Membangun Keluarga yang Berkenan kepada Tuhan
NYANYIAN PEMBUKA
https://youtu.be/UxcywsoUe08?si=TmIDSMdc-bHorrP8
Keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar tentang kasih, kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan kepada Tuhan. Namun, membangun keluarga yang baik tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan materi, memberikan pendidikan yang layak, atau memastikan anak-anak berhasil dalam kehidupan. Keluarga juga perlu menjadi tempat bertumbuhnya karakter dan nilai-nilai moral yang benar.
Dalam 1 Samuel 2:27-36, Tuhan menegur keluarga imam Eli karena Eli tidak bertindak tegas terhadap anak-anaknya, Hofni dan Pinehas, yang melakukan kejahatan dalam pelayanan mereka. Eli mengetahui perbuatan mereka, tetapi tegurannya tidak menghentikan tindakan tersebut. Sebagai seorang ayah sekaligus imam, Eli memiliki tanggung jawab bukan hanya untuk menjalankan tugas keagamaan, tetapi juga memastikan bahwa keluarganya hidup dalam penghormatan kepada Tuhan. Kisah ini menunjukkan bahwa jabatan, kehormatan, dan kesibukan dalam pelayanan tidak dapat menggantikan tanggung jawab moral dalam keluarga.
Dalam kehidupan sekarang, orang tua mungkin bekerja keras demi masa depan anak-anak, menyediakan kebutuhan mereka, dan berusaha memberikan pendidikan terbaik. Namun, perhatian terhadap keluarga juga harus mencakup pembentukan karakter. Anak perlu belajar bahwa keberhasilan tidak membenarkan segala cara, bahwa kejujuran lebih penting daripada sekadar prestasi, dan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Hal ini bukan hanya tanggung jawab ibu atau ayah seorang diri, melainkan tanggung jawab bersama untuk membangun lingkungan keluarga yang sehat, penuh kasih, sekaligus berani menegakkan kebenaran.
Karena itu, mari mengevaluasi kehidupan keluarga kita. Apakah kita hanya memperhatikan apa yang tampak dari luar, atau juga memperhatikan karakter dan perilaku setiap anggota keluarga? Menegur kesalahan bukan berarti tidak mengasihi; justru teguran yang disampaikan dengan kasih merupakan bagian dari tanggung jawab kita. Keluarga yang berkenan kepada Tuhan bukanlah keluarga yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan keluarga yang bersedia dikoreksi, bertumbuh dalam kebenaran, dan bersama-sama belajar hidup sesuai kehendak Tuhan.
MENGISI JURNAL KELUARGA BERSAMA-SAMA
NYANYIAN PENUTUP

Komentar Anda