Terhubung Lagi Dengan Tuhan

DOA PEMBUKA

BACAAN ALKITAB    Roma 1: 18-25
 

RENUNGAN

Paulus menulis bahwa murka Allah nyata atas kefasikan manusia yang menekan kebenaran. Manusia “menukar kemuliaan Allah” dan “menyembah yang diciptakan” alih-alih Sang Pencipta. Dalam bahasa sederhana: ketika hati kita melekat pada sesuatu selain Allah sebagai sumber makna, kita sedang menukar kebenaran dengan dusta.

Di kota besar, penukaran itu sering terjadi diam-diam. Kita tidak sujud pada patung, tetapi pada “gambar” yang kita bangun: citra diri di media sosial, angka di laporan kerja, logo di dada, saldo rekening, atau jaringan relasi yang membuat kita merasa penting. Kita berkata “Tuhan pertama,” tetapi kalender, notifikasi, dan target KPI sering memegang takhta.

Contoh yang lekat dengan keseharian masa kini:

  • Mengejar promosi dengan mengorbankan kejujuran kecil: memoles laporan, menutup mata pada praktik curang “demi tim.” Kita menukar kebenaran dengan dusta yang “masuk akal.”
  • Mengukur nilai diri dari likes dan views. Hati jadi naik-turun seturut algoritma, bukan firman.
  • Belanja impulsif saat promo besar, demi rasa “cukup” sesaat, lalu gelisah memikirkan cicilan.
  • Menyembah produktivitas: hari Minggu di gereja hadir fisik, tetapi pikiran tertambat pada email, target, dan chat kerja.
  • Overthinking soal kesehatan, diet, dan gym bukan sebagai syukur atas tubuh, tetapi obsesi kendali dan citra.
  • Menjadikan pasangan, anak, atau komunitas sebagai sandaran utama identitas, lalu kecewa berat saat mereka tak memenuhi ekspektasi.

Roma 1 mengingatkan: murka Allah kerap dinyatakan bukan sekadar dalam hukuman langsung, melainkan ketika Allah “membiarkan” kita ditelan keinginan sendiri. Buahnya adalah hati yang gelap, relasi retak, kegelisahan yang tak padam meski prestasi bertambah. Kabar baiknya: Injil mengundang kita kembali—dari menyembah ciptaan kepada menyembah Pencipta yang layak dipuji untuk selamanya. Di salib, Kristus membuka jalan pulang; di kebangkitan, Ia memberi kuasa baru untuk mengasihi yang benar.

Respon praktis yang bisa dilakukan antara lain, memeriksa spiritual kita rutin secara harian. Tanyakan: apa yang paling sering saya pikirkan saat bangun dan sebelum tidur? Itulah yang saya sembah. Bawa itu ke hadapan Tuhan. Buat ibadah kecil yang konsisten: 10 menit pagi untuk membaca Alkitab dan berdoa , 2 menit jeda siang untuk syukur, 5 menit malam untuk pemeriksaan batin: apa yang saya kejar hari ini? Bisa juga melakukan digital terarah, misalnya matikan notifikasi 1–2 jam sehari. Setiap dorongan membuka aplikasi, ucapkan doa singkat: “Tuhan, Engkau pusatku.”

Atau bangun kebiasaan yang memuliakan Sang Pencipta di tengah ciptaan. Contohnya jalan kaki tanpa earphone, perhatikan langit, pohon, wajah orang; ucapkan syukur. Biarkan ciptaan menunjuk ke Pencipta, bukan menjadi objek konsumsi. Bisa juga dengan mengatur keuangan dengan menetapkan porsi memberi lebih dulu sebelum belanja. Setiap kali gajian, ingatkan hati: sumberku adalah Tuhan, bukan angka. Miliki komunitas yang jujur, yaitu minta teman seiman menegur dan mendoakan. Terakhir, terapkan sabat mingguan: satu blok waktu tanpa kerja, tanpa belanja, untuk beribadah, beristirahat, dan menikmati relasi.

Kiranya kita bisa kembali terhubung dengan Tuhan, sang Pencipta kita. Amin.

DOA SYAFAAT DAN PENUTUP

  • Kaum muda yang mau belajar berbagai keterampilan.
  • Kesehatan pribadi dan orang-orang terkasih di cuaca yang tidak menentu.
  • Kondisi Indonesia dan dunia agar selalu dalam pemeliharaan dan damai sejahtera Tuhan.
 
 
NYANYIAN PENUTUP

https://youtu.be/oknNUvtuM34?si=dSXwA0bOYHcp9sEt

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga