Suara Tuhan Selalu Membawa Kehidupan
SAAT TEDUH
PUJIAN PEMBUKA
- 33 – SuaraMu Kudengar
SuaraMu kudengar memanggil diriku,
supaya ‘ku di Golgota di basuh darahMu!
Reff:
Aku datanglah, Tuhan, padaMu;
Dalam darahMu kudus sucikan diriku.
Kendati ‘ku lemah, tenaga Kauberi;
Kauhapus aib dosaku, hidupku pun bersih
Kaupanggil diriku, supaya kukenal iman,
harapan yang teguh dan kasihMu kekal.
PEMBACAAN KITAB MAZMUR 29
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
DOA PEMBUKA DAN FIRMAN
PEMBACAAN ALKITAB
1 Sam. 7: 3-17, Kis. 9: 19b-31
RENUNGAN
Suara Tuhan Selalu membawa kehidupan
Hidup orang percaya tidak pernah lepas dari suara-suara yang mempengaruhi arah hidup: suara ketakutan, suara masa lalu, suara ancaman, bahkan suara diri sendiri. Tidak semua suara membawa kehidupan; tidak semua suara patut ditaati.
Di tengah keramaian suara itu, Alkitab hari ini mengajak kita untuk kembali mendengarkan suara Tuhan—suara yang penuh kuasa, memanggil kepada pertobatan, dan memberi damai serta kekuatan bagi umat-Nya.
Mazmur 29, 1 Samuel 7, dan Kisah Para Rasul 9 menolong kita melihat bahwa ketika umat mendengar dan taat pada suara Tuhan, hidup dipulihkan, umat diteguhkan, dan gereja dibangun.
Suara Tuhan yang Berkuasa dan Memberi Damai (Mazmur 29)
Mazmur 29 menggambarkan suara Tuhan yang menggelegar seperti guruh, menguasai alam semesta, merobohkan yang kuat, dan mengguncang padang gurun. Suara Tuhan bukan suara lembut yang mudah diabaikan, tetapi suara yang penuh kuasa dan kemuliaan.
Namun mazmur ini tidak berakhir pada kedahsyatan semata. Pada akhirnya dikatakan:
Tuhan memberkati umat-Nya dengan damai sejahtera.
Kuasa Tuhan bukan untuk menakut-nakuti umat-Nya, melainkan untuk memulihkan dan meneguhkan mereka.
Mendengar Suara Tuhan berarti Bertobat dan Berbalik (1 Samuel 7:3–17)
Bangsa Israel telah lama hidup dalam ketidaksetiaan. Samuel memanggil mereka untuk sungguh-sungguh berbalik kepada Tuhan: meninggalkan berhala dan mengarahkan hati hanya kepada Tuhan.
Ketika bangsa itu taat dan berseru kepada Tuhan, Tuhan sendiri yang bertindak. Orang Israel tidak menang karena kekuatan mereka, melainkan karena Tuhan menyuarakan guruh-Nya yang dahsyat terhadap musuh-musuh mereka.
Samuel mendirikan batu Eben-Haezer sebagai tanda pengakuan iman:
“Sampai di sini Tuhan menolong kita.”
Mendengar suara Tuhan selalu menuntut respons nyata: pertobatan, ketaatan, dan pengakuan atas pertolongan-Nya.
Suara Tuhan yang Mengubah dan Membangun Gereja (Kisah Para Rasul 9:19b–31)
Saulus yang dahulu menjadi penganiaya gereja kini menjadi pemberita Injil. Perjumpaannya dengan Kristus mengubah seluruh arah hidupnya. Namun perubahan itu tidak langsung diterima dengan mudah; ia menghadapi ketakutan dan penolakan.
Di sinilah suara Tuhan bekerja melalui komunitas iman. Barnabas menjadi jembatan penerimaan, dan gereja belajar berjalan dalam takut akan Tuhan dan penghiburan Roh Kudus.
Hasilnya, gereja bukan hanya bertahan, tetapi bertumbuh dan diteguhkan.
Suara Tuhan tidak hanya mengubah pribadi, tetapi juga membangun persekutuan.
Firman Tuhan hari ini menegaskan bahwa suara Tuhan selalu membawa kehidupan.
Mazmur 29 mengingatkan kita bahwa suara Tuhan penuh kuasa dan kemuliaan.
1 Samuel 7 menunjukkan bahwa suara Tuhan memanggil kepada pertobatan dan menghadirkan pertolongan.
Kisah Para Rasul 9 memperlihatkan bahwa suara Tuhan mengubahkan hidup dan membangun gereja.
Di tengah banyaknya suara di dunia ini, marilah kita kembali membuka hati untuk mendengar suara Tuhan dan meresponsnya dengan iman dan ketaatan.
Sebab di sanalah kita menemukan kekuatan, pemulihan, dan damai sejahtera yang sejati.
DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang saling mendukung dalam suka dan duka.
NYANYIAN PENUTUP
- 33 – SuaraMu Kudengar
Kaubuat meresap karyaMu dalamku;
kuasa dosa pun lenyap, diganti rahmatMu.
Reff:
Aku datanglah, Tuhan, padaMu;
Dalam darahMu kudus sucikan diriku.
Ya Yesus, Kau beri jaminanMu tetap:
kepada orang beriman janjiMu akan genap!
Terpuji penebus, terpuji darahNya,
Terpuji Kristus, Tuhanku, dalamNya ‘ku benar!

Komentar Anda