Keluarga yang Menghidupi Iman

NYANYIAN PEMBUKA
NKB 122 – ‘Ku Ingin Berperangai
Syair dan lagu: IIk wens to sijn als Jesus; Joh. de Heer,
Terjemahan: Yamuger
 
‘Ku ingin berperangai laksana Tuhanku,
lemah lembut dan ramah, dan manis budiku.
Tetapi sungguh sayang, ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ‘ku hati yang suci dan benar.
 
‘Ku ingin ikut Yesus, mencontoh kasihNya,
menghibur orang susah, menolong yang lemah.
Tetapi sungguh sayang ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ‘ku hati yang suci dan benar.
 
Ya sungguh, Jurus’lamat, cemarlah hatiku,
dan hanya ‘Kau yang dapat menghapus dosaku,
supaya k’lak di sorga ‘ku pandang wajahMu
dan aku jadi sama laksana diriMu.

 

DOA PEMBUKA

BACAAN ALKITAB      

YAKOBUS 2:14-26

 

RENUNGAN

Saudara pernah melihat pajangan buah apel yang terbuat dari plastik atau lilin? Bentuknya sempurna, warnanya merah menggoda dan terlihat sangat menggiurkan. Namun yang palsu itu hanya terlihat indah dan tidak ada nutrisi di dalamnya. Demikian juga kehidupan iman dalam keluarga bisa terjebak seperti pajangan buah tersebut. Terlihat indah dari luar, namun saat menghadapi realitas kehidupan, tidak ada “nutrisi” firman dan kasih yang nyata dirasakan orang-orang di dalam keluarga.

Dalam surat Yakobus menyampaikan “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Ay. 17). Yakobus tidak sedang mempertentangkan ajaran rasul Paulus tentang keselamatan karena iman. Ia sedang menjelaskan bukti dari iman yang sejati mewujud dalam sikap dan perbuatan yang sesuai dengan Firman Tuhan. Perbuatan ini sebagai buah dari iman kepada Kristus. Maka iman yang hidup itu bukan hanya pengakuan bibir saja, namun diwujudkan dalam keputusan, sikap, dan perbuatan.

Keluarga adalah kebun di mana iman itu ditaburkan dan dipraktikkan. Pendidikan iman bagi anak-anak tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan teori atau cerita. Maka orang tua yang lebih dahulu mempraktikan iman dalam sikap dan perbuatan. Ketika kita mengajarkan anak untuk mengampuni, mereka meliaht dari ayah dan ibu yang saling memaafkan. Ketika kita mengajarkan tentang kemurahan hati, anak-anak akan melihat keteladanan orangtua dalam menolong orang lain. Ketika kita mengajarkan kesabaran pada anak-anak, mereka akan melihat kesabaran itu pada orangtuanya. Iman yang hidup dalam keluarga adalah ketika nilai-nilai Kristuani hanya menjadi hiasan dinding ruang tamu, namun terwujud, di meja makan, ruang keluarga dan dalam cara kita menyelesaikan masalah rumah tangga.

Tuhan merindukan agar keluarga kita menjadi pohon hidup yang buahnya: kasih, kesabaran, pengampunan, kebaikan, pengendalian diri. Semua bisa dirasakan nyata ketika setiap anggota keluarga meminta Tuhan yang memimpin dan memampukannya. Iman menjadi hidup. Amin.

 

DOA SYAFAAT

  • Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
  • Mendoakan saudara kita di Flores NTT yang sedang mengalami bencana gempa, Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua sehingga kesulitan mendapatkan udara bersih untuk bernafas.

 

NYANYIAN PENUTUP
PKJ 282 – TUHAN, TOLONGLAH, BANGUNKAN IMAN
Syair: B. Fobia, 1998 (1945 – 1999),
Lagu: Mai falie (Rote, Timor)
 
Tuhan, tolonglah, bangunkan iman;
pulihkanlah kasih yang remuk.
Ubahlah hatiku, jamahlah diriku
biar di tanganMu berbentuk.
Tuhan, tolonglah bangunkan iman;
pulihkanlah kasih yang remuk.
 
Hati bersujud, jiwa menyembah;
hidupku masyhurkan kasihMu.
T’rimalah baktiku, layakkan diriku
untuk kemuliaan namaMu.
Hati bersujud, jiwa menyembah;
hidupku masyhurkan kasihMu.
 
Harta dan karya, takhta dan nama
kusembahkan bagi namaMu.
T’rimalah, ya Tuhan, baktiku bagiMu
dan berkati akta imanku.
Harta dan karya, takhta dan nama
kusembahkan bagi namaMu.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga