Tak Ada Tuhan yang Seperti Ini, KECUALI DIA
Saat Teduh
Nyanyian Pembuka
Ku Datang Kepadamu
(PKJ 41: 1-2)
‘Ku datang kepadaMu, Anak Domba Allah.
Ku mohon pengasihan, Anak Domba Allah.
Atas dosa-dosaku dan pelanggaranku.
Kuduskanlah diriku, Anak Domba Allah.
Ku datang kepadaMu, Anak Domba Allah.
Ku mohon pengasihan, Anak Domba Allah.
Tunjukkanlah padaku jalan kebenaran.
Hanya oleh rahmatMu, Anak Domba Allah.
Pembacaan Mazmur 32
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
Doa Pembuka dan Firman
(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)
Pembacaan Alkitab
Perjanjian Lama : 1 Raja-Raja 19:1-8
Perjanjian Baru : Ibrani 2:10-18
Renungan
Pernahkah Anda mengalami frustasi dalam kehidupan ini? Frustasi biasanya terjadi ketika kita sudah melakukan sesuatu dengan serius, namun hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Tujuan yang kita ingin capai ternyata tidak terwujud. Dalam hidup ini, sebagian kita pasti pernah mengalami hal yang seperti itu. Entah dalam bentuk yang ringan maupun yang berat. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan Elia pada ia melarikan diri di gunung Horeb.
Kisah yang dicatat dalam 1 Raja-Raja 19:1-8 ini dilatarbelakangi oleh peristiwa sebelumnya yang dicatat dalam 1 Raja-raja 18:20-46. Dalam perikop itu dikisahkan bahwa sebelum Elia melarikan diri ke gunung Horeb, ia menghadapi sebuah pertandingan yang cukup menegangkan. Elia menantang Ahab beserta dengan nabi-nabi dewa Baal yang selama menjadi anak buah Izebel untuk bertanding mendatangkan hujan di wilayah itu. Elia berharap dengan memenangkan pertandingan ini, maka Ahab beserta dengan seluruh rakyat yang menyaksikan pertandingan di gunung Karmel itu menjadi sadar akan kekuatan TUHAN dan bersedia untuk mengikut TUHAN. Elia, dengan pertolongan Tuhan akhirnya memenangkan pertandingan itu. Tapi apa yang terjadi kemudian? Apakah Ahab beserta dengan rakyat itu kembali percaya kepada Tuhan?
Ternyata tidak. Mereka justru melaporkan peristiwa itu kepada Izebel sehingga Izebel menjadi marah dan hendak memburu Elia di manapun ia berada untuk membunuhnya. Hal inilah yang membuat Elia menjadi frustasi dengan apa yang dialaminya. Alih-alih orang menjadi percaya kepadanya, yang terjadi justru nyawanya terancam dan diburu oleh penguasa. Sebab itulah, ia melarikan diri dan bersembunyi di gunung Horeb. Bahkan karena takutnya, ia tidak mengijinkan bujangnya ikut serta dengannya. Tentu, ada dua alasan yang mendasarinya: pertama, supaya bujangnya tidak terkena dampak dari kemarahan Izebel dan ikut dibunuh. Kedua, supaya tidak ada seorang pun yang tahu tempat persembunyiannya, sehingga tidak akan ada yang memberikan informasi kepada Izebel tentang keberadaannya saat itu.
Di tengah rasa frustasi itu, dalam perjalanan pelariannya, Elia sempat meminta kepada Tuhan untuk mencabut nyawanya. Sesudah itu, karena rasa lelah secara fisik dan psikis, ia tidur di bawah pohon arar. Di tengah Elia sedang tertidur, datanglah malaikat yang diutus Tuhan untuk memberikan makanan kepadanya. Malaikat itu memberikan roti bakar dan sebuah kendi berisi air. Ia membangun Elia dan menyuruh Elia untuk makan. Hal ini terjadi dua kali. Setelah cukup istirahat dan mendapatkan makanan dari Tuhan, Elia melanjutkan perjalanan hingga tiba di gunung Horeb.
Belajar dari kisah pelarian Elia ini, kita diperjumpakan dengan keterbatasan kita sebagai manusia. Terkadang kita berada dalam posisi seperti Elia. Kita telah melakukan segala sesuatu dengan baik, tetapi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Kita frustasi dengan apa yang terjadi atas hidup kita dan mencoba untuk melarikan diri dari realitas yang seharusnya kita hadapi. Dalam pelarian itu, terkadang kita tidak memperhatikan keadaan diri kita. Bahkan tak jarang yang kemudian mengajukan permintaan yang sama dengan yang menjadi permintaan Elia pada waktu itu. Jikalau keadaanya begini, lebih baik Kau ambil saja nyawaku, ya Tuhan, supaya aku tidak mengalami hal yang tidak menyenangkan ini. Namun, kita sadari atau tidak, Tuhan tetap memelihara hidup kita. Tuhan hadir melalui “malaikat-malaikat”-Nya untuk menolong kita, menguatkan kita, dan memelihara kita sehingga kita menjadi kuat untuk melanjutkan perjalanan kita kembali.
Kisah Elia ini menjadi bukti bahwa di tengah keadaan hidup kita yang terpuruk, Tuhan menopang dan memelihara kita. Dia menguatkan agar kita tidak lagi takut menghadapi realita kehidupan kita. Oleh karena itu, jangan takut terhadap setiap realita hidup yang harus kita jalani. Teruslah berjalan bersama Tuhan dan Dia akan memelihara engkau. Tuhan memberkati. Amin
Doa Syafaat dan Penutup
Berdoalah agar pemerintah mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Nyanyian Penutup
SetiaMu, Tuhanku, Tiada Bertara
(NKB 34: 1-2)
SetiaMu, Tuhanku, tiada bertara
Di kala suka, di saat gelap.
Kasih-Mu, Allahku, tidak berubah,
‘Kaulah Pelindung abadi tetap.
Refrain:
SetiaMu, Tuhanku, mengharu hatiku,
Setiap hari bertambah jelas.
Yang ‘kuperlukan tetap ‘Kau berikan,
Sehingga aku pun puas lelas.
Musim yang panas, penghujan, tuaian
Surya, rembulan di langit cerah,
Bersama alam memuji, bersaksi
Akan setiaMu yang tak bersela.

Komentar Anda