikan s’lamanya.
Kututurkan tak jemu kasih setiaMu Tuhan;
kututurkan tak jemu kasih setiaMu
turun-temurun.
Kunyanyikan kasih setia Tuhan
selamanya, kunyanyikan s’lamanya.
Doa Pembuka – Dipimpin seorang anggota keluarga
Pembacaan Mazmur = Mazmur 78:1-8, 17-29
(Dibaca secara bergiliran oleh seluruh anggota keluarga)
Bacaan 1 = Ulangan 26:1-15
(Dibaca secara bergiliran oleh seluruh anggota keluarga)
Bacaan 2 = Kisah Para Rasul 2:37-47
(Dibaca oleh salah satu anggota keluarga)
Renungan
Manusia adalah makhluk yang mudah lupa. Kita mudah lupa pada kebaikan di masa lalu ketika dihadapkan pada kesulitan di masa kini. Namun, sejarah keselamatan yang dicatat dalam Alkitab adalah cermin yang memantulkan siapa Tuhan yang kita sembah dan siapa kita di hadapan-Nya.
Mazmur 78 merekam siklus tragis umat pilihan Tuhan di padang gurun. Bayangkan, mereka melihat lautan terbelah, dituntun tiang awan dan api, lalu minum dari batu karang yang terbelah. Namun, apa respons mereka? Keraguan yang sinis: “Dapatkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun?” (Mzm. 78:19). Ketika mereka merengek meminta daging demi memuaskan hawa nafsu, Tuhan akhirnya mengirim burung puyuh. Namun, kepuasan daging itu mendatangkan kebinasaan. Mazmur ini dengan keras memperingatkan kita: ketidakpercayaan dan sikap tidak tahu terima kasih bukanlah dosa kecil di mata Tuhan.
Sebagai penawar dari penyakit lupa kebaikan Tuhan ini, Ulangan 26 memberikan sebuah perintah untuk membantu bangsa Israel mengingat. Sebelum menikmati hasil panen di Tanah Perjanjian, bangsa Israel harus membawa buah sulung (hasil pertama dan terbaik) kepada imam. Di sana, mereka tidak memamerkan kehebatan bertani, melainkan wajib mendeklarasikan sebuah sejarah anugerah: “Bapaku adalah seorang Aram yang mengembara…” (Ul. 26:5).
Memberikan buah sulung adalah deklarasi iman. Itu adalah cara umat berkata, “Aku tidak bergantung pada tanah atau hasil kerjaku, melainkan pada Tuhan yang memeliharaku.”
Puncak dari sejarah panjang tentang kelupaan, pemberontakan, dan buah sulung ada di Kisah Para Rasul 2. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun dan Petrus berkhotbah dengan teguran keras: “Yesus yang kamu salibkan itu telah dijadikan Allah Tuhan dan Kristus!” (Kis. 2:36). Bukannya merespons dengan pemberontakan seperti nenek moyang mereka di padang gurun, hati ribuan orang itu tertusuk. Mereka bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat?”
Petrus memberikan jawaban yang merangkum keseluruhan tuntutan Injil: Bertobatlah! Berbaliklah 180 derajat. Tinggalkan dosa dan kemandirianmu dan percayalah kepada Kristus.
Tiga ribu jiwa diselamatkan dan mereka langsung menghidupi esensi terdalam dari Ulangan 26. Yesus menjadi jauh lebih berharga daripada properti dan kenyamanan. Mereka rela menjual harta miliknya agar tidak ada satupun yang berkekurangan.
Gereja mula-mula lahir bukan karena mereka manusia super, melainkan karena mereka hidup dengan fondasi yang kokoh: terus bertekun dalam ajaran para rasul, dalam persekutuan (koinonia), dalam memecahkan roti untuk mengingat salib Kristus, dan dalam doa bersama.
Ketiga bagian kita ingin mengajarkan satu hal: Respons hati terhadap anugerah keselamatan.
Di padang gurun kehidupan, apakah kita lebih sering bersungut-sungut seperti Israel kuno, terus menuntut agar Tuhan memenuhi hawa nafsu dan ambisi kita? Ataukah kita memiliki hati yang “tertusuk” oleh firman Tuhan, yang rela bertobat, dan yang mau memberikan “buah sulung” terbaik dari hidup kita demi merawat persekutuan dan mereka yang membutuhkan?
Roti Manna di masa lalu telah berlalu, namun kini kita memiliki Kristus. Ia telah memberikan diri-Nya sebagai Korban yang sempurna. Ketika kita benar-benar menyadari betapa besar anugerah itu, respons kita tidak lagi dilandasi rasa takut akan hukuman, melainkan atas rasa syukur yang menggerakkan kita untuk hidup memuliakan nama-Nya setiap hari.
Doa Bersama
(Dipimpin secara bergantian antara anggota keluarga)
Doakan agar seluruh anggota tubuh Kristus (Gereja) dapat mensyukuri lingkungan yang Tuhan telah anugerahkan dengan cara merawatnya.
Doakan agar setiap keluarga Kristen dapat menjadi terang di tengah-tengah dunia, terutama di dalam mengingat kebaikan Tuhan dan menjadi teladan.

Komentar Anda