Hidup Dalam Kesetiaan, Kebenaran dan Pengampunan
SAAT TEDUH
PUJIAN PEMBUKA
Tuhanku, bila hati kawanku terluka oleh tingkah ujarku,
dan kehendakku jadi panduku, ampunilah.
Jikalau tuturku tak semena dan aku tolak orang berkesah,
pikiran dan tuturku bercela, ampunilah.
PEMBACAAN KITAB MAZMUR 89: 1-4, 15-18
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
DOA PEMBUKA DAN FIRMAN
PEMBACAAN ALKITAB
Yer. 28: 1-4, Luk. 17: 1-4
RENUNGAN
“Hidup Dalam Kesetiaan, Kebenaran, dan Pengampunan”
Keluarga adalah tempat pertama di mana kita belajar mengenal kasih, kesetiaan, kebenaran, dan pengampunan. Namun justru di dalam keluarga pula sering muncul kekecewaan, kesalahpahaman, dan luka yang dapat merenggangkan hubungan. Firman Tuhan hari ini mengajak kita membangun kehidupan keluarga yang berakar pada karakter Allah sendiri: setia dalam kasih-Nya, benar dalam firman-Nya, dan penuh pengampunan dalam relasi.
Mazmur 89 memuji Allah yang setia memegang janji-Nya. Pemazmur bersukacita karena kasih setia Tuhan tidak pernah berakhir dan kebenaran-Nya tetap teguh untuk selama-lamanya. Karena itu, berbahagialah orang yang hidup dalam terang wajah Tuhan. Mereka berjalan dengan keyakinan bahwa hidup mereka ditopang oleh kasih setia Allah yang tidak berubah. Kesadaran akan kesetiaan Tuhan menjadi sumber kekuatan dan sukacita bagi umat-Nya.
Namun dalam bacaan dari Yeremia 28, kita melihat adanya suara yang berbeda. Nabi Hananya menyampaikan pesan yang menyenangkan telinga umat: bahwa penderitaan dan penindasan akan segera berakhir. Pesan itu terdengar indah dan memberi harapan instan. Namun masalahnya, pesan tersebut bukanlah firman yang benar dari Tuhan. Melalui peristiwa ini, umat diajak untuk tidak hanya mencari apa yang menyenangkan hati, tetapi belajar mendengarkan kebenaran firman Tuhan, sekalipun kadang sulit diterima. Kesetiaan kepada Tuhan selalu berjalan bersama ketaatan kepada kebenaran-Nya.
Kemudian dalam Injil Lukas 17, Yesus berbicara tentang kehidupan bersama dalam komunitas iman. Ia mengingatkan bahwa kesalahan dan pelanggaran memang dapat terjadi, tetapi setiap murid dipanggil untuk menegur dengan kasih dan memberi pengampunan ketika ada pertobatan. Bahkan jika seseorang berulang kali bersalah lalu datang meminta maaf dengan sungguh-sungguh, kita dipanggil untuk mengampuninya. Pengampunan bukan berarti mengabaikan kesalahan, melainkan membuka ruang bagi pemulihan hubungan sebagaimana Allah telah lebih dahulu mengampuni kita.
Ketiga bacaan ini membentuk satu pesan yang utuh. Karena Allah setia kepada umat-Nya, kita dipanggil untuk hidup dalam kebenaran firman-Nya. Dan ketika kita hidup dalam kebenaran, kita belajar membangun relasi yang dipenuhi pengampunan. Kesetiaan tanpa kebenaran dapat berubah menjadi kompromi. Kebenaran tanpa kasih dapat menjadi kekerasan. Namun ketika kesetiaan, kebenaran, dan pengampunan berjalan bersama, lahirlah kehidupan yang memuliakan Tuhan.
Dalam kehidupan keluarga, firman ini sangat relevan. Setiap anggota keluarga perlu belajar mempercayai kesetiaan Tuhan di tengah berbagai tantangan hidup. Orang tua dan anak-anak perlu membangun kebiasaan mendengarkan firman Tuhan, bukan hanya mengikuti suara dunia yang sering menawarkan jalan pintas. Dan ketika terjadi kesalahan, konflik, atau kekecewaan, keluarga dipanggil untuk tidak memelihara luka, tetapi membuka hati bagi pengampunan dan pemulihan.
Keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tidak pernah mengalami masalah, melainkan keluarga yang terus belajar hidup dalam kasih setia Tuhan, berdiri di atas kebenaran firman-Nya, dan saling mengampuni sebagaimana Kristus telah mengampuni mereka.
Keluarga yang diberkati Tuhan adalah keluarga yang berpegang pada kesetiaan Allah, berjalan dalam kebenaran firman-Nya, dan memelihara pengampunan dalam setiap relasi.
DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang saling mendukung dalam suka dan duka.
NYANYIAN PENUTUP
Dan hari ini aku bersembah serta padaMu, Bapa, berserah,
berikan daku kasihMu mesra. Amin, amin.

Komentar Anda