Menghina Tuhan

NYANYIAN PEMBUKA
KJ 39: 1,4 “KU DIBERI BELAS KASIHAN”
Syair: Mir ist Erbarmung widerfahren, Philipp Friedrich Hiller, 1767
Terjemahan: H. A. Pandopo/J. M. Malessy, 1983
Lagu: Johann Ludwig Hainlin, 1819
 
‘Ku diberi belas kasihan, walau tak layak hatiku;
tadiku angkuh, kini heran: Tuhan, besarlah rahmatMu!
Kidung imanku bergema: rahmatMu sungguh mulia,
kidung imanku bergema: rahmatMu sungguh mulia!
 
Jangan seorang pun di dunia merampas harta hatiku:
dasar percaya yang ‘ku punya dan alas doa yang teguh;
hidup dan mati ‘ku tent’ram: rahmatMu, Tuhan, kugenggam,
hidup dan mati ‘ku tent’ram: rahmatMu, Tuhan, kugenggam!

 

DOA PEMBUKA

BACAAN ALKITAB      

2 SAMUEL 11:27A – 12:15

 

RENUNGAN

Seorang raja besar, yang memulai kiprah sebagai gembala yang dulu berani melawan beruang dan Goliat demi Tuhan, menulis banyak mazmur yang indah tentang kebesaran kasih Tuhan – lalu raja itu melakukan sesuatu yang jahat di mata-Nya dan ia merasa sudah menutupi keburukan itu dengan baik. Kasus ditutup, tidak ada saksi, tidak ada tuntutan dan tidak ada skandal. Aman.

Ternyata tidak aman. Tidak ada yang bisa tersembunyi dari Tuhan, sepandai dan selihai apapun manusia menutupinya. Semua akan dibongkar Tuhan. Dia ada Raja Daud. Ia mengambil istri prajuritnya sendiri dan mengatur kematian suaminya yang setia di garis depan peperangan. Tuhan mengutus nabi Natan. Ia datang dengan cerita: seorang kaya dengan ternak berlimpah dan seorang miskin yang hanya punya satu anak domba betina. Ketika tamu datang, si kaya enggan mengorbankan miliknya sendiri, ia merampas satu-satunya milik si miskin. Mendengar itu, Daud marah “orang yang melakukan hal itu harus mati!”. Di titik inilah terjadi plot twis paling menegangkan. Natan menatap Raja Daud dan berkata “engkaulah orang itu”. Hakim yang murka ternyata terdakwanya sendiri.

Lalu Tuhan berbicara melalui Natan “Mengapa engkau menghina Tuhan dengan berbuat apa yang jahat di mata-Nya?” Ay. 9-10. Daud tidak hanya berzinah dan membunuh, namun telah “megnhina Tuhan”. Mengapa? Karena Tuhan telah memberikan segalanya kepada Daud – kerjaan, kekayaan, perlindungan, dan kemenangan. Namun Daud merasa semua pemberian Tuhan itu tidak cukup. Ia bertindak serakah, merampas milik orang lain dan menginjak-injak perintah Tuhan. Dosa Daud adalah deklarasi arogan bahwa Firman Tuhan, arutan Tuhan, bahkan Tuhan sendiri bisa dikesampingkan asalkan apa yang diinginkan bisa didapat dan dengan kekuasaan bisa menutupinya.

Bukankah hal demikian marak terjadi saat ini? Ketika memiliki kekuasaan dan power bisa merampas hak orang lain, menindas, mengeksploitasi dan membunuh lalu menutupinya sehingga seolah tidak ada yang tahu. Mungkin seseorang bisa “tampil” seolah sebagai umat yang baik, namun dibalik itu mungkin menyimpan kesalahan dan dosa yang tak seorang pun tahu. Memilih menipu di tempat kerja, bermain api dalam orang lain dan memanipulasi keluarga, menutupi kecemaran dengan “wajah-wajah malaikat” atau bahkan tidak jujur pada gereja dan Tuhan. Tanpa sadar lewat tindakan itu, ia sedang menghina kebaikan dan otoritas Tuhan.

Ada satu yang membedakan Daud dari raja-raja lain. Saat ditegur, ia tidak mengelak dan membungkam Natan. Ia menunduk hancur dan mengakui dosanya serta bertobat meski konsekuensi tetap harus ia tanggung.

Saudara, menghina Tuhan bukan sekadar lewat kata-kata makian, melainkan lewat pilihan hidup yang mengabaikan Firman-Nya. Mari kita periksa diri kita adakah “Batsyeba” atau “Uria” yang sedang kita sembunyikan dalam hidup kita? Jangan tunggu sampai Tuhan harus mengutus “Natan” untuk membongkar semuanya. Datanglah pada Tuhan dengan hati yang hancur dan bertobatlah. Anguerah pengampunan tersedia bagi mereka yang sungguh-sungguh mau berbalik kepada-Nya. Amin.

 

DOA SYAFAAT

  • Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
  • Mendoakan saudara kita di Flores NTT yang sedang mengalami bencana gempa.  

 

NYANYIAN PENUTUP
NKB 122 – ‘Ku Ingin Berperangai
Syair dan lagu: IIk wens to sijn als Jesus; Joh. de Heer,
Terjemahan: Yamuger
 
‘Ku ingin berperangai laksana Tuhanku,
lemah lembut dan ramah, dan manis budiku.
Tetapi sungguh sayang, ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ‘ku hati yang suci dan benar.
 
‘Ku ingin ikut Yesus, mencontoh kasihNya,
menghibur orang susah, menolong yang lemah.
Tetapi sungguh sayang ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ‘ku hati yang suci dan benar.
 
Ya sungguh, Jurus’lamat, cemarlah hatiku,
dan hanya ‘Kau yang dapat menghapus dosaku,
supaya k’lak di sorga ‘ku pandang wajahMu
dan aku jadi sama laksana diriMu.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga