Tuhan Melibatkan Kita atau Kita Melibatkan Tuhan?

Saat teduh

Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya

 

Nyanyian Umat          

“Tiada S‘perti Kau” (There Is None Like You)

 

Tiada s‘perti Kau,
yang t’lah menjamah seg’nap hatiku

Tak seorang pun di dalam hidup ini

S’perti Kau Tuhan

 

Kasih-Mu s‘perti sungai mengalir

Kuasa-Mu menyembuhkan

Air matapun Engkau hapuskan

Tiada s‘perti Kau

 

Bacaan I: Kejadian 49.1-2, 8-13, 21-26

Pesan yang penting dalam perikop ini

  1. Yakub bicara tentang masa depan anak-anaknya, yang menunjukkan bahwa Allah bekerja dalam mereka dan melalui mereka. Ini menunjukkan kesetiaan dan keteguhan Allah yang mau memakai manusia sebagai rekan kerja dan memampukan mereka melakukan apa yang baik, betapapun rapuhnya manusia.
  2. Yehuda digambarkan sebagai lambang kekuatan dan kejayaan, padahal di masa lalunya pernah mengalami kegagalan. Ini menunjukkan bahwa Allah tetap berkenan memakai orang yang tak sempurna.

 

Doa Pembuka

Dipimpin seorang anggota keluarga

 

Mazmur 27.7-14

Bacalah bagian ini dengan beberapa cara

  1. Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
  2. Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
  3. Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan

 

Bacaan II: Lukas 1.67-79

Pesan melalui perikop 

 

Bagian ini memperlihatkan Allah yang memberkati umat-Nya dengan sikap yang meneguhkan mereka. Sikap itu terpancar melalui beberapa hal:

  1. Allah melawat umat-Nya sebagai tanda perhatian dan peduli-Nya terhadap keadaan mereka. Ini juga menandakan kasih-Nya yang aktif dan menyentuh umat. Hal ini menjelaskan kepastian penggenapan janji Allah.
  2. Allah melindungi umat-Nya dengan tanduk keselamatan-Nya, lambang kekuatan dan kemenangan, yang artinya kita tidak perlu takut pada apapun selagi kita melekatkan diri kita kepada-Nya, karena tak ada yang dapat mengalahkan-Nya.
  3. Kesetiaan-Nya (ayat 72) pada janji yang telah disampaikan-Nya turun temurun dari generasi ke generasi.
  4. Kemampuan-Nya menembus kegelapan yang menunjukkan kuasa yang dimiliki-Nya selaku Tuhan.

Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).

Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:

  • Tahukah kita sifat-sifat yang dimiliki Allah kita?
  • Apa yang bisa diperbuat Allah terhadap hidup ini?

 

Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:

  • Allah yang berkuasa itu ternyata tidak melupakan kita. Ia mengajak kita ikut serta dalam mengupayakan hidup yang lebih baik. Bagaimana perasaan kita diperlakukan demikian?
  • Ketika kita dilibatkan dalam karya Allah, itu artinya kita dianggap berharga oleh-Nya. Oleh karena itu kita diberkati-Nya, supaya bisa lebih merasa percaya diri melakukan hal-hal yang baik. Tidakkah itu kita rasakan?

 

Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:

  • Maukah kita berperan memperbaiki hidup dalam semesta?
  • Apa yang mau kita lakukan sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada Allah?  

 

Doa Bersama

Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:

  • Pelayan yang membutuhkan penguatan agar mereka dapat menjalankan pelayanan dengan hati gembira dan tidak terbebani
  • Agar orang-orang yang melayani bisa merendahkan hati dan menerima orang lain sebagai rekan kerja dalam rangka mengoptimalkan karya mereka

 

Nyanyian Umat

NKB 133 ”Syukur Pada-Mu Ya Allah”

 

Syukur pada-Mu, ya Allah, atas s’gala rahmat-Mu;
Syukur atas kecukupan dari kasih-Mu penuh.
Syukur atas pekerjaan, walau tubuhpun lemban;
Syukur atas kasih sayang dari sanak dan teman.

 

Syukur atas keluarga penuh kasih yang mesra;
Syukur atas perhimpunan yang memb’ri sejahtera.
Syukur atas kekuatan kala duka dan kesah;
Syukur atas pengharapan kini dan selamanya!

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga