Yesus Sebagai Pusat Keluarga

Saat teduh

Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya

 

Nyanyian Umat          

“Mengenal-Mu”

 

Bila ku buka mataku

Dan lihat wajah-Mu

Ku terkagum

 

Bila kulihat hidupku

Dan karya tangan-Mu

Ku tersanjung

 

PRE CHORUS

Kar’na semua yang baik

Dalam hidupku

Itulah karya-Mu

Kau b’ri kesempatan yang baru

 

CHORUS

Dan kuingin mengenal-Mu Tuhan

Lebih dalam dari s’mua yang kukenal

Tiada kasih yang melebihi-Mu

Ku ada untuk menjadi penyembah-Mu

 

 

Bacaan I:  Kidung Agung 7.10 – 8.4 

 

Pesan yang penting dalam perikop ini

Bagian ini merupakan puncak ungkapan kasih antara mempelai perempuan dan mempelai laki-laki. Setelah saling memuji dan merindukan satu sama lain, sang perempuan menyatakan keyakinannya akan kasih kekasihnya dan kerinduannya untuk menikmati persekutuan yang semakin akrab. Namun di akhir perikop, kembali muncul nasihat penting: jangan membangkitkan cinta sebelum waktunya.

 

Doa Pembuka

Dipimpin seorang anggota keluarga

 

Mazmur 34

Bacalah bagian ini dengan beberapa cara

  1. Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
  2. Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
  3. Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan

 

Bacaan II: Yohanes 6.25-35

 

Pesan melalui perikop       

 

Roti adalah makanan yang enak. Bukan cuma dinikmati pada masa kini, sebab orang-orang pada zaman Yesus pun sudah menikmatinya. Bahkan sedemikian enaknya roti, ia dijadikan sebagai simbol kehidupan pada masa itu. Sebagaimana halnya nasi bagi orang-orang Indonesia pada umumnya, roti merupakan makanan pokok yang senantiasa -dihidangkan.

Dalam konteks inilah Yesus menyampaikan pesan-Nya kali ini. Setelah Ia berjalan di atas air dan memberi makan ribuan orang, sekarang banyak orang ingin mendengarkan-Nya bicara lagi. Namun Yesus mengetahui motif mereka, yang telah diberi roti oleh-Nya. Mereka lebih ingin mendapatkan roti lagi dari Yesus ketimbang mendengarkan suara-Nya.

                                                                                

Mari kita melihatnya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).

Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:

  • Apakah saya mencari Yesus karena sungguh ingin mengenal-Nya atau hanya karena kebutuhan sesaat?
  • Apakah saya membutuhkan Yesus? Untuk apa? Untuk roti (baca: berkat jasmani) atau untuk firman yang menguatkan langkah menghadapi berbagai tantangan serta pergumulan hidup?

 

Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:

  • Bagaimana suara Yesus mempengaruhi hidup saya? Apakah saya tersentuh dan tergerak menjadi pengikut-Nya (kata-kata-Nya, caranya berbicara, sikap dan perilaku-Nya)?

 

Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:

Dalam kaitannya dengan kehidupan berkeluarga, apakah saya bersedia

–       memperbaiki nada bicara saya terhadap pasangan? Terhadap anak? Terhadap orangtua?  

–       mengevaluasi sikap atau tanggapan terhadap sesama anggota keluarga? Misalnya, selama ini saya mudah emosi dan cepat naik darah jika ekspektasi tak dipuaskan oleh mereka; atau acuh tak acuh terhadap pergumulan mereka; atau hal lain lagi?

–       lebih cepat tanggap memperhatikan kebutuhan mereka, sebagaimana Yesus juga meneladankannya kepada banyak orang?

–       menjadikan mereka subjek dan bukan objek (baca: memanfaatkan mereka demi kepuasan dan kenikmatan) hidup kita?

 

Doa Bersama

Lihat jurnal doa keluarga

 

Nyanyian Umat

PKJ 289 – Keluarga Hidup Indah

Keluarga hidup indah
Bila Tuhan di dalamnya
Dengan kasih yang sempurna
Tuhan pimpin langkahnya

Terima kasih pada-Mu, Tuhan,
Kau bimbing kami selamanya.
Segala hormat, puji dan syukur
Kami panjatkan kepada-Mu

Di dunia banyak jalan
Jalan mana ‘kan ditempuh?
Jalan lurus hanya satu
Jalan Tuhan itulah

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga