Allahku Adil
Saat Teduh
Nyanyian Pembuka
JADILAH TUHAN KEHENDAKMU
(NKB 14: 1-2)
Jadilah Tuhan kehendakMu!
‘Kaulah Penjunan, ‘ku tanahnya.
Bentuklah aku sesuka Mu,
‘kan ‘ku nantikan dan berserah.
Jadilah, Tuhan kehendak Mu!
Tiliklah aku dan ujilah.
Sucikan hati, pikiranku
dan di depan Mu, ‘ku menyembah.
Pembacaan Kitab Mazmur 18:1-19
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
Doa Pembuka dan Firman
(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)
Pembacaan Alkitab
Perjanjian Lama : Kejadian 7:11 – 8:5
Perjanjian Baru : 2 Petrus 2:4-10
Renungan
Adilkah Allah dalam kehidupan kita? Berdasarkan dua bagian bacaan kita hari ini, maka kita dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang adil kepada setiap ciptaan-Nya. Tak satu pun ciptaan yang dapat lolos dari keadilan Allah tersebut. Bahkan malaikat-malaikat pun harus menanggung dampak dari keadilan Allah kepada ciptaan-Nya. Kepada mereka yang berbuat dan berlaku benar di tengah kehidupan ini, Allah akan menunjukkan belas kasih dan keselamatan-Nya bagi mereka. Sedangkan kepada mereka yang bertindak jahat dan berlaku tidak benar, Allah akan mendatangkan hukuman atas mereka. Hal ini dengan jelas diungkapkan dalam surat 2 Petrus 2:4-10.
Penulis surat ini dengan jelas memberikan gambaran kepada kita bagaimana keadilan Allah itu dinyatakan kepada semua makhluk ciptaan-Nya, termasuk malaikat. Sekalipun malaikat sering kali kita mengerti sebagai mahkluk yang diutus Allah untuk sebagai penyambung karya-Nya kepada umat manusia, namun ketika mereka tidak berlaku benar di hadapan Allah, maka Allah tetap menjatuhkan hukuman atas mereka. Demikian jugalah yang Allah lakukan kepada umat manusia. Jika mereka hidup benar, maka Allah melindungi dan menyatakan karya-Nya kepada mereka. Beberapa contoh pengalaman di masa lampau disajikan oleh penulis surat Petrus sebagai bukti bagaimana keadilan Allah dinyatakan di tengah kehidupan ini.
Uraian tentang keadilan Allah ini juga dapat kita lihat dalam peristiwa air bah yang terjadi pada masa Nuh hidup di dunia ini. Kitab Kejadian 7:11 – 8:5 mengisahkan bahwa Allah melihat dunia ciptaan-Nya telah rusak oleh dosa yang diperbuat oleh manusia dan karena itu, Ia hendak menjatuhkan hukuman atas dunia ciptaan-Nya, namun Allah tetap melindungi Nuh dan keluarganya yang pada waktu hidup benar di hadapan Allah. Sekalipun lingkungan di sekitar mereka menunjukkan pengaruh yang tidak baik dan tidak benar, Nuh dan keluarganya tetap memilih untuk hidup dalam takut akan Tuhan. Mereka tidak membiarkan diri mereka terpengaruh oleh godaan-godaan yang datang dari orang lain yang ada di sekitar mereka. Bahkan sekalipun mereka dianggap aneh, namun hal itu tidak membuat mereka meninggalkan kebenaran yang telah Allah nyatakan kepada mereka. Mereka tetap percaya pada perkataan Allah daripada perkataan manusia.
Berdasarkan pada dua bacaan kita hari ini, sebenarnya kita diingatkan bahwa sebagai anak-anak Tuhan kita diajak untuk tetap bertahan menjalani hidup yang benar di hadapan Allah, sekalipun orang-orang di sekeliling kita tidak memberikan dukungan akan hal itu. Kita tidak boleh membiarkan diri kita tergoda dan turut melakukan ketidakbenaran dalam kehidupan kita. Sebab, Allah tetap akan memberikan hukuman kepada mereka yang di tengah kehidupannya tidak hidup dalam kebenaran yang telah Allah ajarkan. Oleh karena itu, di tempat kerja, di sekolah, di rumah, maupun di gereja, kita harus tetap hidup sebagai orang-orang yang menjaga perilaku dan tindakan hidup kita agar tetap benar di hadapan Allah. Jangan sampai godaan dunia membuat kita meninggalkan kebenaran yang selama ini telah kita terima dari Tuhan. Apapun tantangan yang harus kita hadapi, selama pilihan menyangkut menjaga kebenaran atau melepaskannya, maka kita harus tetap memilih untuk menjaga kebenaran. Itulah panggilan Tuhan dalam kehidupan kita saat ini. Mari kita wujudkan dalam kehidupan kita. Amin.
Doa Syafaat dan Penutup
Berdoalah agar pemerintah memberikan fasilitas pendidikan yang layak bagi anak-anak yang tinggal di daerah terluar, terpencil, dan tertinggal, sehingga masa depan mereka kelak bisa menjadi lebih baik.
Nyanyian Penutup
SETIAKAH DIRIKU PADAMU
(PKJ 154: 1, 3)
Setiakah diriku padaMu, Tuhanku?
Dan siapkah hatiku mengiringMu terus?
‘Ku harus mengaku tidak tekun,
semangat pun rentan
dan jiwaku yang rapuh
membuatku bercela.
Menapak jalan Tuhan, meski letih lesu,
tetap Engkau ‘kuturut, apapun maksudMu.
Engkaulah jalanku, kebenaranku,
Kaulah hidupku.
Jadikanlah hambaMu
berguna di ladangMu.

Komentar Anda