Hidup Dalam Firman dan Saling Menjaga
SAAT TEDUH
PUJIAN PEMBUKA
NKB 116 – Siapa Yang Berpegang
Siapa yang berpegang pada sabda Tuhan dan setia mematuhinya,
hidupnya mulia dalam cah’ya baka bersekutu dengan Tuhannya.
Reff
Percayalah dan pegang sabdaNya:
hidupmu dalam Yesus sungguh bahagia!
Bayang-bayang gelap ‘kan dihapus lenyap oleh sinar senyum wajahNya;
rasa takut dan syak ‘kan menghilang cepat dari yang berpegang padaNya
Bila kita sedih, hidup kita pedih, Tuhan mau berperan dalamnya;
Ia s’lalu dekat dan menjamin berkat bagi yang berpegang padaNya
PEMBACAAN KITAB Mazmur 119:33–40
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
DOA PEMBUKA DAN FIRMAN
PEMBACAAN ALKITAB
Yehezkiel 33:1–6; Matius 23:29–36
RENUNGAN
“HIDUP DALAM FIRMAN DAN SALING MENJAGA”
Kehidupan keluarga adalah perjalanan bersama. Di dalamnya ada sukacita, kebersamaan, tetapi juga perbedaan, pergumulan, kekecewaan, bahkan mungkin luka. Karena itu sebuah keluarga tidak cukup hanya dibangun dengan kasih manusiawi, tetapi perlu terus-menerus dituntun oleh Firman Tuhan.
Dalam Mazmur 119:33–40, pemazmur datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati. Ia berkata, “Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir.” Pemazmur menyadari bahwa ia tidak dapat menentukan sendiri jalan hidup yang benar. Ia membutuhkan Tuhan untuk mengajar, memberi pengertian, dan mencondongkan hatinya kepada kehendak Tuhan. Doa seperti inilah yang seharusnya juga menjadi doa setiap keluarga Kristen. Kita sering meminta Tuhan memberkati keluarga, menjaga anak-anak, memberikan kesehatan, pekerjaan, dan kecukupan. Namun firman hari ini mengajak kita bertanya lebih dalam: Apakah kita juga sungguh-sungguh meminta Tuhan menunjukkan bagaimana seharusnya keluarga kita hidup?
Sebab keluarga yang hidup dalam berkat Tuhan bukan hanya keluarga yang menerima banyak kebaikan, tetapi keluarga yang bersedia dibentuk oleh Firman-Nya. Ketika Firman Tuhan mengajarkan kasih, kita belajar mengasihi. Ketika Firman Tuhan mengajarkan pengampunan, kita belajar mengampuni. Ketika Firman Tuhan mengajarkan kejujuran, kesabaran, dan kerendahan hati, semuanya harus mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari di rumah.
Firman Tuhan bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk membentuk cara kita berbicara, memperlakukan pasangan, mendidik anak, menyelesaikan konflik, serta mengambil keputusan.
Namun perjalanan iman dalam keluarga bukan hanya soal hubungan pribadi dengan Tuhan. Yehezkiel 33:1–6 menunjukkan bahwa kita juga memiliki tanggung jawab terhadap sesama. Tuhan memakai gambaran seorang penjaga yang berdiri di atas tembok kota. Ketika ia melihat bahaya datang, ia harus meniup sangkakala untuk memperingatkan orang lain. Jika ia mengetahui bahaya tetapi memilih diam, ia tidak menjalankan tanggung jawabnya. Gambaran ini sangat dekat dengan kehidupan keluarga. Tuhan menempatkan kita bersama bukan hanya supaya tinggal dalam satu rumah, tetapi supaya saling menjaga kehidupan dan iman satu dengan yang lain. Orang tua dipanggil bukan hanya memenuhi kebutuhan anak-anak, tetapi juga memperhatikan arah kehidupan mereka. Suami dan istri tidak hanya berjalan berdampingan, tetapi dipanggil untuk saling menguatkan dan mengingatkan. Bahkan anak-anak dapat menjadi berkat ketika dengan tulus mengingatkan orang tua kepada sesuatu yang baik dan benar.
Ketika kita melihat anggota keluarga mulai berjalan ke arah yang salah, kita tidak boleh bersikap tidak peduli. Ketika ada kebiasaan yang perlahan merusak hubungan keluarga, kita perlu berani membicarakannya. Ketika ada luka yang belum diselesaikan, jangan biarkan luka itu semakin dalam.
Namun saling mengingatkan tidak berarti merasa diri lebih benar. Kita harus berhati-hati agar nasihat tidak berubah menjadi penghakiman. Menjaga seseorang berarti berbicara karena kasih, bukan karena ingin memenangkan pertengkaran.
Kita belajar mengatakan, “Aku mengingatkanmu karena aku mengasihimu dan aku ingin kita bersama-sama berjalan dalam kehendak Tuhan.”
Di sinilah perkataan Yesus dalam Matius 23:29–36 menjadi peringatan yang sangat penting. Yesus menegur para ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena kehidupan mereka tampak saleh dari luar, tetapi tidak sungguh-sungguh tunduk kepada kehendak Allah. Mereka menghormati para nabi yang telah meninggal, tetapi menolak suara Tuhan yang sedang berbicara kepada mereka.
Artinya, kehidupan rohani tidak boleh berhenti pada penampilan.
Hal yang sama dapat terjadi dalam keluarga Kristen. Sebuah keluarga dapat rajin ke gereja, memiliki Alkitab di rumah, aktif melayani, bahkan dikenal sebagai keluarga yang baik. Tetapi Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak dari luar. Tuhan melihat bagaimana kita hidup ketika berada di dalam rumah.
Apakah masih ada kata-kata yang melukai?
Apakah kita mudah marah tetapi sulit meminta maaf?
Apakah kita meminta orang lain berubah tetapi tidak pernah mau dikoreksi?
Apakah kita berbicara tentang kasih Tuhan tetapi sulit menunjukkan kasih kepada orang terdekat?
Justru rumah adalah tempat pertama iman kita diuji.
Karena itu ketiga bacaan hari ini sebenarnya membawa satu panggilan yang sama: bukalah hati terhadap Firman Tuhan, izinkan Firman itu membentuk hidup kita, dan gunakan hidup kita untuk saling menjaga dalam kasih.
Jangan hanya menjadi keluarga yang mengetahui banyak tentang Tuhan, tetapi jadilah keluarga yang sungguh-sungguh hidup bersama Tuhan.
Jangan hanya berdoa agar keluarga diberkati, tetapi berdoalah agar keluarga kita juga menjadi berkat.
Jangan hanya meminta Tuhan menjaga keluarga kita, tetapi bersedialah dipakai Tuhan untuk saling menjaga satu dengan yang lain.
Jangan hanya ingin terlihat sebagai keluarga Kristen, tetapi jadilah keluarga yang menghadirkan Kristus melalui perkataan, sikap, pengampunan, perhatian, dan kasih setiap hari.
Mungkin keluarga kita belum sempurna. Mungkin masih ada persoalan yang sedang dihadapi. Namun selama kita terus memberi ruang bagi Firman Tuhan untuk menuntun kita, selalu ada kesempatan untuk bertumbuh dan memperbaiki hubungan.
Karena itu biarlah doa pemazmur juga menjadi doa keluarga kita:
“Tuhan, ajarlah kami jalan-Mu. Berikanlah kepada kami pengertian. Condongkanlah hati kami kepada firman-Mu. Tolonglah kami bukan hanya mendengar kebenaran, tetapi juga melakukannya.”
Kiranya rumah kita menjadi tempat di mana Firman Tuhan didengar, kasih Tuhan dialami, kesalahan dapat diakui, pengampunan diberikan, dan setiap anggota keluarga saling menjaga agar tetap berjalan di jalan Tuhan.
Keluarga yang bertumbuh dalam Tuhan bukanlah keluarga yang tidak pernah memiliki masalah, melainkan keluarga yang terus bersedia dibentuk oleh Firman, saling mengingatkan dengan kasih, dan bersama-sama berjalan dalam kebenaran.
DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang saling terbuka dan percaya kepada Tuhan.
NYANYIAN PENUTUP
NKB 116 – Siapa Yang Berpegang
KasihNya yang kekal takkan kita kenal sebelum padaNya berserah.
Hidup bahagia disediakanNya bagi yang berpegang padaNya.
Reff
Percayalah dan pegang sabdaNya:
hidupmu dalam Yesus sungguh bahagia!
O betapa senang hidup dalam terang beserta Tuhan di jalanNya,
jika mau mendengar serta patuh benar dan tetap berpegang padaNya.

Komentar Anda